JAKARTA, AFU.ID — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan performa positif pada pembukaan perdagangan Rabu (6/5/2026) pagi.
Mata uang Garuda tercatat menguat sebesar 34 poin atau 0,20% ke level Rp17.390 per dolar AS.
Angka tersebut bergerak naik dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang tertahan di angka Rp17.424 per dolar AS.
Pemicu penguatan ini adalah kombinasi sentimen global terkait meredanya konflik di Timur Tengah dan data domestik yang menunjukkan resiliensi ekonomi Indonesia pada awal 2026.
Respons Pasar terhadap Kebijakan Donald Trump
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyampaikan bahwa penguatan rupiah sejalan dengan tren positif yang dialami mayoritas mata uang di kawasan regional.
Hal tersebut merupakan dampak langsung dari pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang mengisyaratkan deeskalasi militer terhadap Iran.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat, mengikuti penguatan mayoritas mata uang regional yang dibuka menguat seiring dengan melandainya harga minyak dan indeks dolar akibat pernyataan Presiden Trump bahwa intensitas serangan ke Iran akan diturunkan,” ungkap Rully Nova di Jakarta.
Berdasarkan laporan media Sputnik, Donald Trump memutuskan untuk menunda Project Freedom.
Proyek tersebut merupakan inisiatif yang terancang untuk menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz melalui kehadiran militer.
Langkah tersebut hadir guna memberikan ruang bagi tercapainya kesepakatan damai.
Keputusan tersebut juga mempertimbangkan permintaan dari Pakistan dan negara-negara mitra lainnya.
Kendati blokade tetap berlaku secara administratif, jeda operasional pada Project Freedom diharapkan menjadi katalisator bagi proses finalisasi dan penandatanganan perjanjian damai antara kedua negara dalam waktu dekat.
Ekonomi Domestik Tumbuh Pesat
Selain faktor eksternal, penguatan rupiah juga didukung oleh kondisi fundamental ekonomi dalam negeri yang solid.
Pasar merespons positif pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026.
BPS mencatat bahwa ekonomi Indonesia berhasil tumbuh sebesar 5,61% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Angka tersebut merupakan rekor pertumbuhan tertinggi yang berhasil Indonesia capai dalam kurun waktu empat tahun terakhir.
Prestasi tersebut memicu euforia di pasar keuangan karena dianggap melampaui ekspektasi di tengah ketidakpastian global.
Hanya saja, secara triwulanan (quarter-to-quarter), pertumbuhan ekonomi nasional mencatatkan kontraksi sebesar 0,77% ketimbang triwulan IV 2025.
Hal tersebut dinilai sebagai siklus musiman yang wajar terjadi di awal tahun.
Kinerja ekonomi yang ekspansif tersebut turut memunculkan harapan di kalangan investor terkait kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
Pasar memprediksi BI akan mengambil langkah proaktif dengan menaikkan suku bunga acuan pada kuartal ini.
Langkah kenaikan suku bunga dipandang perlu untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik serta mengendalikan inflasi, mengingat pertumbuhan ekonomi yang cukup agresif.
Sinergi antara meredanya risiko geopolitik dunia dan kuatnya fundamental ekonomi dalam negeri diharapkan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah hingga akhir pekan ini. (ADR/FAD)