JAKARTA, AFU.ID — Gelombang panas ekstrem yang melanda Jepang menyebabkan ribuan warga harus menjalani perawatan medis akibat heatstroke atau serangan panas. Dalam sepekan hingga Minggu (2/8/2026), sebanyak 9.180 orang dilarikan ke rumah sakit, sementara tujuh orang dilaporkan meninggal dunia. Lonjakan kasus terjadi ketika suhu udara di sejumlah wilayah Jepang terus menembus 40 derajat celsius dalam beberapa pekan terakhir.
Data Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang menunjukkan, Tokyo menjadi wilayah dengan jumlah pasien heatstroke terbanyak, yakni 898 orang. Posisi berikutnya ditempati Osaka dengan 842 kasus dan Prefektur Aichi sebanyak 601 kasus, sedangkan Prefektur Kumamoto yang baru dilanda gempa bumi mencatat 309 pasien atau meningkat sekitar 40 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Dari total korban, sebanyak 3.588 orang mengalami gejala sedang hingga berat sehingga harus menjalani rawat inap, sementara 5.498 lainnya mengalami gejala ringan.
Kelompok lanjut usia menjadi yang paling rentan terdampak dalam gelombang panas kali ini. Sebanyak 5.475 pasien atau lebih dari separuh total korban merupakan warga berusia 65 tahun ke atas, disusul kelompok usia 18 hingga 64 tahun sebanyak 2.878 orang, usia 7 hingga 17 tahun sebanyak 777 orang, serta 50 anak berusia di bawah tujuh tahun. Mayoritas kasus terjadi di dalam rumah, sementara sisanya dialami saat berjalan kaki, berada di dalam kendaraan, maupun beraktivitas di ruang terbuka seperti stadion, area parkir, dan peron stasiun.
Otoritas Jepang menyebut tingginya angka heatstroke juga dipengaruhi kondisi warga di wilayah terdampak gempa bumi yang masih tinggal di tempat pengungsian atau di dalam kendaraan. Masyarakat diminta menghindari paparan panas berlebih dengan tetap berada di ruangan yang memiliki sirkulasi udara baik, mencukupi kebutuhan cairan tubuh, dan menggunakan pendingin ruangan apabila diperlukan. Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada lansia dan kelompok rentan lainnya.
Gelombang panas di Jepang telah berlangsung sejak pertengahan Juli setelah sistem tekanan tinggi menyelimuti sebagian besar wilayah negara tersebut. Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat suhu di Kota Tajimi mencapai 40,3 derajat celsius, Toyoda 40,1 derajat celsius, dan Gujo 40 derajat celsius. JMA bahkan memperkenalkan istilah kokushobi, yakni hari ketika suhu mencapai sedikitnya 40 derajat celsius, sebagai peringatan atas meningkatnya risiko cuaca panas ekstrem.
JMA memperkirakan suhu tinggi masih berpotensi bertahan di sejumlah wilayah dalam beberapa waktu ke depan. Kondisi tersebut dipicu menghangatnya massa udara di permukaan dan atmosfer akibat dominasi sistem tekanan tinggi yang telah berlangsung sejak 19 Juli 2026. Pemerintah Jepang pun terus mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan risiko heatstroke, terutama saat beraktivitas di luar ruangan maupun ketika berada di dalam rumah. (RAI)