Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Cadangan Beras Aman 8 Bulan, Distribusi Ketahanan Pangan Daerah Diperketat
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Ketahanan pangan menjadi pilar strategis yang menentukan kedaulatan sebuah negara di tengah ancaman krisis pasokan global. Fondasi yang kuat pada sektor agraria sangat krusial untuk mencegah kelaparan masif di masyarakat.
Menko Polkam RI, Djamari Chaniago mengunjungi Gudang Bulog Pulo Brayan Darat I, Medan, Sumut. (Foto: Kemenko Polkam RI)
JAKARTA, AFU.ID — Ketahanan pangan menjadi pilar strategis yang menentukan kedaulatan sebuah negara di tengah ancaman krisis pasokan global. Fondasi yang kuat pada sektor agraria sangat krusial untuk mencegah kelaparan masif di masyarakat.
Melansir website Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Polkam RI), Minggu (5/7/2026), pemerintah pusat tengah memperluas cetak lahan sawah secara masif. Langkah taktis itu diambil demi mewujudkan ambisi sebagai lumbung komoditas dunia.
Oleh karenanya, kemandirian pemenuhan komoditas dasar merupakan prasyarat mutlak yang tidak dapat ditawar oleh pengelola negara. Peningkatan kapasitas produksi dalam negeri ditargetkan mampu memutus ketergantungan terhadap pasokan impor luar negeri.
“Ini adalah salah satu program strategis Bapak Presiden yang menginginkan berdiri di atas kaki sendiri, dan kita sudah mencapai itu. Bahkan lebih dari itu, Presiden menginginkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia. Karenanya, kita bekerja keras memperluas lahan sawah,” ungkap Menteri Koordinator (Menko) Polkam RI, Djamari Chaniago.
Selanjutnya, pengawasan berkala dilakukan secara ketat pada infrastruktur penyimpanan logistik pokok di tingkat daerah. Peninjauan fisik di Gudang Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) Pulo Brayan Darat I bertujuan memastikan efisiensi manajemen distribusi cadangan beras.
“Saya sengaja melihat langsung cadangan beras, hal yang sangat membanggakan sekaligus mengagumkan adalah cadangan beras kita sangat baik. Rencana pendistribusiannya sangat baik, begitu juga rencana pemasukannya, ini menunjukkan sistem yang telah disiapkan berjalan dengan baik,” tuturnya.
Kendati demikian, jaminan ketersediaan bahan pangan utama harus dipastikan mampu mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat hingga berbulan-bulan ke depan. Ketepatan data inventarisasi komoditas menjadi penentu utama dalam meredam kepanikan pasar.
“Peninjauan ini meyakinkan saya bahwa cadangan beras sangat mencukupi. Masyarakat Sumatra Utara tidak perlu khawatir. Seluruh jajaran Bulog memahami betul fungsi dan tanggung jawab mereka. Cadangan di sini cukup hingga delapan bulan ke depan,” ujarnya.
Perluasan Lahan Sawah Memperkuat Ketahanan Pangan
Bagaimanapun juga, pengelolaan stok beras nasional merupakan amanah vital yang memengaruhi stabilitas pertahanan dan keamanan negara. Kelalaian dalam merawat komoditas pokok ini dapat memicu gejolak sosial yang merusak masa depan bangsa.
“Saya ingatkan kepada seluruh jajaran, kita memiliki tanggung jawab yang sangat vital. Tidak ada satu bangsa pun yang bisa hidup tanpa makanan. Karena itu, pangan sangat strategis dan sangat menentukan masa depan bangsa. Kita patut berbangga diberi amanah oleh negara untuk mengelola dan merawat beras yang menjadi tanggung jawab kita bersama,” ujar Djamari Chaniago.
Oleh sebab itu, apresiasi tinggi diberikan kepada para petugas lapangan yang konsisten menjaga ketersediaan pasokan di setiap wilayah administrasi. Pengondisian distribusi yang merata menjadi garansi terpenuhinya hak dasar seluruh warga sipil.
“Terima kasih kepada seluruh jajaran Bulog. Harapan rakyat adalah tetap tersedianya pangan di setiap daerah. Selamat bertugas dan syukurilah amanah yang diberikan negara ini,” pungkas Menko Djamari.
Pada dasarnya, keberhasilan sistem ketahanan pangan jangka panjang sangat bergantung pada transparansi tata kelola rantai pasok logistik di daerah. Tanpa adanya pengawasan ketat terhadap efisiensi gudang dan spekulasi harga, ambisi menjadikan Indonesia sebagai lumbung dunia hanya akan menjadi wacana di atas kertas sementara rakyat menghadapi bayang-bayang kelangkaan. (ADR)