AFU.id

Harga Pangan Turun Picu Deflasi Juli 2026, Daya Beli Masyarakat Belum Tentu Pulih

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Deflasi sebesar 0,14% yang tercatat pada Juli 2026 di Indonesia disebabkan oleh penurunan harga komoditas pangan, terutama bawang merah, cabai, dan telur, akibat meningkatnya pasokan selama musim panen. Meskipun ini menjadi kabar baik, daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih karena inflasi masih terjadi pada komponen inti dan beberapa kebutuhan pokok, dengan inflasi tahunan mencapai 2,88%. Oleh karena itu, penurunan harga pangan harus dipandang sebagai sinyal sementara, dan pemerintah perlu berupaya meningkatkan pendapatan masyarakat serta mengendalikan biaya hidup untuk memastikan manfaat deflasi dapat dirasakan secara lebih luas.

Harga Pangan Turun Picu Deflasi Juli 2026, Daya Beli Masyarakat Belum Tentu Pulih
Ilustrasi. (Foto: Magnific)

Deflasi Juli 2026 Perlu Dibaca Bersama Inflasi Tahunan

Membaca deflasi Juli 2026 hanya berdasarkan angka bulanan berpotensi menimbulkan kesimpulan yang kurang utuh. Pasalnya, inflasi tahunan Indonesia pada Juli 2026 masih berada di level 2,88% atau lebih tinggi ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi itu menunjukkan tekanan harga dalam jangka panjang masih dirasakan oleh masyarakat.

Kelompok transportasi masih menjadi salah satu penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan tingkat yang mencapai 5,12%. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi hingga 9,04%. Kedua kelompok itu memperlihatkan, biaya hidup masyarakat belum sepenuhnya mengalami penurunan.

Sarpono menjelaskan, seluruh komponen inflasi secara tahunan masih mengalami kenaikan meskipun terjadi deflasi pada Juli secara bulanan. Pendorong inflasi tahunan juga berasal berbagai komoditas penting, mulai beras, daging ayam ras, cabai merah, bensin, tarif angkutan udara, hingga emas perhiasan. “Inflasi tahunan Juli 2026 lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan Juli 2025,” tuturnya.

Deflasi Juli 2026 sebaiknya kita pandang sebagai sinyal stabilisasi harga pangan jangka pendek, bukan bukti bahwa daya beli masyarakat telah sepenuhnya pulih. Pemerintah Republik Indonesia (RI) tetap perlu memastikan penurunan harga komoditas musiman bersamaan dengan perbaikan pendapatan masyarakat dan terkendalinya biaya transportasi, pendidikan, serta kebutuhan dasar lainnya. Dengan demikian, manfaat penurunan inflasi dapat benar-benar dirasakan rumah tangga secara lebih luas dan berkelanjutan. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi