JAKARTA, AFU.ID — Pengembangan budi daya ikan tematik dengan sistem bioflok kini telah menjadi solusi perikanan air tawar yang produktif, efisien, dan ramah lingkungan.
Melansir website Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI), Minggu (24/5/2026), program tersebut telah memberi bukti nyata terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat berbasis perikanan budi daya.
Salah satunya adalah budi daya ikan tematik bioflok di Desa Mekarsari, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, yang terintegrasi dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).
Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budi Daya KKP RI, Tb Haeru Rahayu, menyampaikan bahwa sistem bioflok bukan sekadar teknologi budidaya.
Akan tetapi, telah menjadi sebuah inovasi yang mampu menjawab tantangan efisiensi usaha perikanan masa kini.
“Itu karena air hanya dimasukkan di awal hingga masa panen, penambahan dilakukan kalau memang diperlukan saja,” ungkap Tb Haeru Rahayu.
“Selain hemat pakan, sistem ini juga tidak butuh lahan luas dan efisien dalam penggunaan air,” sambungnya.
Ia menyatakan, program budidaya bioflok merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pada tahun 2025 kemarin, KKP RI telah mengembangkan program budi daya bioflok di 100 titik yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, dan Jawa Timur.
Selain itu, penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) menjadi kunci dalam menghasilkan produk perikanan yang berkualitas, sehat, aman konsumsi, dan memiliki daya saing di pasar.
“Program ini kami titipkan sebagai modal kerja awal masyarakat, semoga bisa terus berkembang dan bergulir secara mandiri untuk mendukung peningkatan ekonomi masyarakat serta mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG, red),” tutur Tb Haeru Rahayu.
Sementara itu, Sakti Wahyu Trenggono selaku Menteri KKP RI menjelaskan bahwa budi daya ikan bioflok sangat mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Kita juga berharap, hasilnya bisa terserap melalui kerja sama dengan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, red) sebagai bahan baku program MBG,” ujarnya.
“Semoga, kolaborasi ini mampu memperkuat rantai pasok protein ikan sekaligus membuka pasar yang lebih luas bagi pembudidaya lokal,” pungkasnya. (ADR)