JAKARTA, AFU.ID — Sekitar 50–60 ribu migran asal Maroko dilaporkan memasuki Kota Ceuta dalam waktu satu hari, menurut otoritas setempat dan Kementerian Dalam Negeri Spanyol. Jumlah tersebut setara hampir 70 persen dari populasi wilayah Spanyol di Afrika Utara itu. Lonjakan kedatangan ini memicu krisis keamanan dan kemanusiaan, dengan sedikitnya 30-an orang dilaporkan tewas dalam upaya menyeberang perbatasan.
Situasi mulai memanas sejak Kamis (30/7/26), ketika ribuan pemuda Maroko berkumpul di sepanjang garis perbatasan. Ratusan orang dilaporkan berhasil menerobos pagar dan masuk ke wilayah Ceuta, sementara sebagian lainnya terjebak di laut dan di area perbatasan yang dijaga ketat. Fasilitas kota langsung kewalahan menghadapi arus masuk dalam jumlah besar.
Wali Kota Ceuta Juan Jesús Vivas menyebut angka kedatangan tersebut sebagai “lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya” dan menegaskan bahwa kota tidak memiliki kapasitas untuk menangani situasi sebesar itu. Pemerintah daerah telah meminta dukungan darurat dari Madrid untuk memperkuat pengamanan dan penanganan migran yang sudah berada di dalam kota.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menyebut peristiwa ini bukan lagi sekadar persoalan migrasi, melainkan krisis keamanan perbatasan. Ia menegaskan bahwa masuknya puluhan ribu orang secara serentak menunjukkan adanya tekanan terorganisir di perbatasan selatan Eropa. “Ini adalah situasi yang menguji kedaulatan dan kapasitas negara kami dalam menjaga perbatasan,” kata Sánchez, Jumat (31/7/26).
Pemerintah Spanyol kemudian mengerahkan sekitar 400 personel tambahan ke Ceuta dan memperkuat patroli di sepanjang garis perbatasan. Otoritas juga mulai memasang penguatan pagar serta sistem pengawasan baru untuk mencegah gelombang kedatangan berikutnya. Militer dilaporkan turut dikerahkan untuk membantu pengamanan.
Krisis ini turut memicu kekhawatiran di tingkat Eropa. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni disebut mempertimbangkan langkah luar biasa, termasuk pengetatan sementara pemeriksaan perbatasan dengan Spanyol. Langkah tersebut dikhawatirkan dapat berdampak pada kebebasan perjalanan di kawasan Schengen.
Ceuta merupakan wilayah Spanyol yang berada di pesisir Afrika Utara dan berbatasan langsung dengan Maroko. Bersama Melilla, kota ini menjadi salah satu pintu darat utama migrasi dari Afrika menuju Uni Eropa. Kondisi geografis tersebut membuat Ceuta kerap menjadi titik tekanan migrasi dalam jumlah besar.
Hingga Jumat malam, proses pendataan korban dan migran yang berhasil masuk masih berlangsung. Pemerintah Spanyol belum memastikan berapa lama status siaga dan penambahan pasukan akan diberlakukan di wilayah tersebut. (RHU)