JAKARTA, AFU.ID - Sebanyak 300 migran asal Kurdistan dan Irak, menjadi korban penyekapan dan penyiksaan keji oleh kelompok milisi bersenjata di Libya saat tengah dalam perjalanan menuju Inggris. Peristiwa mengerikan ini dilaporkan terjadi dalam rentang waktu Juni hingga Agustus 2025 lalu.
Para penculik diketahui memanfaatkan para migran sebagai sandera untuk memeras keluarga mereka. Milisi tersebut meminta uang tebusan sebesar USD 5.000 atau sekitar Rp90 juta per orang. Jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, mereka mengancam akan mengangkat ginjal para sandera secara paksa untuk dijual di pasar gelap.
Laporan dari BBC bahkan menemukan bukti fisik berupa bekas luka operasi pada beberapa sandera yang telah dibebaskan, memperkuat dugaan praktik mutilasi organ tersebut benar-benar terjadi.
Berdasarkan laporan BBC terkini, satu orang korban dikonfirmasi tewas di dalam sekapan. Sementara itu, sejumlah kesaksian yang dihimpun dari para korban selamat mengungkapkan para penculik menyekap para migran dalam kondisi fasilitas yang sangat ekstrem dan jauh dari standar kemanusiaan.
Seorang anak yang baru berusia 16 tahun mengaku dipaksa berjejal bersama 178 tahanan lain di dalam sebuah sel yang sempit dan gelap gulita. Akibat isolasi ketat tersebut, remaja ini mengaku tidak pernah melihat sinar matahari selama 6 bulan berturut-turut.
Selain itu, salah seorang pemuda korban selamat membeberkan tindakan keji para penculik yang tega membakar kakinya sebagai upaya untuk menekan pihak keluarga agar segera mengirimkan uang tebusan.
Lebih lanjut, untuk membersihkan diri, ratusan tahanan harus mengantre panjang untuk menggunakan satu-satunya toilet yang tersedia. Para sandera yang dianggap terlalu lama di dalam kamar mandi akan langsung dijatuhi hukuman pukulan fisik oleh para penjaga.
Jaringan Kriminal di Balik Penyekapan
Aksi keji ini diduga kuat didalangi oleh kelompok milisi yang terafiliasi dengan Noah Aaron, seorang gembong penyelundup manusia yang saat ini tengah mendekam di penjara Prancis. Awalnya, milisi ini bertindak sebagai pemandu jalan bagi para migran untuk menyeberangi Laut Mediterania menuju Eropa.
Namun, setibanya di Libya, terjadi perselisihan pembayaran antara milisi tersebut dengan Noah Aaron yang berujung pada pembatalan perjalanan dan penyanderaan para migran.
Anthony Dunkerley, seorang penasihat PBB, menjelaskan kekosongan kekuasaan di Libya sejak runtuhnya rezim Muammar Gaddafi pada 2011 telah mengubah negara tersebut menjadi jalur utama jaringan perdagangan manusia global.
Kendati bahaya besar mengintai, pemerintah Kurdistan Irak mengakui arus migrasi ilegal warganya menuju Eropa masih sulit untuk dibendung. (NAD)