JAKARTA, AFU.ID — Ratusan migran masih terdampar di Pantai Playa del Trampolín, Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara. Banyak dari mereka yang ternyata tidak memahami prosedur untuk mengajukan suaka. Situasi ini dilaporkan koresponden RIA Novosti pada Jumat (7/8/2026).
Kondisi tersebut terjadi menyusul gelombang kedatangan migran dalam jumlah besar ke Ceuta yang berbatasan langsung dengan Maroko sejak akhir Juli. Wali Kota sekaligus Presiden Ceuta, Juan Jesús Vivas, mengungkapkan sekitar 3.000 hingga 5.000 migran masih bertahan di kota tersebut.
Sebagian dari mereka yang berada di pantai telah menyatakan niat mengajukan suaka di Spanyol, namun tidak mengetahui ke mana harus pergi maupun langkah yang perlu ditempuh untuk memulai proses tersebut. Kondisi ini diperparah karena banyak migran hanya menguasai sedikit kosakata bahasa Spanyol, termasuk kata "asilo" yang berarti suaka.
Selain itu, sebagian dari mereka tidak bisa membaca maupun menulis dan tidak memiliki dokumen identitas. "Kami percaya pemerintah Spanyol tidak akan meninggalkan kami. Kami tidak ingin kembali, kami tidak punya masa depan di sana," kata seorang warga Maroko berusia 23 tahun kepada RIA Novosti.
Ia berbicara bahasa Spanyol dengan cukup lancar, sementara sekelompok besar temannya turut berkumpul di sekitarnya selama percakapan berlangsung. Ia menyebut dirinya menjadi satu-satunya orang di kelompok itu yang bisa berbahasa Spanyol, sehingga berperan membantu teman-temannya berkomunikasi dengan warga setempat dan memahami informasi yang disampaikan.
Ratusan orang telah bertahan di pantai selama beberapa hari lantaran tidak kebagian tempat di pusat penampungan sementara. Banyak yang terpaksa tidur beralaskan pasir atau kardus. Pada siang hari, mereka mencari perlindungan dari terik matahari di bawah pepohonan maupun di lereng-lereng sekitar pantai. Para migran juga mengisi botol-botol plastik dengan air dari pancuran di pantai untuk kebutuhan minum dan aktivitas sehari-hari.
Warga setempat, relawan, dan organisasi masyarakat turut membantu dengan menyalurkan makanan, pakaian, serta kebutuhan pokok lainnya. Kementerian Dalam Negeri Spanyol mencatat sekitar 72.000 orang telah memasuki Ceuta sejak akhir Juli, jumlah yang tergolong besar mengingat populasi kota tersebut hanya sekitar 85.000 jiwa. Namun demikian, sebagian besar dari para migran itu disebut telah dipulangkan. (NAD)