JAKARTA, AFU.ID - Presiden Prabowo Subianto terus berusaha meyakinkan masyarakat dan investor bahwa ekonomi Indonesia baik-baik saja. Di tengah gejolak ekonomi global akibat ketidakpastian politik dunia, yang mengakibatkan lonjakan harga energi dan menguatnya dolar AS terhadap rupiah, Prabowo hadir dengan narasi-narasi yang terkesan meyakinkan.
Terbaru, saat kunjungan kerja ke Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026) , Prabowo kembali menegaskan, ekonomi Indonesia diurus dengan baik oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Menurutnya, selama Menkeu tersenyum maka masyarakat tidak perlu khawatir.
"Selama Purbaya bisa senyum, tenang saja, nggak usah kau khawatir. Mau dolar berapa ribu kek, kalian di desa-desa nggak pakai dolar," kata Prabowo, saat peresmian 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Sabtu (16/5/2026).
Dia juga memastikan bahwa kondisi fundamental Indonesia masuk kuat, meskipun pelemahan mata uang rupiah jelas berdampak pada kalangan yang bertransaksi menggunakan dolar.
Hal senada juga disampaikan Menkeu Purbaya. Angka pertumbuhan Kuartal I 2026 yang mencapai 5,61% menjadi "senjata" pemerintah untuk memainkan narasi "ekonomi baik-baik saja". Kata Purbaya,. pertumbuhan yang mencapai 5,61 persen menunjukkan daya beli masyarakat masih terjaga.
“Kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap kuat dan tumbuh signifikan,” kata Purbaya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (14/5/2026).
Pertanyaannya, benarkah pertumbuhan sebesar 5,61% ini secara riil menunjukkan masih terjaganya daya beli masyarakat? Pengamat Ekonomi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI Teuku Riefky, pernah memprediksi, secara riil daya beli masyarakat di tahun 2026 ini akan menurun.
Prediksi ini didasarkan pada beberapa indikator. Pertama, mandeknya kenaikan upa riil sejak tahun 2017. Riefky mengatakan, kenaikan upah riil sejak tahun 2017 tidak sampai menyentuh 1%. Kedua, prediksi turunnya daya beli juga bisa dilihat dari data tabungan masyarakat.
Kelompok dengan simpanan di bawah Rp 100 juta mengalami penurunan saldo rata-rata dari Rp 4,2 juta menjadi sekitar Rp 1,7 juta. Sebaliknya, kelompok dengan tabungan di atas Rp 5 miliar meningkat signifikan hingga hampir Rp 30 miliar.
“Masalahnya, kelompok kaya tidak menambah konsumsi ketika kekayaannya naik, sehingga pertumbuhan tidak mendorong belanja masyarakat,” ujar Riefky.
Ketiga, adalah pada aspek ketenagakerjaan, dimana pertumbuhan pekerja formal terus tergerus oleh lonjakan pekerja informal. Minimnya perlindungan sosial membuat pekerja yang terkena PHK tidak bisa menganggur, sehingga memilih pekerjaan informal berupah rendah. Situasi inilah yang kian memperburuk daya beli sekaligus menggerus stabilitas ekonomi jangka panjang.
Keempat, tingginya biaya usaha akibat praktik korupsi. Data menunjukkan lebih dari 60% perusahaan besar harus memberi suap untuk mengurus izin usaha. Hal ini justru menarget perusahaan paling produktif, termasuk eksportir, sehingga menurunkan daya saing dan menghambat penciptaan kerja.
Masalah struktural yang terus menumpuk inilah, kata Riefky, yang jika tidak dibenahi, akan berdampak pada turunnya daya beli masyarakat secara riil.
Sekarang kita lihat apakah prediksi itu mendekati kenyataan? Sekarang kita lihat datanya. Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) naik tipis menjadi 123,0 pada April 2026, dari 122,9 pada Maret 2026. Namun jika ditarik sejak awal tahun, arah optimisme konsumen sebenarnya terus melemah, meski masih bertahan di zona optimis.
BI mencatat IKK Februari turun dari 127,0 pada Januari menjadi 125,2, lalu kembali turun ke 122,9 pada Maret sebelum hanya naik tipis pada April. Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) juga terus menyempit dari 138,8 pada Januari menjadi 134,4 pada Februari, lalu 130,4 pada Maret, dan kembali turun menjadi 129,6 pada April.
