JAKARTA, AFU.ID - Level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) kini bukan lagi sekadar proyeksi, melainkan kepastian yang sudah berada di depan mata. Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026), mata uang Garuda terparkir di level terendah sepanjang sejarah pada posisi Rp17.865/US$ menurut data Refinitiv.
Bahkan di level retail, sejumlah perbankan nasional dilaporkan telah memasang kurs jual dolar AS menembus Rp18.000. Fenomena ini menyisakan anomali besar. Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa pelemahan tajam ini terjadi justru saat dolar AS di pasar global sebenarnya mengalami pelemahan (melandai).
Mengapa performa Rupiah terpisah (decoupled* dari tren global dan terus terjun bebas sendirian? Ketika faktor eksternal mereda, masalah fundamental dalam negeri dan sentimen kebijakan domestik justru maju menjadi "tersangka utama" penekan Rupiah.
Berdasarkan analisis dari Lloyd Chan (Senior Currency Analyst MUFG) dan pengamat pasar, ada tiga faktor internal yang membuat investor asing tidak nyaman. Pertama, adanya pelebaran defisit transaksi berjalan dan risiko fiskal. Pasar mencemasi membengkaknya beban belanja negara dan arah kebijakan APBN ke depan.
Meskipun batasan defisit anggaran diatur ketat maksimal 3% dari PDB, kekhawatiran terhadap pengelolaan utang luar negeri tetap tinggi. “Termasuk defisit transaksi berjalan yang melebar, meningkatnya risiko fiskal, dan memburuknya sentimen terhadap arah kebijakan pemerintah,” tulis Chan, dalam riset yang disampaikan pada Rabu (28/5/2026) seperti dikutip IDN Financials.
Kedua, sentimen kebijakan domestik yang membingungkan. Kebijakan pemerintah dalam mengendalikan ekspor komoditas serta pengumuman pembentukan institusi superholding baru seperti PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) oleh Presiden Prabowo Subianto dinilai memicu ketidakpastian bagi pelaku pasar dan industri tambang yang terikat kontrak jangka pendek-menengah.
Ketiga, tekanan musiman (musim dividen dan utang luar negeri). Kuartal kedua selalu menjadi periode berat bagi Rupiah karena tingginya permintaan valas korporasi untuk pembayaran Utang Luar Negeri (ULN) serta repatriasi (pengiriman balik) dividen ke luar negeri, sementara pasokan dolar yang masuk sangat terbatas.
"Terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran ULN (utang luar negeri) dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny melalui keterangan tertulis, Jumat (29/5/2026).
Nilai tukar rupiah diprediksi masih berada dalam tekanan hingga awal pekan depan. Bahkan besar kemungkinan mata uang Paman Sam dapat tembus hingga ke level Rp 18.000.
"Untuk harga rupiah dalam minggu ini kalau tidak kena minggu depan ya itu Rp 18.000 sudah di depan mata. Karena saya melihat kalau Rp 18.000 ini tembus, kemungkinan besar ya ini akan menuju di Rp 18.200," kata analis komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi seperti dikutip Detikcom, Jumat (29/5/2026).
Masalahnya jika nilai dolar sudah tembus Rp 18.000, kondisi ini akan menimbulkan efek domino atau masalah berantai. Salah satunya mulai dari dampak psikologis kepada para investor baik dalam dan luar negeri serta para pelaku pasar untuk 'meninggalkan' rupiah demi mengamankan nilai aset mereka.
"Pada saat masyarakat melihat bahwa peluang untuk dolar yang terus mengalami penguatan, membuat masyarakat itu mengalihkan tabungannya dari tabungan konvensional ke tabungan valuta asing," tambah Ibrahim.
Jika angka Rp18.000 per US Dolar, benar-benar jebol pada pekan depan, dampak terbesar yang ditakuti para ekonom bukanlah sekadar angka di atas kertas, melainkan dampak psikologis masif yang melahirkan Spiral Down Effect (efek penurunan berantai yang saling mengunci).
Masyarakat kelas menengah ke atas dan pelaku pasar akan kehilangan kepercayaan pada stabilitas mata uang lokal. Kondisi ini memicu kepanikan psikologis di mana mereka berbondong-bondong mengalihkan tabungan konvensional Rupiah ke valuta asing (dolar AS). Semakin tinggi aksi beli dolar secara eceran karena panik, semakin hancur nilai tukar Rupiah.
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, memperingatkan efek riil domino ini ke sektor riil. Ketika rupiah anjlok, biaya impor bahan baku dan logistik akan meroket. Hal ini akan memicu produsen untuk menaikkan harga alias terjadi inflasi impor. Ujungnya bisa terjadi efisiensi dan atau yang paling parah, PHK massal di sektor padat karya seperti sektor manufaktur.
Pada kondisi tersebut, kata Bhima, pihak yang paling dirugikan adalah masyarakat dari kelompok pekerja atau kelas menengah. "Sudah harga komoditas makin mahal, kini dapat ancaman PHK yang berpotensi memutus pendapatan, sementara nilai tukar dolar terus merangkak naik imbas aksi beli kelompok 'orang tajir'," ujarnya seperti dikutip Detikcom, Jumat (29/5/2026).
Sementara kelompok menengah ke bawahnya hampir dipastikan tidak punya persiapan ketika rupiahnya menembus Rp18.000. "Masyarakat menengah ke bawah lah yang sebenarnya paling dirugikan saat ini karena mereka hampir tidak lagi memiliki tabungan hidupnya sudah dari pinjaman dan sekarang sudah mode survival bahkan di kelompok menengah," tambahnya.
Pemerintah sendiri sebenarnya sudah mengeluarkan jurus-jurus untuk menjinakkan Dolar terhadap Rupiah. Beberapa kebijakan telah diambil diantaranya, melakukan disiplin fiskal ketat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sendiri sudah jauh-jauh hari menjamin menjamin kepada pasar global bahwa defisit APBN tetap dijaga ketat di bawah amanat UU, yaitu maksimal 3% terhadap PDB, guna menepis isu pembengkakan utang yang ugal-ugalan.
Bank Indonesia (BI) juga sudah melakukam intervensi non-stop. BI masuk langsung ke pasar melakukan intervensi di tiga sektor sekaligus, transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, pasar spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
BI juga telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) guna mendongkrak carry valas tiga bulan agar aset rupiah kembali menarik di mata investor asing. Kemudian, BI juga sudah memangkas batas belanja (threshold) tunai beli dolar AS tanpa dokumen pendukung (underlying) menjadi maksimal US$25.000 per pelaku per bulan mulai Juni 2026, turun drastis dari sebelumnya US$50.000.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso memastikan, BI akan terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock. Selain itu, Bank Indonesia terus memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneter melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market guna menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan mendukung masuknya aliran modal asing.
Bank Indonesia menurut Ramdan Denny terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk mendukung stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar, antara lain melalui penguatan pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi.
"Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mendukung ketahanan eksternal perekonomian Indonesia," ujarnya, seperti dikutip CNBC Indonesia.
MAR