Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
25 Ton Ikan di Danau Gunung Batur Mati Misterius, Masyarakat Diimbau Tidak Mendekat Ada Gas Beracun
Bagikan:
Penulis: Erik Erfinanto
Ringkasan Berita
Sebanyak 25 ton ikan di Danau Batur, Bali, mati mendadak setelah terjadi letupan gas berbau belerang, diduga akibat pelepasan gas beracun dari dasar danau yang dipicu oleh fenomena alami, bukan aktivitas vulkanik. Badan Geologi Kementerian ESDM menjelaskan bahwa percampuran massa air menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut, yang berakibat pada kematian massal ikan. Masyarakat dan wisatawan diimbau untuk tidak mendekati kawasan tersebut dan selalu mengikuti informasi resmi terkait kondisi danau dan Gunung Batur, yang saat ini masih berstatus normal.
Fenomena 25 ton ikan di Danau Batur mendadak mati, diduga karena gas beracum. (FOTO AFUID)
Jakarta, AFU.ID — Sedikitnya 25 ton ikan di Danau Batur, Kabupaten Bangli, Bali, mati secara mendadak setelah terjadi letupan gas berbau belerang dari kawasan kaldera Gunung Batur. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menduga kematian massal ikan dipicu naiknya gas beracun dari dasar danau akibat fenomena alam, bukan karena aktivitas erupsi gunung api. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menjelaskan fenomena tersebut berkaitan dengan dinamika limnologis dan sistem hidrotermal alami di dalam kaldera Gunung Batur. "Berdasarkan analisis Badan Geologi, fenomena letupan gas yang disertai kematian ikan diduga berkaitan dengan dinamika alami danau," kata Lana, Jumat (24/7/2026).
Menurut dia, pada kondisi tertentu terjadi percampuran massa air atau overturn/upwelling yang mengangkat air dari lapisan dasar danau ke permukaan. Air dari dasar danau tersebut miskin oksigen dan mengandung gas terlarut, termasuk hidrogen sulfida (H₂S), yang dikenal sebagai gas berbau belerang. Pelepasan gas tersebut menyebabkan kadar oksigen terlarut di permukaan danau menurun drastis sehingga memicu kematian ikan secara massal. Bau belerang yang tercium di sekitar danau juga berasal dari gas hidrogen sulfida yang ikut terlepas ke permukaan.
Meski demikian, Badan Geologi menegaskan fenomena tersebut bukan merupakan pertanda akan terjadinya erupsi Gunung Batur. Hingga kini tidak terdeteksi adanya peningkatan aktivitas vulkanik dan status Gunung Batur masih berada pada Level I atau Normal. "Masyarakat dan wisatawan tetap diimbau tidak beraktivitas di kawasan kawah Gunung Batur serta selalu mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi," ujar Lana.
Sebelumnya, ribuan ikan nila, termasuk ikan dalam keramba milik pembudidaya, ditemukan mati sejak Senin (20/7) sekitar pukul 03.30 WITA. Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangli I Wayan Agus Wirawan mengatakan hingga Jumat (24/7), jumlah ikan mati yang telah terdata mencapai sekitar 25 ton. "Itu yang baru tercatat ada 25 ton ikan mati. Kalau total secara keseluruhan hingga saat ini jumlah ikan yang mati itu kami belum berani memastikan," kata Agus.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangli Wayan Sarma mengatakan pendataan kerugian masih berlangsung karena semburan gas berbau belerang belum sepenuhnya berhenti. Pemerintah daerah masih menghitung total ikan yang mati akibat fenomena tersebut. Atas kejadian itu, masyarakat diimbau tidak mendekat ke lokasi. (EER)