AFU.id

Profil 4 Kandidat Caketum PBNU di Muktamar 2026, Siapa Paling Kuat?

Bagikan:

Penulis: Erik Erfinanto

Ringkasan Berita

Empat kandidat telah menyatakan kesiapan untuk maju dalam pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar Ke-35 yang akan berlangsung pada Agustus 2026, yaitu petahana KH Yahya Cholil Staquf, KH Abdul Ghaffar Rozin, KH Zulfa Mustofa, dan KH Abdul Hakim Mahfudz. Muktamar kali ini diprediksi lebih dinamis dengan munculnya figur-figur yang memiliki latar belakang beragam serta menawarkan berbagai narasi, mulai dari keberlanjutan program hingga evaluasi internal organisasi. Setiap kandidat memiliki keunggulan tersendiri, seperti Gus Yahya dengan pengalaman kepemimpinan, Gus Rozin yang mengusung perubahan, Kiai Zulfa sebagai kader internal, dan Gus Kikin yang membawa mandat dari Jawa Timur.

Profil 4 Kandidat Caketum PBNU di Muktamar 2026, Siapa Paling Kuat?
Logo Muktamar PBNU ke-35 yang akan digelar pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. (FOTO AFUID)

Sebagai Ketua Umum PBNU periode 2021-2026, Gus Yahya menjadi figur dengan modal politik paling nyata karena memegang kendali organisasi selama lima tahun terakhir. Ia telah memastikan kembali maju dalam Muktamar Ke-35. Alasannya, masih ada sejumlah agenda strategis yang ingin dituntaskan pada periode kedua. "Saya memang hendak mencalonkan lagi karena, pertama, saya ingin menyelesaikan agenda-agenda yang sejak awal sudah saya bangun," ujarnya.

Program yang paling sering dikedepankan ialah transformasi digital tata kelola organisasi. Menurutnya, sistem tersebut sudah diterapkan hingga tingkat cabang dan ratusan Majelis Wakil Cabang (MWC), dengan target seluruh struktur organisasi terintegrasi dalam waktu kurang dari satu tahun. Dari sisi pengalaman, Gus Yahya memiliki rekam jejak panjang di PBNU. Ia pernah menjadi Katib Aam PBNU periode 2015-2021 sebelum terpilih sebagai Ketua Umum dalam Muktamar ke-34 di Lampung pada 2021 dengan raihan 337 suara dari 548 suara sah.

Putra KH Muhammad Cholil Bisri itu juga dikenal luas dalam diplomasi internasional. Namanya beberapa kali masuk daftar The 500 Most Influential Muslims berkat kiprahnya dalam dialog antaragama dan isu perdamaian global. Keunggulan terbesar Gus Yahya berada pada statusnya sebagai petahana yang memiliki jaringan kepengurusan nasional dan pengalaman memimpin PBNU selama satu periode. Namun, pada saat yang sama, ia juga menghadapi evaluasi atas berbagai kebijakan yang dijalankan selama lima tahun terakhir.

Gus Rozin, Putra Kiai Sahal yang Tawarkan Perubahan

Nama KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menjadi penantang terbaru setelah menyatakan siap berkontestasi. Putra Rais Aam PBNU periode 1999-2014 KH MA Sahal Mahfudh itu mengaku mengambil keputusan tersebut setelah melalui perenungan dan berdiskusi dengan sejumlah pengurus NU dari berbagai daerah. Menurutnya, Muktamar kali ini harus menjadi momentum mengembalikan kepercayaan warga Nahdliyin terhadap organisasi.

Ia menilai NU memerlukan evaluasi terhadap berbagai persoalan internal, mulai dari dinamika organisasi, kasus yang menyeret pesantren, polemik konsesi tambang, hingga menurunnya daya kritis organisasi. Meski demikian, Gus Rozin menegaskan keikutsertaannya bukan untuk mempertajam polarisasi, melainkan menawarkan alternatif kepemimpinan. Secara organisasi, Gus Rozin memiliki pengalaman panjang. Ia pernah menjadi pengurus PP IPNU, Departemen Hubungan Luar Negeri GP Ansor, Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU, Ketua RMI PBNU, hingga saat ini menjabat Katib Syuriyah PBNU.

