JAKARTA AFU.ID — Pau Cubarsi menjadi salah satu nama yang paling mencuri perhatian usai Piala Dunia 2026 berakhir. Bek berusia 19 tahun itu dinobatkan sebagai Young Player Award atau pemain muda terbaik setelah tampil solid mengawal lini belakang tim nasional Spanyol sepanjang turnamen. Penghargaan tersebut melengkapi dominasi La Furia Roja yang juga mengantarkan Rodri meraih Golden Ball dan Unai Simon membawa pulang Golden Glove.
Penampilan Cubarsi sepanjang turnamen memang sulit diabaikan. Ia selalu menjadi pilihan utama pelatih Luis de la Fuente dan berduet bersama Aymeric Laporte di jantung pertahanan hingga Spanyol hanya kebobolan satu gol sepanjang kompetisi. Catatan enam clean sheet dari tujuh pertandingan sekaligus mengantarkan Cubarsi memecahkan rekor sebagai pemain termuda yang mencapai enam laga tanpa kebobolan di Piala Dunia, melampaui pencapaian legenda Italia Paolo Maldini.
Bek Barcelona itu juga berkontribusi besar dalam membangun serangan dari lini belakang. Berdasarkan catatan statistik, Cubarsi membukukan 90 umpan sukses ke area pertahanan lawan, menjadi yang terbanyak sepanjang Piala Dunia 2026, dengan tingkat akurasi operan mencapai 96,2 persen. Kombinasi kemampuan bertahan, ketenangan membaca permainan, dan distribusi bola yang akurat membuatnya layak dinobatkan sebagai pemain muda terbaik di turnamen tersebut.
Dari Indonesia hingga Menjadi Bek Masa Depan Spanyol
Kesuksesan Cubarsi di Piala Dunia 2026 menjadi lompatan besar jika menilik perjalanan kariernya beberapa tahun terakhir. Pada Piala Dunia U-17 2023 di Indonesia, namanya belum menjadi sorotan karena masih berada di bawah bayang-bayang pemain seperti Lamine Yamal dan Marc Guiu. Meski begitu, ia tetap menjadi andalan di lini belakang Spanyol sebelum langkah Spanyol terhenti di babak perempat final usai kalah 0-1 dari Jerman di Jakarta International Stadium (JIS).
Turnamen di Indonesia juga menyimpan pengalaman unik bagi Cubarsi. Pada laga melawan Jerman, ia bahkan sempat mengenakan sarung tangan penjaga gawang setelah kiper Raul Jimenez menerima kartu merah ketika jatah pergantian pemain Spanyol telah habis. Momen langka itu menjadi salah satu kisah yang masih dikenang sebelum dirinya berkembang menjadi salah satu bek muda terbaik dunia.
Perjalanan Cubarsi sendiri bermula dari Estanyol, sebuah desa kecil di Provinsi Girona, Spanyol. Bakatnya mulai tercium pemandu bakat Barcelona ketika masih berusia 11 tahun hingga akhirnya bergabung dengan akademi La Masia yang terkenal melahirkan banyak pemain kelas dunia. Sejumlah sosok yang pernah bekerja bersamanya bahkan telah melihat potensinya sejak dini, termasuk mantan pemain Barcelona Oscar Garcia yang menyebut Cubarsi memiliki peluang menjadi salah satu bek tengah terbaik dalam sejarah.
Perkembangan pesatnya berlanjut saat promosi ke tim utama Barcelona dan menjadi bagian penting dalam keberhasilan klub meraih sejumlah gelar domestik, termasuk LaLiga dan Piala Super Spanyol. Setelah gagal masuk skuad juara Euro 2024, Cubarsi akhirnya dipercaya memperkuat tim senior Spanyol di Piala Dunia 2026 dan langsung menjawab kepercayaan itu dengan mengantarkan negaranya menjadi juara dunia. Penghargaan Young Player Award pun menjadi pencapaian individu terbesar dalam kariernya sejauh ini sekaligus menegaskan statusnya sebagai salah satu bek muda paling menjanjikan di sepak bola dunia. (RAI)