JAKARTA, AFU.ID — Korea Utara mempercepat produksi senjata nuklir dan berbagai perlengkapan militer strategis di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Langkah tersebut menegaskan ambisi Pyongyang mempertahankan statusnya sebagai negara bersenjata nuklir.
Perintah itu disampaikan langsung oleh pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, dalam rapat Partai Pekerja Korea yang digelar akhir pekan lalu. Selain memperkuat arsenal nuklir, Kim juga meminta percepatan pembangunan kapal perusak berbobot 10.000 ton yang dilengkapi sistem peluncur rudal.
Menurut kantor berita Korea Utara, KCNA, penguatan militer dianggap sebagai respons terhadap situasi keamanan internasional yang dinilai semakin tidak stabil. Pyongyang menuding negara-negara besar terus memperluas konfrontasi di berbagai kawasan dunia.
“Berbagai peristiwa yang tidak dapat diperkirakan terus terjadi karena perilaku gangster dari kekuatan hegemoni dunia melakukan konfrontasi di seluruh dunia,” kata Kim seperti dikutip KCNA, Selasa (23/6/2026).
Dalam pidatonya, Kim kembali menyoroti peran Amerika Serikat di sejumlah kawasan konflik, termasuk Eropa dan Timur Tengah. Korea Utara selama ini secara konsisten menuduh Washington sebagai salah satu sumber utama ketidakstabilan global.
Meski memerintahkan percepatan produksi senjata nuklir, Kim tidak menjelaskan secara rinci bentuk pengembangan yang akan dilakukan. Sejumlah laporan menyebut Korea Utara telah memiliki beberapa hulu ledak nuklir serta cadangan uranium yang cukup untuk memproduksi senjata tambahan.
Selain nuklir, Pyongyang juga terus mengembangkan berbagai sistem persenjataan konvensional. Dalam beberapa tahun terakhir Korea Utara memperkenalkan rudal balistik antarbenua, tank tempur baru, hingga kapal perang berkemampuan peluncuran rudal.
KCNA menyebut Kim secara khusus menyoroti peningkatan kekuatan militer Amerika Serikat dan Korea Selatan di kawasan. Salah satu perhatian utama adalah rencana Seoul mengembangkan kapal selam bertenaga nuklir sebagai bagian dari modernisasi pertahanannya.
Menurut Korea Utara, peningkatan kemampuan militer negara-negara sekutu Amerika Serikat berpotensi memperkeruh stabilitas kawasan Asia Timur. Karena itu, penguatan kemampuan nuklir dinilai sebagai langkah yang tidak dapat ditawar.
“Dengan terus mengembangkan dan memperkuat persenjataan nuklir dan latihan penggunaan senjata nuklir, kita meneguhkan posisi negara di tengah ketidakpastian militer dan politik dunia yang semakin rumit,” ujar Kim.
Rapat partai yang digelar pekan lalu juga menegaskan status Korea Utara sebagai negara nuklir merupakan strategi utama menghadapi dinamika geopolitik global. Posisi tersebut kembali dipertegas bahkan saat negara itu masih menghadapi berbagai sanksi internasional, seperti Sanksi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan beberapa negara menekan perekonomian Korea Utara.
Sejak 2019, Pyongyang berulang kali menolak usulan pelucutan senjata nuklir. Korea Utara bahkan tetap mempertahankan program nuklirnya meski ditawari berbagai insentif, termasuk kemungkinan pelonggaran sanksi ekonomi.
Di tengah tekanan internasional, ekonomi Korea Utara justru menunjukkan tanda-tanda perbaikan dalam beberapa tahun terakhir. Dukungan perdagangan dari China dan kerja sama yang semakin erat dengan Rusia menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi negara tersebut.
Laporan The Wall Street Journal pada awal Juni menyebut produk domestik bruto Korea Utara tumbuh 3,7 persen sepanjang 2025. Angka tersebut menjadi pertumbuhan ekonomi tertinggi yang dicatat Pyongyang dalam delapan tahun terakhir.
Peningkatan aktivitas ekonomi terlihat dari pembangunan apartemen baru di Pyongyang, meluasnya penggunaan pembayaran digital, hingga pembangunan kawasan wisata mewah di dekat perbatasan China. Bersamaan dengan itu, hubungan dagang Korea Utara dan China terus meningkat, sementara ekspor senjata ke Rusia menjadi salah satu sumber pemasukan penting bagi rezim Kim Jong Un. (ANT/RAI)