JAKARTA, AFU.ID — PT Pertamina Patra Niaga mendorong program ketahanan pangan berbasis pemberdayaan masyarakat melalui budi daya ikan dan urban farming. Program ini menyasar warga di sekitar wilayah operasional perusahaan dengan memanfaatkan potensi lokal.
“Melalui pendekatan tersebut, Pertamina Patra Niaga menghadirkan solusi yang tidak hanya meningkatkan ketersediaan pangan, tetapi juga memperkuat kesejahteraan masyarakat,” kata Roberth dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (7/6/2026).
Salah satu program yang dijalankan adalah budi daya ikan berbasis teknologi bioflok di Kelurahan Mundam, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, Riau.
Program itu menyasar masyarakat pesisir yang selama ini bergantung pada hasil tangkapan laut. Ketergantungan tersebut kerap terganggu oleh cuaca, keterbatasan sarana perikanan, dan ancaman abrasi.
Melalui teknologi bioflok, warga memiliki alternatif sumber pangan dan pendapatan dari budi daya ikan nila. Masa panen ikan disebut berkisar empat hingga enam bulan.
Program tersebut juga didukung pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 4,4 kWp. Fasilitas itu diklaim mampu menghemat biaya listrik hingga Rp9,3 juta per tahun dan mengurangi emisi karbon sebesar 5,52 ton CO2 per tahun.
Di Sumatera Utara, Pertamina Patra Niaga melalui Fuel Terminal Pematang Siantar mengembangkan program Siantar Habonaron. Program itu berupa urban farming terpadu dengan memanfaatkan pekarangan rumah warga.
Model tersebut menggabungkan peternakan ayam petelur, budi daya sayuran, pengelolaan limbah organik, dan maggot. Hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Limbah kotoran ayam dimanfaatkan sebagai media tanam. Sisa makanan rumah tangga diolah menjadi pakan maggot, lalu digunakan kembali sebagai pakan ternak.
Salah satu anggota kelompok Habonaron, Asih, mengatakan bantuan tersebut membantu memenuhi kebutuhan makan anaknya dari hasil ternak yang dikelola.
Roberth mengatakan ketahanan pangan dapat diperkuat melalui pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Program pangan lokal dinilai perlu memberi manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan.
“Karena itu, kami terus menghadirkan program-program yang mengoptimalkan potensi lokal,” ujarnya.
Program ini menunjukkan ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Pada tingkat warga, budi daya ikan, pekarangan produktif, dan pengelolaan limbah bisa menjadi cara sederhana untuk memperkuat pangan keluarga.
Namun, keberlanjutan program tetap perlu dilihat dari dampaknya di lapangan. Bantuan teknologi dan fasilitas harus benar-benar membuat warga lebih mandiri, bukan hanya menjadi contoh program yang selesai di laporan perusahaan. (RHU)