JAKARTA, AFU.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan sejarah kelam baru dengan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Posisi ini menjadi titik terlemah mata uang Garuda sepanjang sejarah perdagangan sejak republik ini berdiri.
Berdasarkan data Investing, Kamis (4/6/2026) sekitar pukul 06.45 WIB, dolar AS sempat bertengger di level Rp18.015. Bahkan, data Google Finance mencatat pergerakan yang lebih liar pada malam sebelumnya, di mana kurs dolar ke rupiah sempat menyentuh Rp18.022 per dolar AS.
Bloomberg, pada Kamis (4/6/2026) pukul 09.30 WIB, mengungkapkan, kurs rupiah berada di level Rp18.028 per dolar AS, melemah 62 poin atau 0,35 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Kendati seiring berjalannya waktu perdagangan perlahan bergerak turun ke kisaran Rp17.900, posisi ini mengonfirmasi bahwa fundamental ekonomi Indonesia sedang menghadapi tekanan multisektor yang luar biasa berat.
Para ekonom sepakat bahwa kejatuhan rupiah kali ini bukan sekadar fluktuasi musiman biasa, melainkan hasil dari kombinasi hantaman eksternal (global) dan kerentanan internal (domestik).
Faktor geopolitik global menjadi pemicu utama. Hubungan Amerika Serikat dan Iran yang terus memanas, terutama terkait mandeknya negosiasi isu pengayaan uranium, membuat pasar cemas akan potensi gangguan pasokan energi global melalui Selat Hormuz.
Menurut Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, ketegangan yang tak kunjung usai membuat investor global terus memburu dolar AS sebagai aset aman (safe haven).
"Rupiah versus dolar AS sangat rentan dengan isu eksternal. (Pelemahan rupiah) bisa sejauh mungkin kalau masalah (Iran-AS) gak beres-beres," kata Ariston, seperti dikutip Kompas.com.
Di sisi lain, pengamat pasar modal Ibrahim Assuaibi menyoroti bahwa lonjakan harga energi ini berpotensi menjaga inflasi AS tetap tinggi. Dampaknya, bank sentral AS (The Fed) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi dan lebih lama (higher for longer), bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini.
Tekanan diperparah oleh derasnya aliran modal keluar dari pasar keuangan Indonesia. Investor global secara massal memindahkan dananya dari pasar berkembang (emerging market) ke negara maju (developed market). Chief Economist Bank Tabungan Negara, Myrdal Gunarto, seperti dikutip Kompas.com, Kamis (4/6/2026) memaparkan data konkret mengenai pelarian modal ini.
Pada perdagangan Jumat (29/5/2026), dana asing yang keluar dari pasar saham domestik mencapai US$478,5 juta, dan berlanjut pada Selasa (2/6/2026) sebesar US$78,13 juta. Aksi jual masif ini terutama melanda saham-saham konglomerasi besar dan saham yang terkait dengan penyesuaian komposisi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Dari dalam negeri, likuiditas dolar AS makin kering akibat faktor musiman pembayaran dividen perusahaan kepada investor asing pasca-RUPS, serta kebutuhan ibadah haji. Namun, yang paling krusial adalah menipisnya benteng pertahanan devisa akibat ambruknya surplus neraca perdagangan.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa surplus perdagangan Indonesia pada April 2026 hanya tersisa sekitar US$0,09 miliar (sekitar 89 juta dolar AS). Angka ini anjlok drastis dibandingkan posisi Maret yang sempat mencapai US$3,32 miliar. Secara kumulatif, surplus Januari–April 2026 menyusut hingga 50%, yakni menjadi US$5,64 miliar dari US$11,07 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
“Pelemahan rupiah ke sekitar Rp17.900 terutama mencerminkan bahwa pasar masih melihat tekanan rupiah sebagai gabungan antara tekanan global dan tekanan domestik, bukan lagi sekadar faktor musiman,” tegas Josua Pardede, dalam keterangan persnya.
Ketika pasokan dolar dari ekspor seret, kebutuhan valas domestik justru melonjak tajam untuk membiayai impor minyak mentah dan LPG yang harganya sedang melambung tinggi. Tercatat pada awal Juni 2026, harga minyak mentah Brent telah bertengger di US$96 per barel dan WTI di level US$93,76 per barel. Sebagai negara net-importer minyak, lonjakan ini otomatis menguras pasokan dolar di dalam negeri.
Sorotan terhadap Kebijakan Fiskal
Di tengah remuknya nilai tukar, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada pengelolaan keuangan negara. Kebijakan fiskal pemerintah mendapat sorotan tajam dan kritik dari pengamat serta pelaku pasar.
