JAKARTA, AFU.ID - Jagat media sosial dan dunia akademisi literasi keislaman dihebohkan oleh kisah inspiratif nan bersahaja dari seorang ulama muda asal Kudus, Jawa Tengah. Sosok bernama Riyan Supriyanto yang akrab disapa Mbah Riyan atau Mbah Riyan Al-Mastur itu menjadi perbincangan hangat publik setelah diketahui memiliki kapasitas keilmuan Islam tingkat dunia, meski kehidupan sehari-harinya dijalani secara sangat bersahaja sebagai seorang pekerja bangunan di kampungnya.
Masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, selama ini mengenalnya tak lebih dari sosok tetangga yang ramah bernama Supriyanto atau Supri. Siang hari, ia menjalani rutinitas sebagai buruh kasar yang mandi keringat di lokasi proyek bangunan, dan sesekali mengisi waktu senggangnya dengan memancing di tepi sungai.
Namun di balik penampilan fisiknya yang jauh dari kesan glamor dan tanpa simbol-simbol kebesaran agama, Mbah Riyan merupakan seorang ulama 'Allamah yang mutafannin (menguasai berbagai disiplin ilmu agama). Di panggung akademisi dan penerbitan literasi keislaman internasional, ia dikenal sangat mumpuni dengan nama pena Syekh Ibnu Harjo Al-Jawi.
Mbah Riyan tergolong sebagai ulama prolifik (mualif muktsir) sekaligus seorang muhaqqiq (peneliti dan penyunting naskah klasik). Lebih dari seratus judul karya tulis ilmiah dan riset telah ia lahirkan. Kedalaman analisis hukum Islam yang ia hasilkan melalui karya tulis berbahasa Arab terbukti menembus batas-batas negara.
Karya-karya Ibnu Harjo Al-Jawi berfokus pada ranah tahqiq (penelitian serta penyuntingan kritis) dan ta'liq (pemberian catatan kaki/penjelasan) atas kitab-kitab turats berbobot tinggi. Bidang yang ia garap mencakup kajian Fikih Mazhab Syafi'i, Ushul Fikih, Hadis, Akidah, Tasawuf, hingga perdebatan teologis. Lewat ketelitian tingkat tinggi, ia mengoreksi kekeliruan cetak naskah kuno, melacak sanad riwayat, serta mengurai ibarat (kalimat) kitab mu'tabar yang sulit difahami.
Secara metodologis, pekerjaan ini sangat berat karena menuntut keahlian sebagai editor, peneliti, filolog, serta penguasaan total terhadap Bahasa Arab, Nahwu, Saraf, Balagah, hingga Mantiq (logika hukum). Berbeda dengan akademisi lulusan universitas Timur Tengah, Mbah Riyan membentuk kapasitas keilmuannya secara mandiri melalui pembiasaan membaca ribuan juz naskah klasik secara istiqamah saban malam.
Pria yang pernah menempuh pendidikan di LIPIA Jakarta ini bahkan mengaku pernah menolak tawaran mengajar demi menjaga konsistensinya dalam menulis. Jejak karyanya terverifikasi secara konkret dalam berbagai katalog penerbit turats internasional seperti Maktabah At-Turmusy.
Beberapa karya yang ditahqiq oleh Ibnu Harjo Al-Jawi antara lain Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali, Sabilul Iddikar wal I'tibar bima Yamurru bil Insan wa Yanqadhi Lahu minal A'mar karya Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad (edisi 2019), Risalah usul fikih seperti Al-Istihsan, Haqiqotuhu wa Hujjiyyatuhu dan Dilalah Qorinah Al-Muwadlobah 'Inda Al-Ushuliyyin, Tahqiq Al-Kalimat fi Al-Ushul Al-Fiqhiyyat karya Abul Hasan al-Bakri al-Syafi'i, dan berbagai ta'liqat atas karya Syekh Mahfudz al-Tarmasi al-Jawi. Bahkan, reputasinya turut mendapat apresiasi langsung dari ulama senior Al-Azhar Mesir, Syekh Abdul Aziz Syahawi, yang memuji ketajaman riset dan kedalaman metodologi penyuntingan naskah yang dikerjakan oleh Mbah Riyan.
Dua dunia yang dijalani Mbah Riyan berlangsung sangat kontras namun harmonis. Jika siang hari kedua lengannya memegang cangkul dan cetok semen di lokasi proyek, malam harinya jemari yang sama menggoreskan pena, menyusun kitab-kitab keilmuan yang dipasarkan hingga ke kancah internasional. Bagi Mbah Riyan, menulis kitab bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan sebuah bentuk dialog dengan para ulama terdahulu.
Ia bukanlah tipe ulama yang mengasuh pondok pesantren besar, memiliki ribuan jemaah, atau berdakwah di panggung ceramah dan media sosial. Dakwah yang ia usung adalah dakwah bil qalam (lewat pena). Puncak perhatian publik terjadi saat Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengundangnya ke Jakarta untuk menerima penghargaan bergengsi MUI Award 2026 atas kontribusi keilmuannya yang luar biasa. Seluruh fasilitas akomodasi dan transportasi telah disiapkan oleh panitia.
Namun, Mbah Riyan mengambil keputusan yang mengejutkan: ia secara halus menolak hadir menerima penghargaan tersebut dan memilih tetap berada di rumahnya di Kudus untuk melanjutkan rutinitas sebagai pekerja bangunan. Penolakan ini ia lakukan demi menjaga jarak dari sanjungan dan popularitas agar tetap membumi dan ikhlas.
MAR