JAKARTA, AFU.ID — Sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) mencatat kenaikan laba bersih pada semester I 2026. Namun, peningkatan kinerja tersebut belum serta-merta dapat disebut sebagai hasil langsung konsolidasi dan transformasi BUMN di bawah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), karena terdapat sejumlah faktor lain yang turut memengaruhi kinerja masing-masing perusahaan.
Data yang disampaikan dalam sebuah rilis yang diterima redaksi Afu.id di Jakarta, Rabu (12/8/2026) menunjukkan PT Timah mencatat pertumbuhan laba paling tinggi secara persentase. Laba bersih perusahaan tambang tersebut mencapai Rp2,71 triliun, dibandingkan Rp300 miliar pada semester I 2025 atau meningkat 804,7 persen. PT Pupuk Indonesia juga mencatat kenaikan laba yang signifikan. Laba bersihnya mencapai Rp8,51 triliun, naik 253 persen dibandingkan Rp2,41 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Kinerja positif juga terlihat di sejumlah BUMN lain. PT Semen Indonesia mencatat laba Rp193,46 miliar atau naik 196,5 persen dari Rp65,24 miliar. PT Agrinas Palma Nusantara membukukan laba Rp890 miliar, meningkat 150 persen dari Rp356 miliar. Di sektor jasa keuangan dan logistik, PT Pegadaian mencatat laba Rp6,59 triliun atau tumbuh 84,6 persen. Pelindo membukukan laba Rp2,57 triliun atau naik 60,4 persen, sedangkan PTPN IV PalmCo mencatat laba Rp3,23 triliun atau meningkat 54 persen.
Bank Tabungan Negara (BTN) mencatat laba Rp2,40 triliun, naik 40,8 persen. Sementara Bank Mandiri membukukan laba Rp30,41 triliun atau tumbuh 24,3 persen dibandingkan Rp24,46 triliun pada semester I 2025. PT Pertamina Geothermal Energy juga mencatat pertumbuhan laba sebesar 15,5 persen, dari 68,93 juta dolar AS menjadi 79,61 juta dolar AS. Di sisi lain, dua perusahaan yang sebelumnya membukukan kerugian disebut berhasil mencatatkan laba. PT Krakatau Steel yang sebelumnya mengalami kerugian sekitar Rp1,74 triliun dilaporkan berbalik mencatat laba sekitar Rp150 miliar hingga Rp185 miliar. PT Kimia Farma juga berbalik dari rugi Rp135,61 miliar menjadi laba Rp54,07 miliar pada semester I 2026.
Managing Partner BUMN Research Group LM FEB UI Toto Pranoto menilai kinerja positif masih terlihat terutama pada BUMN papan atas yang selama ini menjadi penggerak utama pendapatan dan laba perusahaan negara. "Menurut saya kinerja solid masih ditunjukan BUMN blue chips yang sedari dulu menjadi motor penggerak revenue dan profit total BUMN. Misal kinerja Himbara di sektor perbankan, sektor mineral dan hasil tambang, sektor telco dan Pertamina," ujar Toto di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Menurut Toto, penataan dan konsolidasi BUMN masih perlu dilanjutkan agar efisiensi perusahaan negara dapat semakin meningkat. Ia berharap proses streamlining tidak berhenti pada konsolidasi struktur, tetapi juga berdampak terhadap perbaikan kinerja operasional. "Harapan saya supaya proses streamlining BUMN bisa dipercepat sehingga perbaikan kinerja bisa lebih cepat dilaksanakan," katanya.
Meski sejumlah perusahaan mencatat pertumbuhan laba yang tinggi, angka tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh peningkatan kinerja merupakan dampak langsung Danantara. Masing-masing BUMN memiliki karakter bisnis, kondisi pasar, serta faktor operasional yang berbeda. Kenaikan laba PT Timah, misalnya, perlu dilihat bersama kondisi harga dan produksi komoditas timah. Begitu pula kinerja perbankan seperti Bank Mandiri dan BTN yang dipengaruhi kondisi kredit, kualitas aset, pendapatan bunga, serta kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Sementara pembalikan kinerja Krakatau Steel dan Kimia Farma perlu dilihat lebih jauh untuk mengetahui apakah berasal dari perbaikan operasional yang berkelanjutan atau faktor tertentu yang bersifat nonberulang. Danantara sendiri dibentuk pemerintah sebagai lembaga yang mengelola dan mengonsolidasikan aset BUMN. Pemerintah menempatkan konsolidasi, efisiensi, dan perbaikan tata kelola sebagai bagian dari agenda transformasi perusahaan negara.
Dengan demikian, kenaikan laba sejumlah BUMN pada semester I 2026 dapat menjadi salah satu indikator awal perbaikan kinerja perusahaan negara. Namun, dampak langsung kebijakan Danantara masih perlu dilihat melalui kinerja dalam beberapa periode berikutnya, termasuk dari sisi efisiensi, produktivitas, arus kas, tata kelola, serta keberlanjutan laba.
Data perbandingan laba yang disampaikan dalam rilis tersebut menunjukkan PT Timah naik dari Rp300 miliar menjadi Rp2,71 triliun, Pupuk Indonesia dari Rp2,41 triliun menjadi Rp8,51 triliun, Semen Indonesia dari Rp65,24 miliar menjadi Rp193,46 miliar, dan Agrinas Palma Nusantara dari Rp356 miliar menjadi Rp890 miliar.
Selanjutnya, laba Pegadaian meningkat dari Rp3,57 triliun menjadi Rp6,59 triliun, Pelindo dari Rp1,60 triliun menjadi Rp2,57 triliun, PTPN IV PalmCo dari Rp2,10 triliun menjadi Rp3,23 triliun, BTN dari Rp1,70 triliun menjadi Rp2,40 triliun, serta Bank Mandiri dari Rp24,46 triliun menjadi Rp30,41 triliun.
Adapun Pertamina Geothermal Energy mencatat kenaikan laba dari 68,93 juta dolar AS menjadi 79,61 juta dolar AS. Krakatau Steel dan Kimia Farma masing-masing dilaporkan berbalik dari posisi rugi menjadi laba pada semester I 2026. (EER)