Apa artinya? Kepala Ekonom Josua Pardede menilai menyempitnya optimisme tersebut menjadi sinyal bahwa konsumen mulai lebih berhati-hati dibanding awal tahun. “Survei Konsumen BI April 2026 menunjukkan optimisme konsumen masih terjaga, tetapi kekuatannya mulai lebih rapuh dibanding awal tahun. Jadi konsumen masih optimis tapi lebih berhati-hati," ujar Josua, seperti dikutip Kontan, Senin (11/5/2026).
Kehati-hatian konsumen, jika dicermati, memang didorong beberapa fakta. Survei Konsumen Bank Indonesia mendapati fenomena saving to income ratio (porsi pendapatan yang ditabung) mengalami kenaikan menjadi 18,2%. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat kelas menengah ke bawah mulai mengetatkan pengeluaran dengan memperbesar porsi tabungan dan mengurangi cicilan.
Kemudian, penurunan kelas menengah di Indonesia terus menjadi tantangan utama ekonomi pada 2026. Data menunjukkan sekitar 8,6 juta hingga 9,5 juta orang turun kasta dari kelas menengah menjadi kelompok rentan miskin (aspiring middle class) akibat penurunan daya beli, stagnasi upah, inflasi, dan minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan yang menjanjikan.
Dampak penurunan kelas menengah ini diwarnai oleh beberapa indikator utama. Pertama stagnasi pendapatan dan inflasi. Daya beli tergerus akibat rasio gaji terhadap UMR yang menurun. Di sisi lain Inflasi yang relatif rendah di angka 2,8% hingga 3,0% justru mencerminkan lemahnya konsumsi masyarakat.
Kelas menengah yang tak lagi memiliki kemampuan melakukan konsumsi besar, menyiasati pola konsumsi dengan membeli barang-barang kecil yang lebih terjangkau namun memberikan kepuasan emosional seperti produk perawatan diri, kopi premium, atau parfum lokal. Inilah yang disebut dengan fenomena Lisptick Effect.
Pakar ekonomi menegaskan bahwa antrean panjang atau tingginya transaksi barang kecil ini bukanlah indikator ekonomi membaik, melainkan refleksi kecemasan finansial di mana masyarakat mencari pelampiasan. Penelitian LPEM FEB UI mengidentifikasi, masyarakat kelas menengah ke bawah mengorbankan pengeluaran skala besar namun mengalihkan dananya untuk membeli produk-produk kecil yang memberikan kepuasan instan dan kebahagiaan psikologis (kenyamanan semu), akibat tekanan terhadap daya beli masyarakat secara keseluruhan.
Saat ekonomi lesu atau terjadi penurunan kelas menengah, konsumen menahan diri untuk membeli barang berharga mahal (sebagai pelarian psikologis) dan beralih ke pembelian barang mewah kecil agar tetap merasa normal dan terhibur. Munculnya lipstick effect ini justru menyiratkan kondisi fundamental ekonomi yang mengkhawatirkan.
LPEM FEB UI menegaskan bahwa tingginya konsumsi pada sektor-sektor tersier ini menutupi realitas ekonomi yang lesu. Hal ini kerap menciptakan perbedaan mencolok antara angka statistik ekonomi makro yang tumbuh positif dan kondisi riil di lapangan, sehingga angka resmi terkadang tidak mencerminkan kesulitan finansial yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Apakah Lipstick Effect itu? Secara historis, fenomena ini berakar dari perilaku konsumen selama masa-masa krisis ekonomi besar. Fenomena ini pertama kali dideteksi saat Depresi Besar Amerika Serikat di Tahun 11929-1933. Saat perekonomian Amerika Serikat hancur total dan pengangguran merajalela, para psikolog dan pakar ekonomi terkejut melihat data penjualan kosmetik. Alih-alih anjlok, penjualan kosmetik—terutama lipstik—justru meningkat tajam di seluruh AS.
Namun, istilah Lipstick Effect sendiri baru lahir pada tahun 2001. Istilah ini secara resmi populer setelah dicetuskan oleh Leonard Lauder, yang saat itu menjabat sebagai Chairman Estée Lauder (perusahaan kosmetik global). Pasca-serangan 11 September 2001, AS mengalami guncangan ekonomi. Lauder mendapati bahwa penjualan lipstik di perusahaannya melonjak hingga 11%. Ia berteori bahwa ketika ekonomi sulit, masyarakat mengalihkan konsumsi dari barang mewah yang mahal ke "kemewahan kecil" (affordable luxury) yang masih bisa dijangkau dompet.
