AFU.ID, JAKARTA - Ekspor perikanan Indonesia mencatatkan nilai USD983,14 juta atau setara Rp16,7 triliun sejak Januari hingga menjelang Idulfitri 2026.
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI) melaporkan volume pengiriman ikan ke berbagai negara mitra telah menyentuh angka 197.718 ton hingga pertengahan Maret 2026.
Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil KKP RI, Ishartini menyampaikan bahwa mutu produk nasional telah memenuhi standar global.
Penerbitan Sertifikat Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SMKHP) menjadi kunci utama keberterimaan komoditas laut asal Indonesia di lebih dari 140 negara tujuan.
“Sampai dengan penghentian sementara angkutan barang pada 13 Maret lalu, sistem kami mencatat bahwa ekspor ikan telah mencapai 197.718 ton yang ditaksir nilainya mencapai 16,7 triliun rupiah,” ungkapnya dikutip AFU.ID dari website KKP RI pada Jumat, 20 Maret 2026.
Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang menempati urutan teratas sebagai negara penyerap produk perikanan terbesar, disusul oleh negara-negara kawasan Asia Tenggara.
Komoditas unggulan yang paling diminati pasar internasional meliputi udang vaname, tuna, cumi-cumi, rajungan, dan rumput laut dengan ribuan variasi produk.
“Jenis produk yang diekspor telah mencapai 486 HS Code, hal tersebut membuktikan keberterimaan ikan Indonesia di pasar global sangat baik serta dipercaya mutu dan keamanannya,” tutur Ishartini.
Akan tetapi, eskalasi geopolitik di Timur Tengah memberikan dampak pada rantai pasok logistik dunia yang mengakibatkan penurunan volume pengiriman ketimbang tahun lalu.
Kendala transportasi seperti perubahan rute kapal (shipment), keterbatasan kontainer, dan kenaikan biaya tambahan logistik turut berkontribusi menaikkan harga produk di pasar.
“Demand produk relatif masih stabil, indikasinya dari permohonan SMKHP, hanya saja memang dari sisi volume agak terkendala logistik,” ujar Ishartini.
“Transportasi terkena imbas eskalasi, misalnya biaya tambahan kontainer yang semuanya berkontribusi menaikkan harga,” sambungnya.
Pemerintah terus menjalin komunikasi intensif dengan otoritas negara mitra guna mencari solusi konstruktif dalam menjaga stabilitas nilai perdagangan di tengah dinamika global.
Penguatan pasar domestik juga menjadi strategi alternatif KKP RI untuk menjaga ketersediaan protein ikan bagi masyarakat, sekaligus menjaga kesejahteraan para pelaku usaha perikanan.