JAKARTA, AFU.ID — Karier politik Donald Trump menukik tajam menjelang pertengahan periode kedua masa jabatannya. Elektabilitas Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45 dan ke-47 itu runtuh akibat ketidakpercayaan dari mayoritas rakyatnya.
Melansir Times Now, Rabu (10/6/2026), kebijakan luar negeri dan pengelolaan ekonomi menjadi alasan utamanya. Pasalnya, terjadi lonjakan harga komoditas energi akibat eskalasi militer di Timur Tengah yang tak kunjung mereda.
Hasil jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos memaparkan potret buruk apresiasi publik terhadap Presiden Trump. Sebanyak 70% responden menyatakan tidak setuju dengan cara sang Kepala Negara menangani lonjakan biaya hidup masyarakat. Sebaliknya, hanya sekitar 22% warga AS yang memberi penilaian positif.
Angka kepuasan tersebut lebih rendah ketimbang rapor Joe Biden ketika akhir masa jabatannya pada Januari 2025 silam. Kala itu, Ia mencatatkan penilaian negatif sebesar 63% dan dukungan 29%.
Menukil The Independent, kegagalan mengendalikan inflasi pascapandemi sempat menggusur Partai Demokrat dari Gedung Putih pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Kini, Trump bersama Partai Demokrat justru menghadapi badai politik serupa akibat keputusannya melancarkan agresi militer.
Krisis kepercayaan warga AS semakin kuat oleh indikator riset berbeda dari lembaga penilai opini lainnya. Survei teranyar The Economist/YouGov menunjukkan, penanganan ekonomi oleh pemerintahan Donald Trump telah mencapai titik nadir baru.
Hanya sekitar 29% masyarakat Paman Sam menyetujui kebijakan finansial kabinet, adapun 63% lainnya menyatakan tidak setuju. Hasil itu menempatkan tingkat kepuasan bersih bursa ekonomi Trump berada di angka -34%, yang merupakan rekor terburuk dari dua masa kepemimpinannya di Gedung Putih.
Realitas tersebut berbanding terbalik dengan periode jabatan pertama Donald Trump pada 2017-2021. Yang mana, performa kuantitatif ekonomi pemerintahannya selalu mendapatkan sentimen positif dari mayoritas warga AS.
Lonjakan harga barang kebutuhan pokok dan pasokan energi menjadi faktor determinan di balik kemarahan kolektif masyarakat. Berdasarkan Indeks Harga Konsumen (CPI), tingkat inflasi tahunan pada April 2026 melonjak hingga menyentuh angka 3,8% (tertinggi dalam tiga tahun terakhir).
Komoditas energi mengalami kenaikan biaya sebesar 3,8%, lalu sektor pangan yang merangkak naik 0,5% dalam basis bulanan. Inflasi ekstrem itu bermula ketika Trump memerintahkan serangan militer bersama Israel ke Iran pada 28 Februari 2026.
Konflik bersenjata tersebut berujung aksi blokade Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi seperlima dari total perdagangan minyak mentah global. Dampaknya, harga bahan bakar melonjak drastis dari angka USD2,98 menjadi rata-rata USD4,16 per galon menurut data klub otomotif AAA, bahkan sempat melampaui USD4,50 per galon pada Mei 2026 kemarin.
Mayoritas warga AS menilai intervensi militer tersebut sebagai kegagalan taktis yang merugikan kepentingan domestik pembayar pajak. Hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan, 60% responden menentang keras serangan udara ke Iran dan hanya 25% yang percaya manfaat perang tersebut sebanding dengan biaya operasionalnya.
Secara umum, peringkat persetujuan total kinerja Trump mandek di angka 35%, mendekati rekor terburuk 33% pada Desember 2017. Kondisi itu menciptakan lanskap politik yang sangat merugikan bagi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu legislatif pada November 2026 mendatang.
Jika pemilu diadakan hari ini, para pemilih terdaftar mengaku akan lebih memilih kandidat dari Partai Demokrat dengan keunggulan 41% berbanding 37% untuk Partai Republik. Pakar strategi veteran Karl Rove memeringatkan, pesan komunikasi Presiden Trump yang tak menentu perihal perang Iran dan pengabaian terhadap kesulitan ekonomi harian rakyat, dapat memicu kekalahan telak bagi barisan anggota parlemen konservatif di kongres.
Merespons gelombang kritik, pihak Gedung Putih berdalih tindakan militer Donald Trump demi mengamankan keamanan nasional dari ancaman program nuklir Iran. Mereka mengeklaim harga bensin domestik akan langsung anjlok kembali ke level USD1,85 per galon tak lama operasi militer di Timur Tengah dinyatakan selesai.
Akan tetapi, prospek perdamaian global kian tidak menentu usai sebuah helikopter Apache milik militer AS dilaporkan ditembak jatuh oleh pertahanan lawan di kawasan Selat Hormuz, Senin (8/6/2026) kemarin. Insiden bersenjata itu menekan stabilitas gencatan senjata yang rapuh, sekaligus mempersulit jalannya negosiasi diplomatik antarnegara. (ADR)