JAKARTA, AFU.ID — Ribuan warga Israel dari kelompok sayap kanan memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur dan menggelar doa serta ritual Yahudi. Aksi tersebut memicu kekhawatiran Yordania karena dinilai dapat mengubah status quo kawasan suci yang selama ini hanya mengizinkan umat Islam beribadah di kompleks tersebut. Pemerintah Yordania kemudian menggelar pertemuan darurat dengan sejumlah negara Arab dan muslim untuk membahas situasi tersebut.
Aksi masuk ke kompleks Al-Aqsa terjadi pada 23/07/26 ketika lebih dari 2.000 warga Israel yang sebagian besar berasal dari kelompok pemukim sayap kanan memasuki kawasan yang oleh umat Yahudi disebut sebagai Temple Mount atau Bukit Bait Suci. Mereka melakukan doa dan ritual di berbagai area kompleks Masjid Al-Aqsa dan Kubah Batu. Pemerintah Yordania menyebut tindakan itu sebagai salah satu pelanggaran terbesar terhadap aturan status quo dalam sejarah modern.
Status quo kompleks Al-Aqsa selama ini mengatur bahwa umat Islam memiliki hak untuk beribadah di kawasan tersebut, sementara pengelolaan administrasi berada di bawah Wakaf Yerusalem yang diawasi Yordania. Pemerintah Yordania menilai aktivitas ibadah kelompok Yahudi di dalam kompleks tersebut sebagai upaya mengubah aturan yang telah berlaku selama puluhan tahun. Israel sendiri menyatakan memiliki hak atas kawasan yang disebutnya sebagai Temple Mount.
Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi mengatakan perubahan terhadap status quo Al-Aqsa dapat memicu konflik keagamaan yang lebih luas. Menurutnya, Yerusalem merupakan kawasan yang sangat sensitif dan setiap perubahan terhadap tempat suci tersebut berpotensi berdampak hingga ke luar Palestina dan Yordania. Pemerintah Yordania menyebut ancaman tersebut harus menjadi perhatian komunitas internasional.
"Ini adalah ancaman yang terus-menerus dan berbahaya yang coba kami tangkal dengan segala cara yang kami miliki," kata Safadi. Ia mengatakan negaranya terus melakukan langkah diplomatik untuk memperingatkan dunia mengenai risiko dari tindakan yang dianggap mengganggu pengaturan tempat suci tersebut.
Pertemuan darurat yang digelar Yordania mempertemukan para menteri luar negeri dari sejumlah negara Liga Arab serta Turki, Indonesia, Malaysia, dan Pakistan. Pertemuan itu membahas langkah bersama untuk merespons meningkatnya aktivitas kelompok sayap kanan Israel di sekitar kompleks Al-Aqsa. Hasil pertemuan tersebut belum diumumkan saat berita ini disusun.
Kekhawatiran Yordania meningkat setelah muncul dorongan untuk melibatkan kelompok Yahudi religius dalam unit kepolisian khusus yang bertugas di kawasan Temple Mount. Situasi tersebut diperkirakan semakin sensitif menjelang hari besar Yahudi pada September, yang bertepatan dengan meningkatnya persaingan politik dalam pemilu Israel.
Kompleks Masjid Al-Aqsa menjadi salah satu titik paling rawan dalam konflik Israel-Palestina karena memiliki nilai keagamaan tinggi bagi umat Islam dan Yahudi. Bagi umat Islam, kawasan tersebut merupakan situs suci ketiga setelah Makkah dan Madinah. Sementara bagi umat Yahudi, kawasan yang sama diyakini sebagai lokasi berdirinya kuil kuno.
Hingga kini, status pengelolaan kompleks Al-Aqsa masih menjadi salah satu isu utama dalam konflik Yerusalem Timur. Yordania menegaskan akan mempertahankan perannya sebagai penjaga tempat suci tersebut, sementara aktivitas kelompok sayap kanan Israel di kawasan itu terus memicu ketegangan baru. (RHU)