JAKARTA, AFU.ID – Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, mendorong masyarakat di 328 kampung kembali menanam pangan lokal. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan beras dari luar wilayah. Bupati Jayawijaya, Atenius Murib, mengatakan wilayah Jayawijaya memiliki lahan yang luas dan dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menanam komoditas pangan lokal, seperti betatas, singkong, dan berbagai jenis umbi-umbian.
“Pangan lokal seperti betatas, singkong, dan berbagai jenis umbi-umbian, menjadi kekuatan kita dalam menjaga ketahanan daerah maupun nasional,” kata Atenius dalam keterangannya di Wamena, Sabtu (4/7/2026). Menurut Atenius, masyarakat perlu kembali mengolah lahan kampung agar kebutuhan pangan tidak sepenuhnya bergantung pada beras. Apalagi, distribusi beras ke wilayah Jayawijaya tidak selalu berjalan lancar.
Atenius mengatakan pangan lokal seperti betatas dan singkong dapat menjadi makanan pokok pengganti nasi. Selain mudah ditanam di wilayah pegunungan, pangan tersebut juga dinilai baik untuk dikonsumsi masyarakat. “Makanan-makanan tradisional seperti betatas, singkong, sangat baik untuk dikonsumsi oleh masyarakat karena makanan rendah gula dan sehat bagi tubuh,” ujarnya.
Ia menilai penguatan pangan lokal penting agar keterlambatan distribusi beras tidak langsung mengganggu konsumsi masyarakat. Jika warga memiliki kebun dan cadangan pangan sendiri, kebutuhan makan harian tetap dapat dipenuhi dari hasil kampung. “Kami mengajak seluruh masyarakat di 328 kampung untuk dapat kembali ke kampung, menanam umbi-umbian karena sebagai makanan pokok pengganti nasi,” kata Atenius.
Selain untuk konsumsi keluarga, Pemkab Jayawijaya juga mendorong pangan lokal dikembangkan menjadi produk usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM. Betatas, singkong, dan umbi-umbian lain dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. Atenius mengatakan penguatan pangan lokal tidak hanya penting untuk kemandirian pangan, tetapi juga dapat membantu ekonomi masyarakat kampung.
Menurutnya, hasil pertanian dan perkebunan di Papua Pegunungan memiliki keunggulan karena banyak ditanam secara alami. Masyarakat setempat disebut sejak lama menanam sayuran, buah-buahan, dan umbi-umbian tanpa menggunakan pupuk kimia. “Sehingga hasilnya sangat sehat, luar biasa dan rasanya pun alami serta menyegarkan,” ujarnya.
Atenius menyampaikan hal itu saat melihat dan memanen betatas di Kampung Taganek, Distrik Yalengga, Kabupaten Jayawijaya, bersama Ketua TP PKK Kabupaten Jayawijaya, Idawari Waromi. Pemkab Jayawijaya berharap gerakan kembali menanam pangan lokal dapat memperkuat kemandirian pangan masyarakat sekaligus menjaga pangan khas Papua Pegunungan. (FAD)