Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
202 Titik Kekeringan di Indonesia Tertangani, Ketahanan Pangan jadi Prioritas Selama Musim Kemarau
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Pemerintah Indonesia telah menangani 202 dari 294 titik kekeringan yang terjadi selama musim kemarau 2026, dengan fokus pada pemenuhan kebutuhan air untuk sektor pertanian dan permukiman. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) RI telah mengimplementasikan berbagai upaya, seperti pemompaan air, normalisasi saluran irigasi, dan kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mencari potensi air bawah tanah, guna menjaga ketahanan pangan nasional. Selain itu, operasi modifikasi cuaca juga dilaksanakan untuk memastikan ketersediaan air bagi irigasi, sehingga diharapkan produktivitas petani tetap terjaga meskipun menghadapi tantangan kekeringan.
Ilustrasi kekeringan di Indonesia. (Foto: Magnific/standret)
JAKARTA, AFU.ID — Kekeringan di Indonesia mulai memberi tekanan terhadap sektor pertanian dan permukiman selama musim kemarau 2026. Data kekeringan hingga akhir Juli 2026 tercatat terjadi di 294 titik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Pemerintah Republik Indonesia (RI) pun mempercepat penyediaan sumber air demi menjaga ketahanan pangan dan memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Melansir website Kementerian Pekerjaan Umum (PU) RI, Minggu (2/8/2026), 202 titik atau 68,7% dari total lokasi terdampak telah tertangani. Rinciannya, sebanyak 180 titik berada di daerah irigasi dan 114 lainnya adalah kawasan permukiman. Sedangkan, 92 titik masih dalam proses penanganan agar dampak musim kemarau tak semakin meluas.
Selain mempercepat penanganan, Kementerian PU RI memprioritaskan daerah irigasi karena berkaitan langsung dengan produktivitas pertanian nasional. Dari total 180 titik kekeringan di kawasan irigasi, sebanyak 160 titik telah tertangani dan 20 lainnya masih dalam proses penyelesaian. Harapannya, langkah itu dapat menjaga pasokan air bagi lahan pertanian pada musim tanam 2026.
Berbagai upaya darurat juga terlaksana melalui pemompaan air dari sungai menuju areal persawahan, normalisasi saluran irigasi, pemasangan pipa, pembangunan saluran irigasi tersier, serta peninggian tanggul menggunakan sandbag. Seluruh langkah itu bertujuan agar pendistribusian air tetap menjangkau lahan yang terdampak kekeringan. Kementerian PU RI juga menargetkan produktivitas petani tetap terjaga meski curah hujan mengalami penurunan.
Kementerian PU RI bahkan menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memanfaatkan teknologi isotop dalam menelusuri potensi air bawah tanah. Pemanfaatan itu merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memaksimalkan inovasi dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Pencarian sumber air baru diharapkan menjadi solusi jangka menengah menghadapi ancaman kekeringan.
“Yang kita kejar sekarang adalah sebanyak-banyaknya mendapatkan sumber air bawah tanah dan mengalirkannya ke sawah-sawah terdekat. Kita harus menjaga agar produktivitas petani tidak turun meskipun dalam kondisi kekeringan,” ungkap Menteri PU RI, Dody Hanggodo.
Kekeringan di Indonesia Diantisipasi Lewat Mitigasi Air
Selain sektor pertanian, Kementerian PU RI mempercepat penanganan kekeringan di kawasan permukiman melalui pendistribusian bantuan air bersih menggunakan truk tangki. Dari 114 lokasi terdampak, sebanyak 42 telah selesai tertangani dan 72 lainnya masih dalam proses penanganan. Langkah itu agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau 2026 berlangsung.
Kementerian PU RI turut bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta II, serta Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). Mereka berkolaborasi menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Bendungan Jatiluhur, Kamis (30/7/2026) lalu. Strategi itu bertujuan menjaga ketersediaan tampungan air bagi kebutuhan irigasi dan menjadi bagian dari pengelolaan sumber daya pada musim kemarau.
Dody Hanggodo menyatakan, keberlanjutan irigasi menjadi faktor penting dalam menjaga produksi pangan nasional di tengah kekeringan. “Operasi Modifikasi Cuaca adalah salah satu cara kita memastikan bahwa air tetap mengalir ke sawah-sawah petani. Terutama, para petani yang berada di sekitar Bendungan Jatiluhur,” tutur Menteri PU RI ini.
Berbagai langkah mitigasi tersebut menunjukkan penanganan kekeringan di Indonesia tak hanya berorientasi pada respons darurat, melainkan penguatan ketahanan air nasional. Optimalisasi teknologi, infrastruktur irigasi, dan penyediaan air bersih menjadi faktor penting menekan dampak musim kemarau terhadap masyarakat dan sektor pertanian. Konsistensi kebijakan itu akan menentukan kemampuan Indonesia menjaga stabilitas pangan di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem. (ADR)