AFU.ID, JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) dan Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota (Pemprov DKI) Jakarta resmi menjadikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai investasi strategis untuk melahirkan generasi Indonesia Emas 2045.
Kedua pihak bersepakat bahwa program tersebut tak boleh hanya menyasar wilayah dengan tingkat pendidikan rendah.
Akan tetapi, penerapannya harus tetap relevan di wilayah dengan capaian pendidikan yang relatif tinggi, termasuk DKI Jakarta.
Melansir website BGN pada Selasa, 10 Februari 2026, rata-rata anak di DKI Jakarta yang lahir dari orang tua dengan tingkat pendidikan yang hampir mencapai 12 tahun.
Angka tersebut lebih tinggi dari beberapa provinsi lain, seperti Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Jateng), dan Jawa Timur (Jatim).
Secara umum, rata-rata lama sekolah penduduk DKI Jakarta tercatat sebesar 11,8 tahun.
Kepala BGN, Dadan Hindayana menyampaikan bahwa sekalipun tingkat pendidikan masyarakat DKI Jakarta relatif tinggi, upaya pemenuhan gizi tetap harus terlaksana secara berkelanjutan.
Dadan Hindayana lantas mencontohkan praktik yang diterapkan di sejumlah negara.
“Seperti di Jepang yang sudah 100 tahun, demikian juga India dan Brasil, meskipun pendidikan sudah tinggi, program pemenuhan gizi tetap diperlukan, ini menunjukkan peningkatan yang luar biasa,” ungkapnya.
“Kita bisa melihat pengukuran di Jepang, setelah dilakukan pengukuran dari tahun 1926 menuju 2024, terjadi peningkatan tinggi badan rata-rata anak muda sebesar 10 sentimeter,” katanya lagi.
“Pada tahun 1926, rata-rata tinggi penduduk Jepang hampir 159,5 sentimeter, sedangkan pada tahun 2024 rata-rata mencapai 170 sentimeter,” sambungnya.
Dadan Hindayana bahkan meyakini bahwa faktor genetik dari orang tua bukan faktor tunggal yang memengaruhi perkembangan fisik anak.
Ia menyebut faktor lain yang turut berpengaruh, bahkan sangat menentukan adalah pemenuhan gizi optimal sejak dini.
“Genetik yang baik, diikuti pemenuhan gizi yang seimbang, saya kira akan menghasilkan generasi yang sehat, cerdas, kuat, dan ceria,” tuturnya.
Terakhir, Dadan Hindayana menyatakan bahwa anak yang tumbuh sehat pada masa kanak-kanak, akan memberikan dampak besar terhadap tingkat produktivitas di masa dewasa.
Anak dengan asupan gizi seimbang saat dewasa cenderung lebih produktif, memiliki pendapatan yang lebih tinggi.
Bahkan, mampu melahirkan generasi yang kualitasnya lebih baik ketimbang generasi sebelumnya.