JAKARTA AFU.ID — Sekitar 600 hektare lahan sawah di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, mengalami kekeringan akibat saluran Irigasi Jeuram mengalami pendangkalan. Pemerintah Kabupaten Nagan Raya mendesak Balai Pengairan Provinsi Aceh segera melakukan pengerukan karena kondisi tersebut mulai mengganggu pasokan air untuk lahan pertanian dan berpotensi memengaruhi musim tanam petani.
“Kami berharap pihak provinsi segera melakukan pengerukan sehingga pendangkalan akibat penumpukan sedimen pasir dan lumpur dapat segera diatasi,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Nagan Raya, Marzuki, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan debit air yang mengalir ke area persawahan menurun drastis. Jika tidak segera ditangani, aktivitas pertanian di sejumlah wilayah dikhawatirkan akan terganggu hingga berpotensi memengaruhi produktivitas pangan daerah.
Irigasi Jeuram merupakan jaringan pengairan utama yang melayani sekitar 12.000 hektare lahan pertanian di Nagan Raya. Sistem ini menyuplai kebutuhan air melalui Saluran Induk Seunagan serta sejumlah saluran sekunder yang mengairi kawasan pertanian di berbagai kecamatan.
Data Dinas Pertanian dan Peternakan Nagan Raya mencatat sekitar 600 hektare sawah di Kecamatan Kuala dan Suka Makmue mengalami kekeringan. Di Kecamatan Kuala, lahan yang mengalami kekurangan air tersebar di 11 desa, antara lain Ujong Pasi, Alue Ie Mameh, Simpang Peut, Blang Muko, Blang Bintang, Ujong Patihah, Cot Kumbang, Blang Baro, Kuta Makmue, Ujong Sikuneng, dan Pulo Ie.
Sementara di Kecamatan Suka Makmue, kekeringan terjadi di Desa Seumambek dan Desa Macah. Kedua wilayah tersebut merupakan lahan sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan dan memiliki keterbatasan sumber air alternatif saat musim kemarau.
Marzuki menegaskan Irigasi Jeuram memiliki peran vital sebagai sumber utama pengairan bagi petani di Kabupaten Nagan Raya. Karena itu, keberlangsungan sistem irigasi tersebut sangat menentukan kelancaran aktivitas pertanian di daerah tersebut.
Ia mengingatkan keterlambatan penanganan sedimentasi dapat berdampak pada musim tanam berikutnya, terutama saat petani membutuhkan pasokan air yang stabil untuk pengolahan lahan.
Selain berpotensi menurunkan hasil pertanian, kekurangan air juga dikhawatirkan memicu konflik antarpetani akibat perebutan pasokan air di tingkat lapangan. “Jika tidak segera ditangani, petani akan kesulitan mengolah lahan. Bahkan tidak menutup kemungkinan terjadi perselisihan karena saling berebut air untuk kebutuhan sawah,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Nagan Raya berharap Balai Pengairan Provinsi Aceh segera mengambil langkah konkret dengan melakukan pengerukan sedimen secara menyeluruh agar fungsi Irigasi Jeuram kembali optimal dan kebutuhan air petani dapat terpenuhi. (ANT/RAI)