JAKARTA, AFU.ID — Buronan kasus narkoba, Frans Antony, ditangkap dan dipulangkan ke Indonesia setelah berhasil diamankan di Malaysia. Frans adalah bendahara jaringan narkoba internasional yang dipimpin Fredy Pratama.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI (Bareskrim Polri), Brigjen Eko Hadi Santoso, mengatakan Frans telah tiba di Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta pada Jumat (19/6/2026). Setelah mendarat, tersangka langsung dibawa menuju Bareskrim Polri untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Menurut penyidik, Frans bukan sosok asing dalam lingkaran Fredy Pratama. Ia disebut sebagai salah satu orang kepercayaan yang memiliki hubungan dekat dengan gembong narkoba tersebut. “Mereka pernah satu sekolah menengah atas (SMA) di Kalimantan Selatan,” kata Eko Hadi dalam keterangan tertulis, Jumat (19/6).
Penangkapan Frans menjadi perkembangan penting dalam upaya membongkar jaringan Fredy Pratama yang selama bertahun-tahun beroperasi lintas negara. Polisi menduga Frans berperan mengatur dan mengendalikan aliran dana hasil bisnis narkotika jaringan tersebut.
Nama Fredy Pratama sendiri mulai menjadi perhatian besar aparat penegak hukum pada 2023. Meski telah menjalankan bisnis narkoba sejak 2007, keberadaan dan struktur jaringannya baru terungkap secara luas setelah serangkaian penyelidikan panjang.
Penyidik menemukan hampir 1.000 kasus narkotika sepanjang 2020 hingga 2023 memiliki keterkaitan dengan jaringan Fredy Pratama. Dari berbagai pengungkapan itu, aparat turut menyita barang bukti narkoba dengan total berat lebih dari 10 ton.
Jaringan tersebut diketahui beroperasi di sejumlah negara Asia Tenggara dengan pola distribusi yang terorganisasi. Fredy bahkan dijuluki sebagai “Pablo Escobar Indonesia” karena besarnya skala bisnis narkotika yang dikendalikan.
Pada April 2026, Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalimantan Selatan kembali membongkar jaringan yang terhubung dengan Fredy Pratama. Dalam operasi tersebut, polisi menyita 43,8 kilogram sabu yang berasal dari Malaysia.
Barang haram itu dibawa oleh dua kurir berinisial AG dan RD yang ditangkap saat hendak mendistribusikan narkotika ke wilayah Indonesia. Pengungkapan tersebut semakin menguatkan indikasi jaringan Fredy masih aktif beroperasi meski sang bandar utama belum tertangkap.
Hingga kini, Fredy Pratama masih berstatus buronan dan diduga bersembunyi di luar negeri. Aparat menyebut ia kerap berpindah-pindah lokasi untuk menghindari pengejaran, termasuk di kawasan Thailand dan Kamboja.
Penangkapan Frans Antony diharapkan dapat membantu penyidik mengungkap lebih jauh struktur organisasi, aliran dana, dan keberadaan Fredy Pratama yang hingga kini masih menjadi target utama aparat penegak hukum. (ANT/RAI)