JAKARTA, AFU.ID — Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Riau meminta masyarakat setempat selalu menjaga kebersihan lingkungan masing-masing guna mencegah penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD)
Kepala Dinkes Provinsi Riau Zulkifli di Pekanbaru, Sabtu, (23/5/2026) mengatakan faktor lingkungan yang kurang bersih menjadi salah satu penyebab utama berkembang nyamuk Aedes aegypti sebagai pembawa virus dengue.
Oleh karena itu, menurut dia, hal ini harus menjadi perhatian masyarakat.
Dinkes Provinsi Riau mencatat 1.682 kasus DBD sejak Januari hingga April 2026, tersebar di 12 kabupaten/kota di daerah itu dengan 12 kasus di antaranya meninggal dunia.
“Selama empat bulan terakhir, sebanyak 1.682 warga Riau telah terjangkit DBD. Ini bukan hal yang bisa kita anggap sepele. Semua pihak harus berperan aktif dalam pencegahannya,” katanya.
Dari total jumlah kasus DBD tersebut, katanya, angka paling banyak ditemukan di Kabupaten Rokan Hilir yakni 282 kasus dengan empat di antaranya meninggal dunia, Kabupaten Bengkalis 230 kasus dengan satu orang meninggal dunia.
Selain itu, Kota Dumai 208 kasus dengan satu orang meninggal dunia, Kabupaten Kampar 165 kasus dengan tiga orang meninggal dunia, Rokan Hulu 98 kasus dengan satu orang meninggal dunia, dan Indragiri Hulu 80 kasus dengan satu orang meninggal dunia.
Selain itu, Kabupaten Indragiri Hilir 81 kasus dengan satu meninggal dunia, Pekanbaru 251 kasus, Kuantan Singingi 130 kasus, Siak 50 kasus, Pelalawan 72 kasus, dan Kepulauan Meranti 35 kasus.
Sebagai bentuk kewaspadaan, pihaknya telah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan dan pengendalian peningkatan kasus DBD.
Upaya pencegahan yang dapat dilakukan dengan cara pemberantasan sarang nyamuk (PSN) mulai dari lingkungan rumah masing-masing.
Kegiatan PSN harus difokuskan pada tempat-tempat yang disukai nyamuk Aedes aegypti tersebut, seperti pada genangan air yang tidak bersentuhan dengan tanah secara langsung.
"Seperti misalnya bak kamar mandi, tempat penampungan air, air pembuangan kulkas tempat minum burung, pot bunga, dispenser air minum (wadah limpahan airnya), atau barang bekas di sekitar rumah," ujarnya. (ANT/RHU)