Mengapa fenomena ini terjadi? Ada tiga faktor utama yang saling berkelindan. Pertama, Faktor Psikologis. Berdasarkan studi perilaku konsumen, krisis ekonomi memicu kecemasan dan stres tinggi (karena PHK, potongan gaji, atau sulit mencari kerja). Membeli barang besar seperti mobil atau rumah sudah tidak mungkin. Akibatnya, konsumen mencari gratifikasi emosional instan (instant gratification) melalui pembelian kecil yang memicu hormon dopamin. Aktivitas belanja ini menjadi pelarian (escapism) sementara agar mereka merasa "hidup masih baik-baik saja."
Kedua, Faktir Kebutuhan Sosial dan Status. Di era modern, tekanan sosial untuk mempertahankan penampilan atau gengsi tetap tinggi meskipun pendapatan menurun. Lipstik, parfum, atau kopi premium menjadi simbol status sosial yang paling murah untuk dipertahankan di depan publik atau media sosial.
Ketiga, Faktor Pergeseran Anggaran. Uang yang awalnya ditabung untuk uang muka (DP) rumah, liburan ke luar negeri, atau membeli kendaraan, akhirnya mengendap karena target besar tersebut tidak realistis lagi. Dana "tanggung" inilah yang dialihkan untuk membeli barang-barang tersier kecil secara impulsif.
Ada beberapa indikator yang menunjukkan telah terjadinya fenomena ini. Pertama adalah turunnya penjualan barang tahan lama berharga tinggi secara tajam seperti properti, elektronik besar, kendaraan bermotor, dan furnitur. Kedua, pada sisi sebaliknya terjadi lonjakan tajam pada barang non durable goods. Industri kosmetik, perawatan tubuh (skincare), wewangian (parfum), serta makanan-minuman ritel (F&B kafe/kopi spesial) justru mencatatkan pertumbuhan positif yang kontras.
Dampaknya adalah maraknya, usaha ritel therapy, hiburan ringan, cafe dan sebagainya. knya Ritel Therapy dan Hiburan Ringan: Konser musik, tiket bioskop, hingga pembelian mainan/barang koleksi berkarakter (pop culture) tetap laris manis di tengah isu daya beli lesu.
Fenomena ini dinilai sudah terjadi di Indonesia. Pengeluaran rumah tangga Indonesia untuk barang tahan lama terus menurun dalam lima tahun terakhir. Pengeluaran untuk elektronik dan peralatan rumah tangga turun dari 2,89% (2019) menjadi 1,95% (2024). Namun sebaliknya, pengeluaran untuk kosmetik dan perawatan pribadi justru merangkak naik. Data Kementerian Perindustrian dan BPOM menunjukkan industri kosmetik nasional diproyeksikan tumbuh stabil di atas 5,5% pada tahun 2026 dengan nilai pasar menembus US$10 miliar, kontras dengan perlambatan ekonomi makro.
Pemerintah alih-alih bersikap tenang semestinya, justru mengantisipasi hal ini dengan memperbaiki fundamental ekonomi seperti perbaikan iklim investasi agar sektor usaha khususnya manufaktur tumbuh yang diiringi pertumbuhan tenaga kerja, dan pendapatan masyarakat. Bukan hal mudah di tengah tekanan ekonomi global dengan kenaikan harga energi dan perkasannya dolar AS.
Sayangnya, pemerintah justru menggunakan anggaran belanjanya tidak pada sektor produktif. Inilah yang memunculkan kekhawatiran akan adanya krisis ekonomi besar. Direktur Eksekutif CELION Bhima Yudhistira Direktur Eksekutif mengatakan, semakin besar tekanan ekonomi, makin mendekati krisis, semakin banyak pengeluaran masyarakat untuk barang-barang yang sebenarnya sifatnya kemewahan kecil.
"Justru menandakan bahwa akan ada badai ekonomi yang segera datang,” ujarnya, seperti dikutip Kompas.com, Minggu (17/5/2026).
MAR