JAKARTA, AFU.ID — Serangan monyet liar terhadap 18 warga di Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, memunculkan pertanyaan mengenai kondisi habitat satwa di sekitar kawasan permukiman. Anggota Komisi IV DPR Daniel Johan meminta pemerintah tidak hanya menangkap atau merelokasi satwa, tetapi juga menyelidiki kemungkinan perubahan tutupan hutan, kebakaran, maupun alih fungsi lahan yang mendorong monyet keluar dari habitatnya.
“Kalau monyet sampai berkali-kali masuk ke permukiman dan menyerang warga, kemungkinan besar itu karena mereka kehilangan sumber makanan di habitat aslinya, entah karena hutan yang menyusut, tutupan lahan yang berubah, atau adanya kerusakan lingkungan yang perlu dicari akar masalahnya,” kata Daniel, Jumat (07/08/2026).
Pernyataan tersebut masih berupa dugaan yang perlu dibuktikan melalui pemeriksaan kondisi habitat di lapangan. Hingga kini, belum ada hasil investigasi resmi yang memastikan kerusakan hutan menjadi penyebab langsung rangkaian serangan monyet tersebut.
Namun, konflik antara manusia dan primata memang dapat meningkat ketika lanskap berubah dan ruang antara habitat alami dengan permukiman semakin sempit. Pendekatan mitigasi yang direkomendasikan peneliti antara lain menjaga zona penyangga dan sumber pakan alami agar satwa tidak terdorong masuk ke kawasan manusia.
Daniel meminta investigasi menyeluruh terhadap kawasan hutan di sekitar Tembilahan. Pemeriksaan menurutnya perlu melihat kemungkinan deforestasi, kebakaran hutan dan lahan, alih fungsi lahan, maupun faktor lain yang mengubah sumber pakan dan jalur pergerakan satwa.
“Temuan ini harus jadi pijakan untuk membenahi tata kelola hutan dan kawasan penyangga, supaya fungsinya sebagai rumah dan sumber pangan satwa liar tetap terjaga,” ujarnya.
Desakan itu muncul ketika Riau kembali menghadapi tekanan kebakaran hutan dan lahan sepanjang 2026. Data yang dihimpun Mongabay dari sistem pemantauan pemerintah mencatat luas karhutla di Riau hingga 24 Juni telah mencapai lebih dari 15 ribu hektare. Indragiri Hilir termasuk wilayah yang mengalami kebakaran cukup luas pada periode tersebut.
Kondisi gambut di Indragiri Hilir juga masuk dalam perhatian pemerintah. Evaluasi hidrologi pada pertengahan 2026 mencatat puluhan titik muka air tanah di wilayah tersebut berada dalam kategori rawan, kondisi yang meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran gambut.
Meski demikian, data karhutla dan gambut tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa serangan monyet di Tembilahan disebabkan langsung oleh kebakaran atau deforestasi. Pemeriksaan habitat, jenis monyet, pola pergerakan, serta ketersediaan pakan tetap diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Serangan monyet di Tembilahan sebelumnya menyebabkan sedikitnya 18 warga mengalami luka. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Indragiri Hilir Junaidi Ismail mengatakan seluruh korban telah mendapat penanganan medis dan diperbolehkan pulang.
Petugas DPKP Indragiri Hilir bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau, kepolisian, TNI, dan masyarakat melakukan penanganan di lapangan. Salah satu monyet yang diduga terlibat dalam serangan juga telah ditangkap untuk diidentifikasi lebih lanjut.
Daniel meminta penanganan terhadap satwa tetap mengedepankan prinsip konservasi. Menurutnya, monyet yang tertangkap perlu dievakuasi dan ditempatkan kembali pada habitat yang layak, bukan sekadar dimusnahkan karena dianggap mengganggu.
Ia juga mendorong pemerintah menyiapkan sistem mitigasi dan peringatan dini di daerah yang rawan konflik manusia-satwa serta memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai cara menghadapi satwa liar yang memasuki permukiman.
Kasus di Tembilahan karena itu tidak berhenti pada persoalan 18 warga yang terluka. Penyebab satwa berulang kali masuk ke permukiman menjadi bagian yang perlu dijawab agar konflik serupa tidak terus berulang. (RHU)