JAKARTA, AFU.ID — Presiden Amerika Serikat Donald Trump ternyata menggunakan cara tak biasa untuk menghindari ancaman pembunuhan saat meninggalkan Turki. Trump diam-diam dipindahkan dari pesawat kepresidenan menggunakan kendaraan katering bandara, kemudian diterbangkan dengan pesawat militer lain. Operasi pengamanan Trump kali ini mirip seperti adegan dalam film Hollywood. Peristiwa tersebut terjadi setelah Trump menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki, pada 8 Juli 2026.
Awalnya, Trump terlihat naik ke pesawat kepresidenan Air Force One di hadapan wartawan. Namun, tidak lama setelah itu, Trump diam-diam keluar dari pesawat. Peristiwa ini terungkap setelah beberapa media melaporkan operasi rahasia ini. Mengutip laporan The Washington Post, Trump kemudian dibawa menggunakan kendaraan katering bandara menuju pesawat militer C-32A.
Kendaraan tersebut membawa Trump menuju pesawat yang berada di lokasi berbeda dari Air Force One. Cara itu dilakukan untuk menyamarkan keberadaan Trump di tengah ancaman pembunuhan yang dikaitkan dengan Iran. Pesawat C-32A kemudian menerbangkan Trump menuju Inggris. Sementara itu, Air Force One tetap terbang membawa wartawan dan sejumlah staf Gedung Putih.
Dengan demikian, Air Force One digunakan sebagai pesawat pengalih. Para wartawan yang berada di dalamnya tidak mengetahui bahwa Trump telah dipindahkan ke pesawat lain. Ancaman tersebut disebut cukup serius sehingga perjalanan Trump harus dirahasiakan. Gedung Putih juga tidak memberikan seluruh detail mengenai operasi pengamanan tersebut.
Saat berada di dalam Air Force One, para wartawan bahkan diminta menutup tirai jendela selama penerbangan. Ketika ditanya mengenai alasan tirai harus ditutup, Trump mengatakan penerbangan tersebut kemungkinan berbahaya. "Kalian mungkin berada dalam penerbangan yang berbahaya," kata Trump.
Trump kemudian menyinggung ancaman terhadap dirinya dan mengatakan wartawan yang berada dalam pesawat bersamanya juga menghadapi risiko. "Kalau saya pergi, kalian juga pergi, kan?" ujar Trump kepada wartawan.
Pesawat C-32A yang membawa Trump kemudian tiba di Inggris. Tidak lama berselang, Air Force One yang membawa rombongan wartawan juga mendarat. Trump kemudian kembali muncul dari Air Force One dan turun dari tangga pesawat di hadapan wartawan. Ia bahkan sempat melambaikan tangan sehingga seolah-olah baru saja melakukan perjalanan menggunakan pesawat tersebut dari Turki.
Operasi tersebut membuat keberadaan Trump selama perjalanan berhasil disamarkan. Publik dan wartawan yang mengikuti perjalanan resmi presiden pun tidak mengetahui bahwa Trump telah dipindahkan ke pesawat lain. Laporan tersebut juga menyebut penggunaan pesawat pengalih bukan merupakan strategi baru. Cara serupa pernah digunakan pada masa Presiden Bill Clinton untuk menyamarkan keberadaan presiden ketika melakukan perjalanan ke wilayah yang dianggap berisiko.
Gedung Putih menyatakan berbagai langkah pengamanan dapat dilakukan untuk melindungi Trump dari ancaman. Sementara itu, aparat keamanan AS masih terus melakukan penilaian terhadap ancaman yang ditujukan kepada Trump, terutama di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. (EER)