JAKARTA, AFU.ID - Harga beras, sebagai pilar utama ketahanan pangan terus bergejolak. Per hari ini, Sabtu (2/5/2026), harga beras mengalami kenaikan secara merata di semua lini kualitas. Harga beras kualitas super I berada di kisaran harga Rp20.950 per liter atau naik sebesar 20,75%. Harga beras Medium I kini berada di kisaran harga Rp19.100 per kilogram (naik 18,63%) dan beras kualitas bawah berada di angka Rp17.700 per kilogram.
Kenaikan harga beras ini menunjukkan adanya anomali. Pasalnya, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional, menyatakan stok bahan pangan, khususnya beras aman. Nyatanya, seperti dilaporkan Disway TV, harga beras sudah mengalami kenaikan sepanjang dua minggu belakangan ini.
Diana, pedagang sembako di pasar Sekip Ujung, Kota Palembang mengatakan, mengatakan kenaikan harga beras sudah terjadi dalam dua minggu terakhir. Ia menyebut, beras premium kemasan 5 kilogram kini dijual seharga Rp74 ribu, naik dari sebelumnya Rp72 ribu.
“Harga mulai naik sejak dua minggu terakhir. Untuk beras premium 5 kilogram sekarang Rp74 ribu, sebelumnya Rp72 ribu. Kalau per kilogram sekarang Rp16 ribu, sebelumnya Rp15.500. Pembeli juga mulai mengurangi jumlah belanja karena harga naik,” ujar Diana.
Diana menjelaskan, kenaikan harga juga membuat perputaran barang menjadi lebih lambat. “Biasanya stok cepat habis, sekarang agak lama karena pembeli lebih berhati-hati. Ada yang beralih ke beras kualitas biasa,” tambahnya.
Kenaikan harga beras juga berdampak pada komoditas turunan, seperti tepung beras. Harga tepung beras yang sebelumnya Rp120 ribu per dus ukuran 10 kilogram, kini naik menjadi Rp135 ribu. “Semua ikut naik, termasuk tepung beras. Kami sebagai pedagang juga harus menyesuaikan harga dari distributor,” jelas Diana.
Sebelumnya, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini berada pada level tertinggi sepanjang sejarah sekaligus sangat aman untuk menghadapi potensi risiko iklim ke depan. Per 23 April lalu, stok beras ujar Amran mencapai 5 juta ton lebih.
"Ini pertama sepanjang sejarah. Ini hasil kerja keras kita semua, seluruh anak bangsa,” ujar Amran. Stok berlimpah ini, menurit dia, juga masih ditopang dengan serapan produksi dalam negeri oleh Bulog.
Bulog, kata Amran, juga telah melakukan perluasan kapasitas penyimpanan yang memanfaatkan gudang sewa untuk mengakomodasi lonjakan produksi. Di wilayah Karawang dan sekitarnya, kapasitas gudang sewa mencapai sekitar 102 ribu ton, dengan realisasi pengisian saat ini sekitar 80 ribu ton dan diproyeksikan penuh dalam dua minggu ke depan.
Sementara itu, secara nasional, kapasitas gudang pemerintah yang sebelumnya sekitar 3 juta ton diperkuat melalui tambahan gudang sewa hingga 2 juta ton. Bahkan, tambahan kapasitas sekitar 1 juta ton kembali disiapkan guna mengantisipasi peningkatan serapan.
Karena itu, kata Amran, menghadapi ancaman El Nino dalam 6 bulan ke depan, dimana diperkirakan akan terjadi kekeringan yang cukup estrem, stok nasional dinilai cukup aman. Terlebih untuk sektor lain seperi hotel, restoran dan katering (horeka) juga memiliki stok mencapai 12,5 juta ton ditambah standing crop (potensi padi yang masih ditanam di lahan) mencapai sekitar 11 juta ton." Totalnya sekitar 22,5 juta ton atau setara 11 bulan kebutuhan,” jelasnya.
Menurut Amran produksi dalam negeri tetap berjalan meskipun memasuki musim kering, terutama didukung oleh infrastruktur irigasi yang terus diperkuat. “Pada musim kering kita masih bisa produksi sekitar 2 juta ton per bulan karena irigasi berjalan. Dalam enam bulan bisa menghasilkan tambahan sekitar 6 sampai 12 juta ton atau setara sekitar empat bulan kebutuhan," jelasnya.
Jika stok beras aman, lantas mengapa harga beras justru melambung tinggi? Padahal, surplus produksi sekitar 2,62 juta ton pada Maret-April seharusnya membanting harga. Namun, kenaikan harga terjadi diduga ada hambatan dalam saluran distribusi.
Dalam beberapa kasus, anomali seperti ini, seperti dilaporkan Bloomberg Technoz, juga terjadi akibat adanya dominasi penggilingan (rice mill) besar. Penggilingan besar berani membeli gabah di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) — sekitar Rp7.400-Rp7.500/kg, sementara (HPP hanya Rp6.500. Ini membuat Bulog kesulitan menyerap gabah petani secara maksimal karena kalah harga.
Kemudian, kenaikan harga beras di tengah cadangan melimpah bisa juga terjadi karena adanya kenaikan biaya logistik dan kemasan. kenaikan ini dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia. Seperti dilaporkan Kontan, lonjakan harga bahan baku plastik (nafta) yang mencapai 30–80% per April 2026 memicu kenaikan harga beras dan minyak goreng, yang dikemas menggunakan bahan baku tersebut.
Kenaikan harga HPP di angka Rp6000-Rp6.500 dan kenaikan harga beras ini di sisi lain juga belum menjamin kesejahteraan petani. Pasalnya, petani juga diterus ditekan oleh kenaikan biaya produksi padi. Dilaporkan RRI, biaya usaha tani (pupuk non-subsidi, tenaga kerja, dan sewa lahan) naik sekitar Rp1.000/kg dibanding tahun lalu. Petani menganggap HPP Rp6.500 sudah tidak relevan dan menuntut kenaikan ke Rp7.000/kg agar benar-benar untung.
Pemerintah, melalui Mentan Amran Sulaiman berulang kali menyatakan Indonesia tidak perlu impor di 2026 karena stok melimpah. Namun di sisi lain, Indonesia baru saja menandatangani perjanjian tarif resiprokal atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat (AS) pada 19 Februari 2026 lalu.
Dalam dokumen ART tersebut, Indonesia "diwajibkan" mengimpor komoditas dari AS sebagai imbal balik tarif nol persen untuk produk tekstil kita. Produk tersebut mencakup daging (50 ribu ton), jagung, dan beras. Jika pemerintah mengeksekusi impor beras AS saat gudang Bulog penuh dan petani sedang panen, ini akan semakin menekan harga beras di tingkat etani.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia, Alfiansyah Bustami atau yang akrab disapa Komeng, mengatakan Badan Pangan nasional (Bapanas) perlu melakukan intervensi harga pangan di berbagai daerah. Intervensi ini bertujuan menjaga stabilitas harga serta memastikan keterjangkauan pangan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Komeng menegaskan pentingnya urusan pangan yang tidak boleh bermasalah karena menyangkut hajat hidup orang banyak. "Masyarakat Indonesia harus memiliki akses pangan yang baik, aman, dan terjangkau," ujar Komeng, seperti dikutip ANTARA.
Komeng menegaskan, masalah pangan adalah isu fundamental yang tidak bisa dianggap remeh. "Pangan urusan perut. Jangan main-main dengan (urusan) perut," tegasnya.
MAR