JAKARTA AFU.ID — Badan Pertahanan Sipil Filipina (OCD) memverifikasi 45 korban tewas akibat gempa bermagnitudo 7,8 yang mengguncang Mindanao pada Senin (8/6/2026). Data tersebut masih terus diperbarui seiring proses pendataan di lapangan.
Deputi Administratur Bidang Administrasi OCD, Bernardo Rafaelito Alejandro IV, mengatakan korban jiwa tersebar di beberapa wilayah terdampak. “Sebanyak 18 korban tewas dilaporkan berada di Sarangani, 15 di Cotabato Selatan, 11 di Davao Occidental, dan satu di Davao del Sur,” kata Alejandro, Rabu (10/6/2026).
Selain korban tewas, pemerintah juga masih memverifikasi laporan 17 orang hilang, yang terdiri atas 13 orang di Davao Occidental dan empat lainnya di General Santos City. Sementara itu, jumlah korban luka tercatat mencapai sekitar 630 orang dan masih berpotensi berubah.
Badan Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana Filipina (NDRRMC) melaporkan sedikitnya 33.596 keluarga atau 149.372 warga terdampak gempa di berbagai wilayah Mindanao. Wilayah terdampak mencakup Semenanjung Zamboanga, Davao, Soccsksargen, hingga Daerah Otonomi Bangsamoro. Dari jumlah tersebut, ribuan warga telah dievakuasi ke berbagai titik pengungsian.
Sebanyak 8.813 keluarga berada di 57 pusat evakuasi, sementara ribuan lainnya mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat maupun lokasi aman lain. Kerusakan infrastruktur juga tercatat cukup luas dengan 2.499 rumah mengalami kerusakan sebagian dan 495 rumah rusak total. Kerusakan itu tersebar di sejumlah wilayah seperti Zamboanga, Davao, dan Soccsksargen.
Sementara itu, operasi pencarian dan penyelamatan terus diperkuat dengan keterlibatan militer Filipina. Angkatan Darat Filipina mengerahkan tim Urban Search and Rescue (USAR) serta ratusan personel tambahan ke wilayah terdampak, terutama General Santos City yang mengalami kerusakan parah.
Juru Bicara Angkatan Darat Filipina, Kolonel Louie Dema-ala, mengatakan pengerahan pasukan dilakukan secara terkoordinasi bersama lembaga pemerintah lain. Ia menyebut ratusan personel dan puluhan kendaraan telah disiagakan untuk mempercepat proses evakuasi dan penanganan darurat. (ANT/RAI)