JAKARTA, AFU.ID — Rencana Kementerian Hak Asasi Manusia (Kemenham) membentuk tim investigasi khusus untuk mengusut rentetan kasus kekerasan di Papua akhirnya tidak jadi direalisasikan. Langkah itu diurungkan setelah kepolisian menyatakan pembentukan tim tersebut tidak lagi dibutuhkan, mengingat penanganan di lapangan sudah berjalan.
Diketahui, awalnya Kemenham mempertimbangkan perlunya tim independen untuk membongkar sejumlah insiden penembakan, termasuk kematian pilot asal Amerika Serikat di Yahukimo dan seorang ibu hamil di Intan Jaya. Wakil Menteri HAM Mugiyanto membenarkan gagasan tersebut sempat mengemuka di internal kementeriannya. "Sebetulnya, sebelumnya kami memikirkan pembentukan tim investigasi diperlukan," ujarnya di Gedung Kementerian HAM dikutip Rabu (8/7/2026).
Namun setelah mendapat penjelasan teknis langsung dari kepolisian, pandangan itu berubah. Pihak kepolisian meyakinkan Kemenham proses penegakan hukum di lapangan telah dijalankan secara menyeluruh, sehingga tak ada urgensi lagi untuk membentuk tim baru dari luar institusi yang sudah menangani kasus tersebut. Sikap ini diperkuat oleh Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops) Komjen Pol Fadil Imran, yang menilai kehadiran tim tambahan dari pusat justru tidak dibutuhkan.
Ia beralasan, kerja sama taktis antara TNI dan Polri di wilayah konflik saat ini sudah terjalin erat. "Saya kira sependapat dengan Pak Wamen, tidak perlu membentuk tim tambahan. Karena kolaborasi antara TNI-Polri di lapangan dalam konteks penegakan hukum untuk mengidentifikasi pelakunya itu sudah berjalan dengan baik," kata Fadil.
Ia memaparkan, penanganan di lapangan kini ditangani langsung oleh Satgas Operasi Damai Cartenz bersama Satgas Penegakan Hukum (Gakkum), yang sudah berada di titik-titik rawan. Katanya, prioritas kepolisian saat ini bukan lagi soal kelembagaan, melainkan menuntaskan proses teknis di lapangan agar para pelaku bisa segera diseret ke meja hijau. Ketika ditanya soal target waktu penangkapan pelaku, mantan Kapolda Metro Jaya ini tidak memberi kepastian tenggat, namun menegaskan seluruh jajarannya sama-sama ingin kasus ini rampung secepatnya. "Kalau ditanya waktu, saya kira semua kita ingin cepat menemukannya," tegas Fadil.
Adapun sebagai informasi, dua insiden yang melatarbelakangi wacana ini terjadi hampir bersamaan awal Juli lalu. Pada Jumat pekan lalu personel Koops TNI Habema mengevakuasi jenazah Nicholas Goselin, pilot maskapai AMA yang tewas ditembak kelompok kriminal bersenjata (KKB) usai mendaratkan pesawat Pilatus Porter di Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Sementara itu, di Intan Jaya, Bupati Aner Maisini menyampaikan belasungkawa atas kematian Melkiana Dwitau, seorang ibu yang tengah mengandung janin berusia 32 minggu. Melkiana meregang nyawa di dalam honainya sendiri akibat terkena tembakan yang diduga peluru nyasar, tepatnya di Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, pada Kamis pekan lalu. (NAD)