JAKARTA, AFU.ID — Pemerintah didesak mempercepat revitalisasi pasar tradisional karena masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah semakin membutuhkan tempat belanja dengan harga terjangkau di tengah tekanan daya beli. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Indonesia Mohammad Faisal mengatakan masyarakat cenderung beralih dari ritel modern ke pasar tradisional untuk mencari bahan pangan yang lebih murah.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap pasar tradisional justru meningkat seiring dengan semakin banyak masyarakat yang memilih memasak di rumah dan mencari bahan pangan dengan harga yang lebih terjangkau,” kata Faisal, Jumat (17/7/2026). Menurut dia, perubahan pola konsumsi tersebut harus diimbangi dengan peningkatan fasilitas dan pelayanan pasar. Tanpa revitalisasi, pasar tradisional berisiko tidak mampu memberikan kenyamanan kepada konsumen yang mulai beralih.
Faisal mengatakan pembenahan tidak cukup dilakukan dengan merenovasi bangunan. Pemerintah juga perlu memperbaiki pengelolaan sampah, sanitasi, keamanan, penataan pedagang, fasilitas pembayaran, hingga keakuratan alat timbang. “Banyak pasar tradisional masih memiliki sejumlah kelemahan, mulai dari aspek kebersihan, fasilitas, kenyamanan, hingga penggunaan alat perdagangan seperti timbangan yang terkadang masih menjadi perhatian konsumen,” ujarnya.
Pasar tradisional juga tidak lagi hanya menjadi tempat penjualan bahan pangan mentah. Berbagai produk makanan olahan, pakaian, kosmetik, dan kebutuhan rumah tangga kini turut dipasarkan sehingga memperluas perannya dalam aktivitas ekonomi masyarakat kecil. Faisal menilai revitalisasi dapat membantu pedagang kecil mempertahankan konsumen di tengah ekspansi jaringan minimarket, pusat belanja, dan perdagangan melalui platform digital.
Kementerian Perdagangan mencatat sebanyak 5.075 pasar rakyat telah direvitalisasi sepanjang 2015–2024. Program tersebut tidak hanya mencakup pembangunan fisik, tetapi juga perbaikan pengelolaan, rantai distribusi, dan penerapan standar pasar. Sistem Informasi Sarana Perdagangan Kemendag saat ini memuat lebih dari 4.500 pasar yang telah terdata di berbagai daerah. Perbedaan jumlah dapat terjadi karena cakupan pendataan dan definisi program revitalisasi tidak selalu sama.
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik menunjukkan konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2026. Namun, data agregat tersebut tidak otomatis menunjukkan daya beli seluruh kelompok masyarakat berada dalam kondisi yang sama. Faisal menilai pasar tradisional dapat menjadi penggerak ekonomi lapisan bawah apabila mampu menawarkan harga terjangkau sekaligus lingkungan belanja yang bersih, aman, dan tertata. Revitalisasi juga harus memastikan pedagang lama tetap memperoleh ruang usaha dan tidak tersingkir akibat kenaikan harga sewa kios setelah pasar diperbaiki. (RHU)