JAKARTA, AFU.ID - Kunjungan kenegaraan Presiden China Xi Jinping ke Pyongyang menjadi perhatian di tengah upaya Beijing dan Korea Utara memperkuat hubungan bilateral serta dinamika keamanan kawasan.
Xi dijadwalkan bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam kunjungan dua hari mulai Senin. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan kunjungan itu dilakukan atas undangan Kim.
Kunjungan tersebut menjadi perjalanan pertama Xi ke Korea Utara dalam tujuh tahun. Terakhir kali Xi mengunjungi Pyongyang pada 2019, sekaligus menjadi presiden China pertama dalam 14 tahun yang datang ke negara itu.
Beijing menyebut kunjungan ini bertujuan memperdalam hubungan kedua negara, mendorong pembangunan, serta berkontribusi pada “perdamaian, stabilitas, pembangunan, dan kemakmuran di kawasan dan dunia pada umumnya.”
Xi dan Kim terakhir bertemu pada September, saat Kim menghadiri parade militer China di Beijing untuk memperingati ulang tahun ke-80 Hari Kemenangan China.
Kunjungan ini berlangsung di tengah menguatnya hubungan Pyongyang dan Moskow setelah penandatanganan Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif pada 2024. Perjanjian itu mencakup komitmen pertahanan bersama.
Sebelumnya, Xi juga menerima kunjungan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing secara terpisah. Setelah pertemuan Xi dan Trump, Gedung Putih menyebut keduanya menegaskan kembali tujuan bersama untuk denuklirisasi Korea Utara.
Namun, Beijing belum merinci pembahasan tersebut. China hanya menyatakan akan berupaya dengan “caranya sendiri” menuju “penyelesaian politik” masalah nuklir Korea Utara.
Di sisi lain, Kim Yo-jong, saudara perempuan Kim Jong Un, menegaskan status Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir “sama sekali tidak dapat diubah”. Ia juga menyebut program nuklir negaranya “tidak dapat dinegosiasikan.”
Pernyataan itu muncul setelah Kim Jong Un berjanji memperluas kemampuan nuklir Korea Utara “dengan laju berkali-kali lipat” dan kembali menegaskan status nuklir negaranya “tidak dapat diubah.”
Kunjungan Xi juga memunculkan spekulasi soal kemungkinan peran China dalam menjembatani komunikasi antara Trump dan Kim Jong Un.
China selama ini menjadi mitra ekonomi terpenting Korea Utara. Perdagangan kedua negara naik menjadi 2,79 miliar dolar AS atau sekitar Rp50,4 triliun pada tahun lalu, tertinggi sejak pandemi COVID-19 dan mendekati level sebelum pandemi pada 2019.
Hubungan transportasi kedua negara juga mulai pulih. Layanan kereta penumpang China-Korea Utara kembali beroperasi pada Maret setelah terhenti enam tahun akibat pandemi, disusul kembalinya penerbangan langsung Air China antarkedua ibu kota.
Tahun ini juga menandai 65 tahun Perjanjian Persahabatan, Kerja Sama, dan Bantuan Timbal Balik China-Korea Utara, satu-satunya pakta pertahanan China dengan negara lain. (ANT/FAD)