JAKARTA, AFU.ID — Korban tewas akibat gempa magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, bertambah menjadi 34 orang. Lima orang masih dinyatakan hilang dan sedikitnya 89 lainnya terluka, sementara tim penyelamat terus menyisir pabrik, pusat perbelanjaan, dan bangunan yang rusak.
Dampak gempa tidak berhenti pada korban jiwa. Hampir 80 ribu rumah tangga mengalami gangguan pasokan air, sedangkan sekitar 18.910 rumah tangga masih hidup tanpa listrik. Sebanyak 9.450 warga bertahan di lebih dari 400 tempat pengungsian di tengah cuaca panas.
Korban terbesar ditemukan di Kota Yatsushiro, termasuk pekerja di pabrik Nippon Paper Industries yang terdampak runtuhnya cerobong. Korban lain ditemukan di Kashima setelah ledakan dan keruntuhan sebagian bangunan pusat perbelanjaan Aeon menyusul guncangan kuat. Operasi pencarian di kedua lokasi masih berlangsung.
Seorang peserta pelatihan asal Vietnam juga dilaporkan tewas setelah tertimpa alat berat di sebuah pabrik di Kosa. Pemerintah masih mencocokkan identitas dan lokasi sejumlah korban karena laporan dari kepolisian, pemadam kebakaran, pemerintah kota, dan pemerintah prefektur masuk melalui jalur berbeda.
Gempa terjadi pada Selasa (28/7/26) pukul 16.27 waktu setempat dengan kedalaman sekitar 16 kilometer. Guncangannya mencapai tingkat maksimum tujuh pada skala intensitas Jepang di Uki dan Hikawa, tingkat yang membuat orang kesulitan berdiri maupun bergerak tanpa merangkak.
Badan Meteorologi Jepang meminta masyarakat tetap menjauhi bangunan rusak dan kawasan rawan longsor. Warga di daerah terdampak juga diminta mewaspadai gempa berkekuatan serupa selama sekitar satu pekan karena aktivitas susulan masih berlangsung.
Gempa tersebut turut melumpuhkan transportasi di Pulau Kyushu. Perjalanan kereta cepat Kyushu Shinkansen terganggu, sejumlah ruas jalan ditutup, dan pemeriksaan terhadap jembatan serta rel masih dilakukan sebelum layanan dapat kembali beroperasi penuh.
Pemerintah Jepang mengerahkan pasukan bela diri, polisi, pemadam kebakaran, dan tim bantuan dari sejumlah prefektur. Selain pencarian korban, petugas mendistribusikan air, makanan, serta perlengkapan untuk mencegah warga mengalami dehidrasi dan serangan panas di pengungsian.
Jumlah korban masih dapat bertambah karena pencarian belum selesai dan beberapa orang belum ditemukan. Gempa Kumamoto kini tidak hanya menjadi bencana bangunan runtuh, tetapi juga krisis kebutuhan dasar bagi ribuan warga yang kehilangan air, listrik, dan tempat tinggal. (RHU)