Banyak pihak menilai pengeluaran negara yang agresif di tengah menyusutnya pendapatan dari komoditas, yang terlihat dari merosotnya surplus dagang, memberikan sentimen negatif. Beban utang luar negeri yang jatuh tempo serta tingginya biaya impor energi dianggap mencerminkan kurangnya bantalan fiskal yang kokoh untuk meredam syok eksternal.
Ketergantungan struktural terhadap impor energi dan ketidakpastian arah kebijakan fiskal terbaru dinilai membuat lembaga pemeringkat (rating agency) serta investor global mulai mempertanyakan arah disiplin anggaran pemerintah. Kondisi inilah yang dinilai pasar ikut andil memicu kepanikan, sehingga modal asing keluar secara ugal-ugalan dari pasar modal Indonesia.
Mendengar tudingan bahwa rupiah ambruk akibat pengelolaan anggaran yang serampangan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung pasang badan. Purbaya membantah keras narasi negatif tersebut dan menegaskan bahwa fundamental fiskal Indonesia justru berada dalam kondisi sangat sehat.
“Enggak ada. Anda pasti menuduh kebijakan fiskal, kan? Banyak yang bilang gara-gara fiskalnya berantakan. Jadi kalau ada isu pemerintah kebijakannya ngawur, fiskalnya ugal-ugalan, enggak begitu. Kita makin bagus,” cetus Purbaya dengan nada tinggi saat ditemui di kompleks parlemen, Senayan, Rabu (3/6/2026).
Purbaya memaparkan, realisasi APBN hingga Mei 2026 yang diklaimnya menunjukkan tren perbaikan dibanding bulan sebelumnya. Ia memberikan bocoran bahwa defisit anggaran Indonesia dalam lima bulan pertama tahun ini terjaga sangat rendah, yakni hanya di kisaran 0,7% hingga 1,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Selain itu, Menkeu mengklaim penerimaan pajak masih mampu tumbuh kokoh di atas 22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menurutnya, pelemahan tajam rupiah dalam beberapa hari terakhir murni disebabkan oleh faktor psikologis pasar yang terhasut oleh isu miring dan rumor tak bertanggung jawab.
Purbaya juga membantah isu dirinya selaku Menkeu telah memerintahkan perbankan nasional untuk bersiap melakukan stress test (uji ketahanan krisis) mengantisipasi skenario rupiah menembus level Rp18.000.
"Ada isu macem-macem, ada rumor macem-macem di pasar. Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress test kalau rupiahnya Rp18.000 lebih. Padahal saya nggak pernah isu seperti itu. Jadi banyak isu-isu di pasar yang membuat sentimen ke rupiah negatif," ujar Purbaya.
Terkait langkah stabilisasi kurs, Purbaya menegaskan bahwa yurisdiksi dan kewenangan teknis intervensi nilai tukar sepenuhnya berada di tangan Bank Indonesia (BI). Tugas Kementerian Keuangan adalah menjaga agar roda riil ekonomi tetap berputar cepat.
"Kewajiban saya adalah menjaga fondasi ekonomi aja. Supaya ekonominya berjalan terus semakin cepat. Kalau masalah nilai tukar, bank sentral adalah ahlinya. Kita serahkan saja ke bank sentral," tambahnya.
Meskipun volatilitas kurs sangat tinggi, otoritas moneter memastikan bahwa sistem perbankan Indonesia masih memiliki tameng yang tebal untuk memitigasi dampak rembetan konflik Timur Tengah. Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) mengungkapkan bahwa hasil stress test rutin bulanan menunjukkan kondisi perbankan tanah air masih sangat solid.
Ketahanan ini tecermin dari indikator makroprudensial per Maret 2026 yang berada di level aman. Rasio Kecukupan Modal (CAR) berada di level tinggi sebesar 25,09%, sangat kuat untuk menyerap risiko pasar. Kemudian, Rasio Kredit Bermasalah (NPL), terjaga rendah di level 2,14% (bruto) dan 0,83% (neto). Berikutnya, kapasitas permodalan dan likuiditas perbankan memadai serta profitabilitas korporasi masih terjaga baik.
Ke depan, BI bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi kebijakan. Pengamat pasar modal Ibrahim Assuaibi mengingatkan bahwa intervensi moneter harus dibarengi langkah nyata pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat di sektor riil, seperti penyaluran bantuan sosial yang tepat sasaran dan menjaga ketersediaan pasokan barang pokok di dalam negeri.
Pasar kini menanti apakah ketegangan geopolitik antara AS dan Iran bisa mereda, sebab pelonggaran tensi global tersebut dinilai menjadi kunci utama untuk memicu pelemahan dolar AS dan membawa rupiah kembali menguat secara bertahap ke zona realistis di kisaran Rp17.600–Rp17.750 per dolar AS.
MAR