JAKARTA, AFU.ID — Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengalami penurunan yang masif, sepanjang pekan ini (25-29 Mei 2026) tercatat sebesar 3,02%.
Pada Jumat (29/5/2026), bursa saham nasional mengalami fluktuasi tajam hingga berakhir dengan koreksi yang sangat tipis.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah ke level 6.112,77 sebagai reaksi spontan pelaku pasar pascalibur nasional dan cuti bersama Iduladha 2026.
Setelah pembukaan yang tertekan, indeks sempat menunjukkan pembalikan arah yang agresif pada Sesi I, melesat hingga 1,43% menuju level 6.217,88, bahkan sempat menyentuh titik tertinggi harian di level 6.230,00.
Namun, tekanan jual yang masif pada menit-menit terakhir menjelang penutupan Sesi II (pre-closing session) menyeret kembali indeks ke zona merah.
IHSG ditutup melemah minor sebesar 0,05% atau mengalami penurunan tipis sebesar 2,81 poin ke level 6.127,38.
Aktivitas perdagangan pada hari ini mencatatkan rekor luar biasa dengan total nilai transaksi harian mencapai Rp50,149 triliun.
Dari sisi keluasan pasar (market breadth), koreksi harga terjadi secara meluas di mana sebanyak 430 saham ditutup melemah, 284 saham berhasil menguat, dan 245 saham lainnya berakhir stagnan.
Secara akumulatif sepanjang pekan ini, IHSG mencatatkan penurunan performa mingguan yang cukup dalam, yakni terkoreksi sebesar -3,02%.
Level Pembukaan (Opening Level): 6.112,77;
Titik Tertinggi Harian (Daily High): 6.230,00;
Level Penutupan (Closing Level): 6.127,38;
Perubahan Harian (1-Day Change): -0,05% (-2,81 poin);
Total Nilai Transaksi Harian: Rp50,149 triliun;
Keluasan Pasar (Market Breadth): 284 saham menguat, 430 saham melemah, dan 245 saham stagnan;
Performa Mingguan (Weekly Return): -3,02%.
Phintraco Sekuritas mencermati fluktuasi tajam IHSG tak terlepas dari tanggal efektif rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada akhir pekan ini.
“Sehingga, IHSG diperkirakan berpotensi bergerak di kisaran 6.000 hingga 6.200,” tulis riset Phintraco Sekuritas.
Faktor Anjloknya IHSG
Berdasarkan data yang redaksi AFU.ID himpun, setidaknya terdapat lima faktor yang menyebabkan anjloknya IHSG sepanjang pekan terakhir Mei 2026.
Pertama, rebalancing indeks MSCI yang efektif berlaku pascapenutupan perdagangan hari ini, menjadi pemicu utama lonjakan volume transaksi harian dan volatilitas ekstrem IHSG.
Proses rebalancing memaksa pengelola dana asing (terutama passive index funds) melakukan penyesuaian bobot kepemilikan sahamnya di Indonesia secara mekanis pada menit-menit terakhir menjelang penutupan bursa.
Masifnya eksekusi order jual dari dana asing menciptakan tekanan luar biasa di pasar reguler dan aksi taktis oleh investor domestik.
“Efek penyeimbangan ulang MSCI biasanya berlangsung selama beberapa pekan hingga satu atau dua bulan,” ungkap Co Founder PasarDana, Hans Kwee.
Kedua, tekanan depresiasi nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp17.809 per dolar Amerika Serikat (USD) turut membayangi pasar ekuitas domestik.
Depresiasi mata uang yang sangat tajam menembus jauh di bawah asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yakni Rp16.500 per USD.
Pelemahan kurs rupiah terhadap USD memicu kekhawatiran mengenai meningkatnya beban biaya impor korporasi dan risiko inflasi (imported inflation).
Faktor ketiga adalah kebijakan moneter agresif Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin, dari 4,75% menjadi 5,25%.
Kebijakan tersebut bertujuan untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan meredam volatilitas nilai tukar rupiah akibat eskalasi geopolitik dunia.
Hanya saja, kenaikan BI Rate berimplikasi langsung terhadap peningkatan biaya modal (cost of fund) bagi emiten bursa yang akhirnya menekan prospek pertumbuhan laba bersih jangka pendek.
Penyebab keempat, defisit neraca pembayaran dan perlambatan likuiditas yang membatasi daya dukung modal lokal di pasar saham dalam jangka menengah.
Data makroekonomi terbaru menunjukkan, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I-2026 mencatatkan defisit seiring melemahnya kinerja transaksi berjalan dan akun finansial.
Di saat yang sama, pertumbuhan likuiditas perekonomian (M2) melambat menjadi 9,2% secara tahunan (Year on Year, YoY) pada April 2026 akibat melambatnya pertumbuhan simpanan atau deposito perbankan.
Faktor terakhir alias kelima, pelaku pasar bersikap antisipatif terhadap rencana baru Pemerintah Republik Indonesia (RI).
Yang mana, pemerintah menerapkan menerapkan kebijakan ekspor satu pintu untuk komoditas sumber daya alam (SDA) utama, seperti batu bara, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), dan feronikel per 1 Juni 2026.
Pengawasan ekspor yang nantinya beralih secara terpusat di bawah entitas superholding Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menimbulkan ketidakpastian regulasi jangka pendek bagi emiten-emiten sektor komoditas dan energi. (ADR)