JAKARTA. AFU.ID - Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), K.H. Miftachul Akhyar, menegaskan, Nahdlatul Ulama (NU) saat ini sedang menghadapi tantangan peradaban yang kian kompleks. Menghadapi situasi tersebut, jamiyah NU dinilai membutuhkan lompatan strategis dalam menjalankan khidmat kepada umat.
K.H. Miftachul Akhyar menjabarkan terdapat tiga kebutuhan mendesak yang wajib diperkuat oleh seluruh elemen NU untuk menjawab tuntutan masa kini dan masa depan. Pertama, membangkitkan kesadaran sosial (dhamir Ijtima'i). Menggerakkan kembali kepedulian di tengah umat melalui langkah-langkah konkret yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Kedua, membangun opini publik berlandaskan moral. Menciptakan opini publik yang sehat agar tumbuh kontrol sosial yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat. Ketiga, memperkuat kualitas kepemimpinan. Melahirkan kepemimpinan yang berlandaskan semangat jihad dan ijtihad demi menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kontemporer bangsa.
“Jamiyah kita yang terorganisasi ini, demi menghadapi tuntutan masa kini dan masa depan, berada dalam kondisi sangat membutuhkan tiga hal penting,” ujar K.H. Miftachul Akhyar, dalam keterangannya, Minggu (21//6/2026).
Ia menggarisbawahi bahwa kepemimpinan di tubuh NU menuntut kesungguhan perjuangan, keluasan ilmu, kecerdasan, serta ketepatan dalam mengambil keputusan terhadap berbagai persoalan baru yang berkembang di masyarakat.
Merespons arahan tersebut, Ketua PBNU yang juga Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyatakan bahwa Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 menjadi forum yang sangat strategis. Forum ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang konsolidasi organisasi, tetapi juga wadah merumuskan solusi atas persoalan umat dan negara.
Menurut Khofifah, poin-poin yang disampaikan oleh Rais Aam harus menjadi panduan penting bagi seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama.
“Pesan yang disampaikan Rais Aam menjadi pengingat bahwa menjaga marwah tidak cukup hanya menjaga integritas dan moralitas organisasi, tetapi juga harus diwujudkan melalui khidmat yang semakin nyata dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” kata Khofifah di Kediri, Minggu (21/6/2026).
Khofifah optimistis forum permusyawaratan para ulama ini akan menelurkan keputusan-keputusan terbaik untuk membangun kemaslahatan sosial serta mempererat tali persaudaraan (*ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah,* dan ukhuwah basyariyah).
Lebih lanjut, Khofifah menambahkan bahwa Jawa Timur memiliki tanggung jawab besar dalam mendukung penguatan peran pesantren dan NU. Hal ini mengingat Jatim merupakan rumah bagi ribuan pondok pesantren yang menjadi pilar pembangunan sumber daya manusia, ekonomi umat, serta nilai kebangsaan.
“Kami meyakini pesantren dan Nahdlatul Ulama memiliki peran sangat penting dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian sosial sebagaimana yang menjadi pesan utama Rais Aam,” tuturnya.
Menutup keterangannya, Khofifah menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PBNU, keluarga besar Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri selaku tuan rumah, para kiai, santri, relawan, serta seluruh panitia yang telah bekerja keras mempersiapkan gelaran Munas dan Konbes NU 2026.
(ANT/MAR)