JAKARTA, AFU.ID - Duka mendalam menyelimuti para pendiri Yayasan Harapan Ibu Pondok Pinang, Jakarta Selatan, usai pengungkapan temuan ratusan senjata api, airsoft gun, amunisi, hingga barang yang diduga berkaitan dengan narkotika dan materi pornografi di dalam lingkungan sekolah. Kasus yang berawal dari penemuan di ruangan terkunci milik mantan Ketua Pengurus Yayasan ini mengundang keprihatinan mendalam dari para tokoh kunci yang sejak awal merintis lembaga pendidikan Islam tersebut.
Salah satu pendiri Yayasan Harapan Ibu, Yan Sofyan Syafe'i, tidak mampu menyembunyikan rasa sedihnya saat memberikan keterangan resmi mengenai situasi yang menimpa sekolah yang ia dirikan. "Kami selaku pendiri yang mendirikan sekolah ini merasa bersedih sekali dengan adanya hal seperti ini tetapi Insyaallah seperti yang tadi saya utarakan mudah-mudahan semua itu dapat diperbaiki dengan sebaik-baiknya," kata Sofyan, di Jakarta, Minggu (9/8/2026).
Ia menceritakan kembali sejarah panjang berdirinya sekolah tersebut yang bermula dari niat mulia para tokoh nasional untuk menghadirkan sarana pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman demi mencerdaskan generasi muda. Perjalanan pendirian Yayasan Harapan Ibu berakar dari prakarsa empat sosok penting, yakni mantan Wakil Presiden RI Adam Malik, purnawirawan TNI Letjen (Purn) KPH Soerjo Wirjohadipoetro, Mawardi Labay El-Sulthani, dan Yan Sofyan Syafe'i.
Sofyan mengenang momen ketika mereka menghadap langsung kepada Adam Malik untuk menyampaikan gagasan pembangunan sekolah. Kala itu, Adam Malik yang sedang menjabat sebagai Wakil Presiden RI secara langsung mengarahkan dan mewakafkan lahan miliknya di kawasan Kebayoran, Pondok Pinang, untuk dijadikan lokasi pembangunan kompleks sekolah.
"Setelah itu mulailah kita buat yayasan itu dengan visi dan misi untuk mencerdaskan anak-anak bangsa dan kita berkeinginan agar anak-anak bangsa kita itu dapat betul-betul menjadi manusia yang seutuhnya," tambah Sofyan.
Dia berharap sengketa hukum dan penanganan perkara pidana di lingkungan sekolahnya bisa segera diselesaikan secara tuntas agar aktivitas belajar mengajar dapat kembali beroperasi sesuai dengan tujuan mulia awal pendiriannya. Konflik berkepanjangan terkait perebutan aset Yayasan Harapan Ibu itu sendiri telah berlangsung sejak tahun 2008 silam.
Konflik bermula beberapa tahun silam akibat perselisihan internal antara pihak kepercayaan dan ahli waris Adam Malik. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, kubu anak-anak Adam Malik menyewa M. Indra Wargadalem (IWD) sebagai kuasa hukum. Namun, alih-alih menyelesaikan perkara, IWD diduga memanfaatkan posisinya untuk mengambil alih legalitas dan aset yayasan. IWD masuk ke dalam jajaran Dewan Pembina hingga menduduki kursi Ketua Pengurus Yayasan.
Sumber Afu.id di lingkungan YHI menyebut, selama bertahun-tahun memegang kendali penuh, IWD memanfaatkan statusnya sebagai ketua yayasan untuk kepentingan komersial, termasuk menyewakan lahan-lahan milik yayasan menjadi kafe hingga lapangan padel. Sumber tersebut menyebut, penemuan senjata di lingkungan sekolah tersebut diduga berkaitan dengan status IWD yang juga pernah tercatat sebagai Sekjen Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) periode 2010-2015.
Sementara itu, upaya perlawanan terus dilakukan oleh keluarga Adam Malik. Putra sulung Adam Malik, Otto Malik, beserta cucunya, Juliani Malik, menempuh berbagai jalur hukum atas dugaan perbuatan melawan hukum, pemalsuan akta notaris, serta pengambilalihan hak atas tanah wakaf keluarga mereka. Eskalasi konflik memuncak ketika keluarga ahli waris—yang juga memiliki latar belakang keluarga militer—mulai merebut kembali hak atas yayasan tersebut.
Pada awal tahun 2026, IWD beserta jajarannya berhasil diusir dari area Sekolah Harapan Ibu dan pengamanan lingkungan sekolah diserahkan kepada personel keamanan. Puncaknya terjadi saat pihak pengurus baru melakukan penertiban dan membongkar ruangan terkunci milik IWD, yang berujung pada ditemukannya 995 unit senjata beserta barang terlarang lainnya. (MAR)