Jakarta, AFU.ID - Ramai di media sosial soal ziarah ke Gunung Kawi yang berada di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Narasi yang mengikuti postingan itu selalu terkait dengan urusan kemudahan dalam mendapat rezeki, atau dalam tradisi Jawa disebut sebagai ritual pesugihan. Menanggapi fenomena itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon buka suara.
Fadli Zon tidak melihat fenomena itu sebagai sesuatu aktivitas yang buruk, karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya lama yang telah melekat di masyarakat. "Gunung kawi ya, itu kan kita keberagaman kita di dalam memahami termasuk apa yang terjadi tidak hanya di Gunung Kawi dan di berbagai tempat, itu satu hal yang merupakan mozaik dari tradisi dan budaya lama," katanya di Jakarta, Senin (6/7/2027).
Menurutnya, aktivitas yang dapat memberikan manfaat ekonomi terhadap masyarakat sekitar lokasi ziarah dan menjaga ketertiban umum dengan tidak menganggu kepentingan orang lain, maka aktivitas itu patut dipahami sebagai realitas kehidupan. "Saya kira selama itu bisa memberikan kebaikan, terutama mendatangkan ekonomi budaya bagi masyarakat setempat, dan tidak mengganggu dan tidak merusak, tentu itu kita anggap sebagai realitas kehidupan kita," katanya.
Kegiatan ziarah di Gunung Kawi belakangan ramai diperbincangkan di platform media sosial menyusul konten yang mengaitkan praktik tersebut dengan upaya pesugihan. Pesarean Gunung Kawi di Kabupaten Malang merupakan makam Raden Mas Soeryo Koesoemo atau Kiai Zakaria II, yang disebut Eyang Djoego, dan Raden Mas Iman Soedjono.
Kompleks makam tersebut sering dikunjungi oleh warga. Banyak warga yang berziarah ke makam tersebut pada perayaan Tahun Baru Hijriah. Setiap tanggal 1 Muharam, yang juga disebut 1 Syuro, prosesi yang mencakup kirab warga dan tabur bunga dilaksanakan di lingkungan Pesarean Gunung Kawi.
Malam 1 Suro di Gunung Kawi
Bupati Malang, Jawa Timur Rendra Kresna menyatakan kekagumannya terhadap totalitas warga di kawasan Gunung Kawi yang berlokasi di Kecamatan Wonosari kabupaten setempat yang terus berupaya memajukan industri pariwisata melalui berbagai kegiatan.
"Saya benar-benar kagum dengan totalitas warga di Gunung Kawi ini yang tiada henti berinovasi untuk menggerakkan ekonomi warga melalui industri wisata relegi. Salah satu even yang mampu menarik wisatawan adalah kirab 1 Suro (1 Muharram) ini," kata Rendra Kresna di sela-sela acara Gebyar Kirab 1 Suro Desa Wonosari di kawasan Gunung Kawi Kabupaten Malang.
Gebyar Kirab 1 Suro ini, lanjutnya, sekarang menjadi andalan Kabupaten Malang untuk menarik minat wisatawan mancanegara. Warga Wonosari cukup konsisten dalam melestarikan budaya lokal, bahkan selama ini kerukunan antarumat terjalin kental.
"Hal ini patut dicontoh semua masyarakat, bahwa kerukunan bisa terjalin dengan kegiatan budaya dan seni yang kemudian dikemas menjadi salah satu wisata relegi. Apalagi kawasan Gunung Kawi ini merupakan salah satu desa wisata di Kabupaten Malang," kata Rendra. Oleh karena itu, katanya, pemerintah mendukung penuh kegiatan tahunan 1 Suro ini. Karena adanya even tersebut, jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Malang meningkat.
Pemkab Malang, ujarnya, akan terus berupaya melengkapi infrastruktur dan sarana prasarana penunjang di Gunung Kawi, sehingga wisatawan tertarik untuk datang dan menikmati berbagai suguhan di desa wisata ini. "Tahun depan anggaran pariwisata cukup besar, salah satunya untuk pengembangan di Gunung Kawi, termasuk untuk mengangkat tradisi budaya yang dimiliki daerah ini," ucapnya.
Pada kesempatan itu Rendra berharap acara ritual tahunan itu tidak sekadar formalitas, namun memiliki pesan moral bagi seluruh masyarakat. "Saya kagum totalitas warga sini, tetapi jangan lupakan tujuan awalnya," kata politisi Partai Folkar tersebut.
Bahkan, kalau bisa setiap ada kunjungan wisatawan dilakukan proses penyambutan dengan menampilkan tarian khas Gunung Kawi agar pengunjung punya kesan khusus yang bisa diceriterakan pada masyarakat lainnya dan menyarankan untuk berkunjung ke DEsa Wisata Gunung Kawi.
Sementara itu, dalam Gebyar Kirab 1 Suro tersebut diikuti oleh 15 kontingen. Selain ogoh-ogoh dan jolen, ada pula tumpeng batu akik yang dikirab peserta acara tersebut. Acara tahunan itu juga dijubeli belaasan ribu pengunjung, termasuk pengunjung mancanegara. Sebelum kirab diberangkatkan, peserta maupun tamu undangan disuguhi tarian khas Gunung Kawi yang diperagakan oleh sekitar 500 penari perempuan. (EER)