JAKARTA, AFU.ID — Sikap tegas ditunjukkan SMAN 1 Pontianak. Di tengah keputusan lomba ulang Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar Kalimantan Barat oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, sekolah ini justru memilih tidak ikut.
Langkah itu bukan tanpa alasan. Kepala sekolah Indang Maryati menegaskan, sejak awal pihaknya hanya meminta klarifikasi, bukan pembatalan hasil. Tujuannya jelas—transparansi dan keadilan penilaian.
Namun bola sudah bergulir jauh. MPR lebih dulu memutuskan lomba final diulang setelah polemik penilaian mencuat ke publik. Ketua MPR Ahmad Muzani bahkan memastikan proses ulang akan digelar dengan mekanisme baru.
Di titik ini, SMAN 1 Pontianak mengambil garis berbeda.
Mereka menerima hasil yang sudah ada. Tidak menggugat. Tidak memperpanjang sengketa. Bahkan secara terbuka menyatakan dukungan kepada SMAN 1 Sambas sebagai wakil Kalimantan Barat ke tingkat nasional.
Keputusan mundur dari lomba ulang menjadi penegasan sikap—bahwa polemik tak harus selalu diselesaikan dengan pengulangan.
Di sisi lain, langkah ini sekaligus mengirim pesan. Bahwa persoalan utama bukan sekadar siapa menang atau kalah, melainkan bagaimana sistem penilaian dijalankan. Transparansi, akuntabilitas, dan konsistensi menjadi sorotan yang tak bisa dihindari.
SMAN 1 Pontianak juga meminta maaf atas kegaduhan yang sempat muncul. Ajakan disampaikan: selesaikan persoalan dengan kepala dingin, tanpa saling menjatuhkan.
Kini, panggung LCC Kalbar berubah arah. Lomba ulang tetap berjalan, tapi tanpa salah satu kontestan utamanya. Situasi yang sebelumnya panas, beralih menjadi ujian kepercayaan—baik bagi penyelenggara, maupun bagi publik yang menonton dari luar.
Pilihan sudah diambil. Tinggal bagaimana konsekuensinya dijawab. (*)