AFU.ID, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan komitmennya untuk memperkuat orkestrasi riset dan inovasi nasional agar berdampak nyata bagi daya saing Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Orkestrasi ini dipandang penting agar ekosistem pengetahuan bergerak sinkron dari hulu ke hilir-mulai dari riset dasar, riset terapan, hingga hilirisasi ke industri.
Pesan tersebut mengemuka dalam The General Assembly Meeting dan The 9th International Symposium of JSPS Alumni Association of Indonesia (JAAI) yang diselenggarakan pada 9-10 Februari 2026 di Kawasan Sains Sarwono Prawiroharjo, Jalan Gatot Subroto Nomor 10, Jakarta.
Kepala BRIN, Arif Satria menegaskan relevansi tema kegiatan, ‘The Roles of JAAI and PPI Towards a Golden Indonesia 2045’ dengan agenda nasional penguatan kapasitas inovasi dan daya saing.
Menurutnya, tema tersebut mencerminkan peran strategis jejaring diaspora riset dan komunitas peneliti dalam mengonsolidasikan kolaborasi lintas negara, mempercepat hilirisasi hasil riset, serta menyiapkan talenta sains yang adaptif terhadap kebutuhan industri dan tantangan global.
“Riset dan inovasi perlu menjembatani laboratorium dengan kebutuhan industri agar ide dapat bertransformasi menjadi produk dan solusi bernilai tambah,” ujar Arif dalam rangkaian pembukaan acara pada Senin, 9 Februari 2026.
Arif menambahkan, orkestrasi kebijakan riset menjadi instrumen strategis untuk memastikan alur inovasi berjalan efektif dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat diplomasi sains Indonesia dengan mitra global, termasuk Jepang.
Pendekatan ini menempatkan BRIN sebagai pengungkit ekosistem yang mengintegrasikan pendanaan riset, penguatan infrastruktur, serta kemitraan strategis agar hasil riset lebih cepat diadopsi dan memberi dampak nyata.
Penguatan jejaring riset lintas negara menjadi akselerator orkestrasi inovasi. Melalui JAAI dan PPI, komunitas peneliti diaspora berperan sebagai jembatan kolaborasi Indonesia-Jepang.
Ketua JAAI, Puspita Lisdiyanti melaporkan partisipasi lebih dari 200 peserta dari beragam latar-peneliti, dosen, mahasiswa, hingga profesional-yang merepresentasikan lebih dari 20 perguruan tinggi, perusahaan, dan institusi riset.
Sejak 2017, JAAI konsisten menyelenggarakan simposium internasional dan pada edisi ini memperluas keterlibatan mitra industri untuk mempercepat translasi hasil riset ke kebutuhan nyata.
Kolaborasi dengan PPI memperkuat orkestrasi lintas sektor agar agenda riset responsif terhadap tantangan nasional.
Dimensi diplomasi sains mempertegas kolaborasi internasional sebagai pengungkit inovasi.
Perwakilan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, Terumasa Niioka menyoroti pentingnya pertukaran sumber daya manusia sebagai fondasi kolaborasi jangka panjang antara pemerintah, akademia, dan industri kedua negara.
“Jejaring alumni dan mobilitas talenta menjadi jembatan kolaborasi Indonesia-Jepang di bidang sains dan teknologi, sekaligus fondasi strategis untuk memperkuat kapasitas STEM guna menopang inovasi, pertumbuhan ekonomi jangka panjang, dan peningkatan kesejahteraan publik,” ujar Terumasa Niioka.
Dari sisi dukungan programatik, Japan Society for the Promotion of Science (JSPS) memperkuat orkestrasi kolaborasi riset ASEAN-Jepang.
Director of JSPS Bangkok Office, Yoshio Otani menjelaskan peran JSPS sebagai lembaga pendanaan riset inti di bawah MEXT Jepang yang mendukung riset dari dasar hingga terapan.
“Kami memperluas skema fellowship internasional bagi peneliti muda ASEAN untuk memperkuat jejaring riset dengan Jepang, sekaligus mendorong mobilitas peneliti, pertukaran gagasan lintas disiplin, dan akses pendanaan sebagai katalis percepatan kualitas riset serta pembuka jalan bagi kolaborasi strategis berorientasi dampak,” ujar Yoshio Otani.
Sementara itu, agenda hilirisasi riset menjadi benang merah lintas sesi.
Strategi lab to market menegaskan perlunya jalur translasi yang sistematis agar temuan universitas cepat diadopsi industri dan melahirkan startup berbasis sains.
Praktik inovasi hijau-seperti pengembangan model waste-to-energy-menunjukkan bagaimana riset terapan menjawab tantangan keberlanjutan sekaligus membuka peluang ekonomi sirkular.
Kerangka ini sejalan dengan prioritas BRIN untuk mendorong riset berorientasi solusi atas tantangan pembangunan.
Penguatan talenta riset menjadi fondasi keberlanjutan ekosistem inovasi. Praktik pendidikan tinggi masa depan-berbasis kolaborasi industri, pembelajaran lintas disiplin, dan pengalaman riset internasional-krusial untuk menyiapkan SDM riset yang adaptif terhadap dinamika teknologi dan pasar global.
Penguatan pipeline talenta menentukan kecepatan transformasi ide menjadi dampak sekaligus meningkatkan kualitas R&D nasional.
Melalui orkestrasi riset–inovasi yang terintegrasi, BRIN memantapkan perannya sebagai pengungkit ekosistem nasional serta memfokuskan kemitraan global pada proyek berdampak, mobilitas peneliti, dan kolaborasi industri demi kontribusi riset yang berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.