AFU.ID - Menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait pembukaan Selat Hormuz, Kementerian Olahraga dan Pemuda Iran menyerukan para pemuda, termasuk atlet, seniman, dan mahasiswa, untuk membentuk "rantai manusia" di sekitar area pembangkit listrik di seluruh negeri. Aksi simbolis ini dilakukan sebagai bentuk perlindungan terhadap ancaman serangan infrastruktur.
Mengutip dari Times Now News, Deputi Urusan Pemuda Iran, Alireza Rahimi, menyatakan bahwa inisiatif yang dijadwalkan berlangsung pada pukul 14.00 waktu setempat ini murni berasal dari usulan kalangan muda.
"Sejumlah mahasiswa, seniman muda, dan organisasi kepemudaan mengusulkan agar kita membentuk cincin atau rantai manusia di sekitar pembangkit listrik di seluruh negeri," ujar Rahimi.
Ia menambahkan bahwa aksi bertajuk 'Rantai Manusia Pemuda Iran untuk Masa Depan yang Cerah' ini merupakan simbol komitmen generasi muda dalam menjaga infrastruktur negara.
Pengerahan massa ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang kian memanas. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali blokade Selat Hormuz selambat-lambatnya pada hari Selasa, 7 April 2026, pukul 20.00 Waktu Timur (ET).
Masih mengutip Times Now News, Trump secara terang-terangan mengancam akan menghancurkan infrastruktur utama Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik, apabila tenggat waktu tersebut diabaikan.
"Maksud saya, penghancuran total menjelang pukul 12. Dan itu akan terjadi dalam kurun waktu empat jam jika kami menghendakinya," tegas Trump merujuk pada potensi serangan udara.
Selama akhir pekan, ia juga kembali mengulang ancaman tersebut di berbagai kesempatan. Meski serangan terhadap fasilitas sipil seperti pembangkit listrik berpotensi melanggar hukum internasional dan dikategorikan sebagai kejahatan perang, Trump menepis kekhawatiran tersebut.
Dalam konferensi persnya, ia menegaskan "sama sekali tidak" khawatir mengenai isu pelanggaran kejahatan perang terkait rencana serangannya.
Ketegangan di jalur perairan strategis ini berakar dari langkah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran yang mendeklarasikan perubahan tatanan permanen di Teluk Persia.
IRGC berencana menerapkan serangkaian kebijakan baru di Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan energi global, yang mencakup pengenaan biaya transit kapal serta larangan melintas bagi kapal-kapal milik AS dan Israel. (fad/asw)