Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Rupiah Amblas dan Tiket Pesawat Mahal Paksa Masyarakat Indonesia Liburan di Rumah
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Tren keberangkatan masyarakat Indonesia ke luar negeri atau wisatawan nasional (wisnas) mencatatkan penurunan sangat masif.Data Perkembangan Pariwisata April 2026 yang baru saja Badan Pusat Statistik (BPS) rilis, bahkan sinkron di seluruh lini metrik waktu.Ya, penurunan terjadi secara tahunan (year-on-year/Y-on-Y), bulanan (month-to-month/M-to-M), maupun kumulatif (cumulative-to-cumulative/C-to-C).
Ilustrasi wisnas yang turun drastis akibat faktor ekonomi, salah satunya akibat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melemah. (Foto: Gemini AI)
JAKARTA, AFU.ID — Tren keberangkatan masyarakat Indonesia ke luar negeri atau wisatawan nasional (wisnas) mencatatkan penurunan sangat masif.
Data Perkembangan Pariwisata April 2026 yang baru saja Badan Pusat Statistik (BPS) rilis, bahkan sinkron di seluruh lini metrik waktu.
Ya, penurunan terjadi secara tahunan (year-on-year/Y-on-Y), bulanan (month-to-month/M-to-M), maupun kumulatif (cumulative-to-cumulative/C-to-C).
“Dari Januari hingga April 2026, jumlah perjalanan ke luar negeri tercatat sebanyak 3,14 juta perjalanan,” ungkap Direktur Statistik Jasa BPS, Harmawanti Marhaeni dalam laporannya dikutip AFU.ID, Jumat (5/6/2026).
“Mengalami penurunan sebesar 3,49 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya atau Januari hingga April 2025 (C-to-C),” sambungnya.
Kemerosotan lebih dalam terjadi secara bulanan dan tahunan yang nyaris menyentuh sepertiga pasar, padahal mobilitas internasional kelas menengah Indonesia biasanya bergerak dinamis.
“Jumlah perjalanan wisnas mencapai 643,66 ribu perjalanan pada April 2026, turun 18,55 persen dibandingkan Maret 2026 (M-to-M) dan 30,54 persen dibandingkan April 2025 (Y-on-Y),” tutur Harmawanti Marhaeni.
Penurunan serentak tersebut menjadi sinyal kuat adanya pengetatan anggaran dari masyarakat Indonesia secara drastis.
Yang mana, masyarakat secara mendadak menarik rem darurat dan memilih menyimpan kembali paspornya untuk ‘liburan di rumah’ saja.
Salah satu penyebab rontoknya minat pelesiran ke luar negeri tersebut adalah lonjakan biaya operasional penerbangan yang terekam dalam laporan inflasi BPS.
Berdasarkan data kelompok pengeluaran, sektor transportasi mengalami inflasi bulanan sebesar 0,61%.
Secara spesifik, komoditas tarif angkutan udara mencatatkan inflasi yang tinggi sebesar 2,75%, akibat catatan peristiwa penting berupa kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur) di setiap bandara yang beroperasi di dalam negeri.
Mahalnya harga tiket pesawat tersebut otomatis langsung melambungkan biaya dasar penerbangan internasional ke negara tujuan.
Kondisi tersebut diperparah oleh tekanan eksternal, berupa pelemahan nilai tukar rupiah yang merosot tajam terhadap dolar Amerika Serikat sejak akhir Maret 2026.
Nilai tukar yang per hari ini menembus angka Rp18.127 per USD membuat daya beli riil masyarakat Indonesia di luar negeri hancur seketika.
Ketika biaya tiket pesawat sudah terlanjur melejit akibat inflasi avtur, pembengkakan biaya akomodasi, konsumsi, dan logistik di negara tujuan akibat konversi kurs yang mahal, menjadi pukulan telak yang memaksa rencana liburan internasional dibatalkan secara massal.
Dampak jangka panjang dari anjloknya perjalanan wisnas tersebut akan langsung memukul industri agensi perjalanan wisata internasional domestik (outbound tour operator) yang berpotensi menghadapi ancaman penurunan omzet drastis hingga pengurangan tenaga kerja.
Namun, secara kritis, fenomena bertahannya jutaan pasang kaki warga lokal di dalam negeri akibat hambatan kurs dan tiket mahal tersebut merupakan peluang emas yang gagal dieksekusi pemerintah.
Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (Kemenpar RI) seharusnya bisa merancang strategi agresif untuk mengalihkan limpahan pasar wisnas agar berbelanja di destinasi domestik.
Hal tersebut demi menambal pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) yang di saat bersamaan ironisnya juga tengah merosot tajam hingga 24,14%.
Tanpa intervensi promosi destinasi lokal yang cerdas, uang belanja kelas menengah atas tersebut hanya akan mengendap di perbankan tanpa memberi dampak stimulan terhadap perputaran ekonomi daerah. (ADR)