Jakarta, AFU.ID - Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 yang akan digelar di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Desa Mojo, Kabupaten Kediri, pada 20-22 Juni 2026 mendatang, dipastikan akan dihadiri lebih dari 500 peserta dan peninjau.
Acara ini menjadi tahapan konstitusional yang wajib digelar sebelum puncak Muktamar NU ke-35 yang akan berlangsung pada 1-5 Agustus 2026. Forum tertinggi bagi warga NU ini akan menentukan arah kepemimpinan dan program jam'iyah Islam terbesar di dunia ini untuk periode mendatang.
Ketua Organizing Committee (OC) Munas dan Konbes NU 2026 yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menyatakan, persiapan teknis terus dimatangkan dengan seksama.
"Iya, insyaallah dihadiri lebih dari 300 peserta. Dengan peninjau, jumlah keseluruhannya diperkirakan lebih dari 500 orang," kata Gus Ipul saat ditemui NU Online di Gedung PBNU, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, panitia tidak hanya menyiapkan venue, tetapi juga memastikan seluruh aspek logistik berjalan optimal. Mulai dari akomodasi peserta, transportasi antar lokasi, konsumsi, hingga pengaturan teknis ruang sidang, semuanya sedang disinkronkan. "Jadi ini memerlukan koordinasi yang baik antar semua pihak," ujarnya.
Gus Ipul juga menyampaikan apresiasi kepada Pondok Pesantren Al-Falah Ploso yang telah menunjukkan kesiapan sebagai tuan rumah. "Persiapan matang dari tuan rumah," kata dia, "sangat memudahkan PBNU dalam melakukan koordinasi secara keseluruhan."
Proses Menuju Muktamar
Tata tertib organisasi NU mengatur, Muktamar sebagai forum tertinggi tidak dapat dilaksanakan tanpa melalui serangkaian tahapan pra-muktamar yang telah ditetapkan PBNU. Rangkaian ini mencakup Munas Alim Ulama dan Konbes NU sebagai forum musyawarah strategis.
Munas Alim Ulama berperan sebagai ruang bagi para ulama untuk mendalami isu-isu keagamaan kontemporer, membahas fikih sosial, dan mengeluarkan rekomendasi fatwa yang menjadi landasan moral dan intelektual untuk lima tahun ke depan.
Sementara Konbes, lebih menekankan pada aspek organisasional, seperti evaluasi laporan pertanggungjawaban pengurus, penyusunan program kerja lima tahunan, serta rekomendasi kebijakan strategis bagi jam'iyah.
"Prinsipnya, sesuai keputusan PBNU, kita melaksanakan Munas dan Konbes menuju Muktamar pada bulan Agustus yang akan datang," tegas Gus Ipul.
Ia mengajak seluruh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) di seluruh Indonesia untuk mempersiapkan diri dengan serius.
"Sebagai forum tertinggi di jam'iyah NU, semoga bisa menghasilkan keputusan berkualitas yang mampu menggerakkan jam'iyah ini untuk berperan pada abad keduanya," tuturnya.
Proses ini diawali sejak pembentukan kepanitiaan, pengumpulan materi dari berbagai daerah, hingga silaturahmi ke tuan rumah. Semua bertujuan agar Muktamar nanti tidak hanya bersifat prosedural, melainkan benar-benar mencerminkan aspirasi dari akar rumput NU yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara.
Koordinator Keamanan Munas-Konbes NU, Addin Jauharuddin, menyatakan bahwa pihaknya telah menggelar rapat internal berkali-kali untuk mematangkan skema pengamanan.
"Pada prinsipnya kami sudah melakukan rapat internal beberapa kali. Seluruh tim yang diperbantukan dari Barisan Ansor Serbaguna (Banser), Pagar Nusa, Satgas IPNU-IPPNU, dan Garda Fatayat sudah siap membantu melancarkan agenda Munas dan Konbes ini," ujarnya.
Addin menegaskan seluruh unsur pengamanan akan bekerja dalam satu komando terpadu. "Prinsipnya satu komando, siap melancarkan dan memastikan tidak ada gangguan apa pun di lapangan selama acara berlangsung," pungkasnya.
Siapa Paling Kuat?
Sebagai bentuk penghargaan dan memohon keberkahan, rombongan PBNU yang dipimpin langsung oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Wakil Rais Aam KH Anwar Iskandar, beserta Gus Ipul, melakukan silaturahmi ke Pondok Pesantren Al-Falah Ploso pada Sabtu (6/6/2026).
Dalam kesempatan itu, Rais Aam menyampaikan terima kasih secara khusus kepada Pengasuh Pesantren KH Nurul Huda Djazuli beserta seluruh keluarga besar.
"Beliau juga memohon doa restu kepada Kiai Huda Djazuli agar Munas dan Konbes berjalan lancar, menghasilkan keputusan yang baik, dan penuh keberkahan," kata Gus Ipul.
Gus Ipul menambahkan, kunjungan tersebut bukan sekadar mengecek kesiapan teknis, melainkan juga memohon doa dan restu spiritual.
"Kami datang untuk memohon doa dan restu kepada Kiai Nurul Huda Djazuli. Semoga Munas dan Konbes NU dapat berjalan lancar, penuh keberkahan, dan menghasilkan keputusan-keputusan terbaik untuk jam'iyah Nahdlatul Ulama," ujarnya.
Di tengah persiapan Munas dan Konbes, diskusi mengenai bakal calon Ketua Umum PBNU periode 2026-2031 mulai semakin mengemuka. Abdussalam Shohib alias Gus Salam, cucu KH Bisri Syansuri dan Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar Jombang, menyebut beberapa nama kuat yang potensial.
Di antaranya adalah Ketua Umum PKB sekaligus Menko Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar (Cak Imin), petahana Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), serta dirinya sendiri yang menyatakan kesiapan maju sebagai bakal calon.
Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar dinilai belum memiliki peluang kuat, dan Menteri Haji KH Mochamad Irfan Yusuf Hasyim (Gus Irfan) telah menyatakan tidak berminat. Gus Ipul sendiri disebutkan tidak akan mencalonkan diri.
Meski demikian, Gus Salam menegaskan bahwa semua kader NU yang memenuhi syarat berhak mencalonkan diri sesuai mekanisme organisasi yang akan ditetapkan dalam Muktamar nanti. (EER)