JAKARTA, AFU.ID - Gelombang keputusasaan melanda para peternak ayam petelur dan pedaging mandiri di berbagai daerah di Indonesia. Pada Senin, (10/8/2026) aksi unjuk rasa serentak pecah di sejumlah titik strategis, mulai dari Alun-Alun Kabupaten Kendal, Pendopo Kabupaten Grobogan, kawasan Malioboro Yogyakarta, hingga Kantor Gubernur Sulawesi Selatan di Makassar.
Aksi tersebut digelar serentak sebagai bentuk protes keprihatinan atas kehancuran usaha mereka. Dalam aksinya di berbagai daerah itu, ribuan peternak memilih membagikan puluhan ribu ekor ayam hidup dan beribu-ribu tray telur secara gratis kepada warga.
Di Kendal saja, sebanyak 1.240 peternak yang mengerahkan 147 mobil pick-up membagikan 15.000 ekor ayam petelur, sementara di seluruh Jawa Tengah total ada 50.000 ekor ayam yang dilepas bebas ke masyarakat sebagai tanda bahwa hasil kerja keras mereka tak lagi bernilai ekonomis di pasar.
Di Pati, Jawa Tengah, aksi bahkan diwarnai atraksi nekat para peternak yang memakan ayam dan telur mentah. Mereka juga sempat melakukan aksi lempar telur ke arah kantor Kabupaten lantaran tak ada satupun pejabat daerah yang menemui mereka.
Ketua Asosiasi Unggas Peternak Seluruh Kabupaten Pati, Dwi Agus Siswanto mengatakan makan ayam hidup-hidup dan mandi telur adalah simbol peternak menanggapi kondisi sekarang ini. Karena harga telur dan ayam terus turun hingga para peternak merugi. "Mereka sudah lapar karena tiap hari minim untuk penghasilan makanya di lapar pengen makan segala-galanya. Daripada dijual mending dimakan sendiri," kata Agus kepada wartawan
Di wilayah Yogyakarta, peternak dari Sleman, Bantul, Kulonprogo, dan Gunungkidul sengaja membawa ayam ke Malioboro untuk menyampaikan pesan kepada pemerintah mengenai kondisi usaha mereka yang tengah berada di bawah tekanan. Mereka juga menggelar aksi membagikan 1.200 ekor ayam secara cuma-cuma.
"Ini bentuk simbolis. Kami membagikan ayam supaya masyarakat tahu bahwa peternak hari ini sedang mengeluh, sedang sedih, mengalami kerugian cukup besar," ujar koordinator aksi, Andry Patra.
Di balik aksi bagi-bagi ayam gratis yang diwarnai desakan warga tersebut, tersembunyi krisis finansial yang mengancam mata pencaharian ratusan ribu keluarga peternak. Saat ini, para peternak mandiri dihimpit oleh dua tekanan ekstrem sekaligus, melambungnya biaya pakan serta terjun bebasnya harga jual telur dan ayam afkir.
Di tingkat peternak, harga jual telur merosot hingga di bawah Rp20.000 per kilogram, sementara biaya pokok produksi (HPP) berada di kisaran Rp24.000 hingga Rp25.000 per kilogram. Akibatnya, peternak menanggung kerugian membengkak hingga Rp4.000 sampai Rp5.000 pada setiap kilogram telur yang mereka hasilkan. Pukulan makin telak karena harga jual ayam afkir juga terhempas ke kisaran Rp13.000 per kilogram.
Akar dari gulung tikarnya peternak rakyat terletak pada mahalnya komponen pakan, yang menyerap hingga 70 persen dari total biaya operasional peternakan. Pakan konsentrat mengalami lonjakan harga hingga 30 sampai 40 persen, dipicu oleh tingginya harga jagung di pasaran akibat rantai pasok yang tidak efisien dan minimnya realisasi alokasi bantuan jagung Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Dalam analisis ekonomi peternakan, kondisi anomali ini dicurigai bukan sekadar dampak fluktuasi pasar alami, melainkan wujud ketimpangan struktur industri perunggasan (poultry) nasional. Diduga kuat terdapat praktik oligopoli oleh integrasi perusahaan-perusahaan skala besar (integrator) yang menguasai rantai pasok dari hulu ke hilir—mulai dari ketersediaan bibit Day Old Chick (DOC), pabrik pakan konsentrat, hingga penetrasi pasar bebas yang menggulung peternak mandiri skala kecil.
Aksi massa yang melumpuhkan lalu lintas di beberapa wilayah tersebut akhirnya mendapat respons dari pemerintah daerah. Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, yang menemui langsung para demonstran menyatakan apresiasinya terhadap penyampaian aspirasi tersebut dan berjanji akan mengawal tuntutan peternak ke pemerintah pusat. "Kami memahami para peternak saat ini merasa merugi. Pemerintah daerah akan berupaya mencari solusi agar kondisi ini bisa segera tertangani," tandas Dyah.
Dyah menyebut, pemerintah daerah memahami kondisi yang tengah dihadapi para peternak, khususnya terkait anjloknya harga telur yang berdampak terhadap pendapatan mereka. "Kami akan menyampaikan aspirasi para peternak ini sebagai tuntutan kepada pemerintah," kata Dyah
Pemerintah Kabupaten Kendal juga berupaya membantu peternak melalui Dinas Pertanian, salah satunya dengan menyelenggarakan pasar murah untuk penyaluran SPHP jagung guna memotong lonjakan pakan. Meskipun tanggapan dari pemerintah daerah memberikan secercah harapan, para peternak menegaskan bahwa solusi sementara tidak akan cukup untuk menyelamatkan industri peternakan rakyat dari kebangkrutan massal.
Mereka mendesak pemerintah pusat untuk segera mengambil langkah konkret yang menyeluruh, seperti memperpanjang durasi penyaluran SPHP jagung menjadi minimal enam bulan, mengikutsertakan komoditas telur lokal ke dalam paket bantuan sosial pangan pemerintah, serta memberlakukan penataan batas atas dan bawah harga pasar yang tegas demi melindungi keberlangsung harian peternak mandiri di tanah air. (MAR)