Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Fenomena Matahari Tepat di Atas Kakbah Terjadi Rabu-Kamis Besok, Indonesia Verifikasi Arah Kiblat
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Fenomena Rashdul Qiblat, di mana matahari tepat berada di atas Kakbah, akan terjadi pada Rabu dan Kamis, 15-16 Juli 2026, yang dimanfaatkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia untuk melakukan verifikasi arah kiblat. Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak masyarakat, khususnya umat Islam, untuk berpartisipasi dalam Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026, yang bertujuan meningkatkan akurasi arah kiblat melalui metode pengukuran sederhana menggunakan bayangan tongkat. Gerakan ini didukung penuh oleh Asosiasi Penghulu Republik Indonesia dan diharapkan dapat memberikan edukasi tentang ilmu falak serta memperkuat kualitas ibadah umat Muslim di Indonesia.
Jemaah haji menggelar tawaf, salah satu rangkaian ibadah haji dengan mengeliling Kakbah sebanyak tujuh kali. (Foto: Kemenhaj RI)
JAKARTA, AFU.ID —Rashdul Qiblat, fenomena matahari tepat berada di atas Kakbah akan terjadi pada Rabu (15/7/2026) hingga Kamis (16/7/2026). Pemerintah Republik Indonesia (RI) melalui Kementerian Agama (Kemenag) menyambut momentum astronomi itu dengan melakukan verifikasi terhadap arah kiblat.
Menteri Agama (Menag) RI, Nasaruddin Umar menyatakan Rashdul Qiblat menjadi cara yang mudah, praktis, dan presisi untuk memverifikasi arah kiblat. Namun, membutuhkan ikhtiar untuk memastikannya karena menghadap kiblat merupakan bagian penting dalam kesempurnaan salat.
Oleh karenanya, Kemenag RI akan menggelar Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026 pada Rabu dan Kamis besok. Nasaruddin Umar pun mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya umat muslim, untuk terlibat aktif dalam kegiatan itu.
Menang RI menjelaskan, fenomena matahari yang tepat menyinari titik zenit Kakbah adalah peristiwa astronomi yang terjadi dua kali dalam setahun. Bayangan benda yang berdiri tegak lurus di permukaan bumi dapat menjadi acuan dalam menentukan arah kiblat dengan tingkat akurasi tinggi.
Masyarakat bahkan hanya perlu menancapkan tongkat secara tegak lurus di tempat terbuka untuk mengamati arah bayangan yang terbentuk. Garis yang ditarik dari ujung bayangan menuju pangkal tongkat, menunjukkan arah Kakbah dan menjadi acuan untuk mengecek ketepatan arah kiblat.
“Pada Hari Rabu dan Kamis tanggal 15 dan 16 Juli 2026, tepat pukul 16.27 WIB atau 17.27 WITA dan 18.27 WIT, kita akan memanfaatkan momentum saat posisi matahari berada tepat di atas Kakbah. Sehingga, dapat kita gunakan untuk memverifikasi arah kiblat secara mudah, praktis, dan presisi,” ungkap Nasaruddin Umar sebagaimana dikutip AFU.ID dari website Kemenag RI, Selasa (14/7/2026).
Menag Nasaruddin Umar menyampaikan, masyarakat dapat berpartisipasi dalam Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026 dengan mendaftarkan lokasi pengukuran melalui portal berikut. Peserta akan membuat akun dan mengisi data lokasi terlebih dulu, kemudian mengikuti pengukuran secara serentak sesuai waktu di wilayah masing-masing.
Portal tersebut juga menyediakan panduan teknis pelaksanaan verifikasi arah kiblat. Dengan begitu, masyarakat dapat melakukan pengukuran secara mandiri maupun bersama petugas Kemenag di daerah.
Dukungan Penuh Asosiasi Penghulu
Nasaruddin menyebut, Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026 juga bertujuan untuk meningkatkan literasi masyarakat terkait ilmu falak sebagai instrumen penting dalam pelayanan keagamaan. Ia berharap, aksi nasional itu menjadi momentum edukasi publik tentang pentingnya ilmu falak dan memperkuat akurasi arah kiblat di Indonesia.
“Mari, kita semua menyukseskan Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026 ini. Semoga ikhtiar kita menjadi bagian dari upaya menyempurnakan kualitas ibadah kepada Allah SWT,” tutur Menag RI.
Sementara itu, Madari selaku Ketua Umum Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) mendukung penuh Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026. Menurutnya, aksi nasional itu membantu umat muslim memastikan arah kiblat secara lebih presisi yang memberikan ketenangan dalam melaksanakan ibadah.
“Gerakan ini menghadirkan kemaslahatan yang manfaatnya akan terus dirasakan oleh seluruh masyarakat. Selama arah kiblat yang telah diverifikasi digunakan untuk salat, insyaallah pahala jariahnya akan terus mengalir kepada semua yang ikut berkontribusi,” ujarnya.
Madari pun meminta seluruh jajaran APRI, dari tingkat pusat, wilayah, hingga cabang, untuk segera berkoordinasi menyukseskan pelaksanaan gerakan tersebut. Dengan jumlah penghulu yang mencapai lebih dari 11 ribu orang di seluruh Indonesia, Ia optimistis target partisipasi dapat tercapai.
Ketua APRI ini juga mengingatkan agar verifikasi arah kiblat tersampaikan kepada masyarakat melalui pendekatan yang santun dan edukatif. Pasalnya, kegiatan tersebut bukan untuk menyalahkan arah kiblat yang telah ada selama ini. Akan tetapi, sebagai ikhtiar dalam menyempurnakan akurasi arah kiblat dengan memanfaatkan fenomena alam yang telah Allah SWT. sediakan. (ADR)