Di bidang akademik, alumnus Pesantren Kwagean itu menyelesaikan pendidikan magister di Monash University Australia dan meraih gelar doktor dari UIN Walisongo Semarang. Modal utama Gus Rozin bukan hanya berasal dari rekam jejak organisasinya, tetapi juga faktor genealogis sebagai putra KH MA Sahal Mahfudh, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah NU modern.

Kiai Zulfa Mustofa, Kader Internal PBNU

Berbeda dengan kandidat lain, KH Zulfa Mustofa mengedepankan narasi kaderisasi internal. Wakil Ketua Umum PBNU itu menyatakan siap maju apabila memperoleh amanah dari pengurus wilayah dan cabang. Ia mengaku telah berproses di PBNU sejak 2010, mulai dari Ketua Lembaga Bahtsul Masail, Katib Syuriyah, hingga kini menjadi Wakil Ketua Umum. Pengalaman panjang tersebut menjadi bekal memahami kebutuhan organisasi.

Ia juga menekankan bahwa pemimpin NU harus memiliki dua kemampuan sekaligus, yakni mendalami ilmu agama dan memahami kebutuhan masyarakat. Dalam berbagai kesempatan, Kiai Zulfa juga menyampaikan pandangan bahwa kader yang telah mengemban jabatan strategis di pemerintahan maupun partai politik sebaiknya fokus pada tugas masing-masing. NU, menurutnya, membutuhkan figur yang bisa mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada organisasi.

Selain itu, ia dikenal sebagai ulama yang produktif menulis, khususnya dalam bidang fikih dan ushul fikih. Kiai Zulfa merupakan keturunan ulama besar Syekh Nawawi al-Bantani sekaligus keponakan Wakil Presiden ke-13 RI KH Ma'ruf Amin. Dukungan terhadap dirinya juga mulai muncul dari sejumlah pengurus wilayah dan cabang yang mendorongnya ikut dalam kontestasi Muktamar.

Gus Kikin, Bawa Mandat dari Jawa Timur

Nama KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin masuk dalam bursa bukan melalui deklarasi pribadi, melainkan karena memperoleh mandat resmi dari PWNU Jawa Timur bersama seluruh PCNU se-Jawa Timur. Keputusan tersebut diambil melalui rangkaian konsolidasi internal. Gus Kikin semula mengaku tidak memiliki keinginan mencalonkan diri, namun akhirnya menerima penugasan tersebut sebagai amanah organisasi.

Saat ini Gus Kikin menjabat Ketua PWNU Jawa Timur sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Ia merupakan cucu pendiri NU KH Hasyim Asy'ari atau dzurriyah pendiri Nahdlatul Ulama. Belakangan, ia juga aktif mengampanyekan pentingnya kembali kepada Qanun Asasi yang dirumuskan KH Hasyim Asy'ari sebagai fondasi dasar organisasi.

Menurut PWNU Jawa Timur, Gus Kikin dipilih bukan karena ambisi pribadi, tetapi karena dinilai memiliki pengalaman organisasi yang matang, mampu menjaga ukhuwah, serta memiliki karakter kepemimpinan yang teduh. Dukungan dari Jawa Timur menjadi modal politik yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Provinsi ini merupakan basis terbesar warga Nahdliyin sekaligus memiliki jumlah Pengurus Cabang NU yang sangat signifikan dalam konstelasi Muktamar.

Peta dukungan Muktamar PBNU selalu berjalan dinamis. Dukungan dari PWNU maupun PCNU dapat berubah seiring proses konsolidasi hingga menjelang pemungutan suara. Gus Yahya memiliki keuntungan sebagai petahana dengan jaringan nasional dan rekam jejak kepemimpinan. Gus Rozin membawa narasi perubahan sekaligus modal genealogis dari keluarga KH MA Sahal Mahfudh. Kiai Zulfa menawarkan figur kader internal yang tumbuh dari proses panjang di PBNU, sementara Gus Kikin memperoleh legitimasi awal melalui mandat solid dari PWNU dan PCNU se-Jawa Timur. (EER)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi