JAKARTA, AFU.ID — Sejumlah migran yang memasuki wilayah Ceuta tanpa izin dilaporkan bersembunyi di berbagai lokasi untuk menghindari pemulangan ke Maroko. Mereka ditemukan di bawah jembatan, atap bangunan, taman, pantai, saluran pembuangan, dan sejumlah tempat tertutup lainnya. Ratusan migran masih berada di kawasan pesisir serta jalan-jalan dekat perbatasan Tarajal.
Koresponden RIA Novosti melaporkan para migran menyebar dalam kelompok-kelompok kecil di berbagai wilayah Ceuta. Kondisi tersebut membuat aparat keamanan kesulitan menemukan seluruh orang yang masuk tanpa melalui pemeriksaan perbatasan. Pemerintah Spanyol telah menambah personel kepolisian, Garda Sipil, dan militer untuk melakukan patroli serta pemeriksaan identitas.
Jumlah migran yang berada di jalanan dan kawasan pesisir dilaporkan lebih banyak dibandingkan personel patroli yang dikerahkan. Banyak dari mereka terlihat kelelahan dan hanya membawa kantong kecil berisi makanan kering. Sebagian mendatangi pejalan kaki untuk meminta makanan dan uang.
Warga setempat mulai menghindari kawasan pesisir di sekitar pos perbatasan Tarajal. Aparat keamanan masih berjaga di sejumlah titik setelah terjadi lonjakan kedatangan migran dari wilayah Maroko. Situasi di sekitar perbatasan juga masih menjadi perhatian pemerintah daerah Ceuta.
Wali Kota Ceuta Juan Jesús Vivas mengatakan sekitar 60.000 orang memasuki wilayah tersebut dalam waktu 24 jam pada akhir Juli 2026. Kedatangan dalam jumlah besar itu berlangsung melalui jalur darat dan kawasan pesisir yang berbatasan dengan Maroko. Pemerintah Spanyol kemudian meningkatkan pengamanan di wilayah tersebut.
Lonjakan kedatangan migran memicu kerusuhan di sejumlah lokasi di Ceuta. Pemerintah Spanyol mengerahkan tambahan personel kepolisian, Garda Sipil, dan militer untuk mengendalikan keadaan. Aparat juga melakukan pencarian terhadap migran yang bersembunyi serta mengatur proses pemulangan ke Maroko.
Sebagian migran memilih bertahan di Ceuta agar tidak dikembalikan melalui perbatasan Tarajal. Mereka berpindah tempat dan bersembunyi dalam kelompok kecil untuk menghindari pemeriksaan aparat. Belum diketahui jumlah pasti migran yang masih berada di wilayah tersebut.
Ceuta merupakan daerah otonom Spanyol yang berada di pesisir utara Afrika dan berbatasan langsung dengan Maroko. Bersama Melilla, wilayah tersebut menjadi satu-satunya perbatasan darat antara Uni Eropa dan Afrika. Letaknya menjadikan Ceuta sebagai salah satu jalur yang digunakan migran untuk memasuki wilayah Eropa.
Pemerintah Spanyol belum mengumumkan jumlah keseluruhan migran yang telah dipulangkan maupun yang masih bertahan di Ceuta. Operasi pengamanan dan pencarian masih dilakukan di kawasan perbatasan, jalan-jalan kota, serta wilayah pesisir. Pemerintah setempat juga belum mengumumkan kapan pengamanan tambahan akan dihentikan. (RHU)