JAKARTA AFU.ID — Banjir yang melanda Tangerang Raya menjadi indikasi belum optimalnya respons penanganan lintas wilayah. Kondisi ini menunjukkan perlunya kolaborasi yang lebih cepat dan terukur antara Banten dan DKI Jakarta dalam mengatasi persoalan banjir yang terus berulang.
Gubernur Banten, Andra Soni, menegaskan bahwa penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara parsial karena dampaknya saling terhubung antarwilayah. Ia menekankan pentingnya penguatan kerja sama dengan DKI Jakarta untuk menghasilkan solusi jangka panjang.
"Banten dan DKI Jakarta itu sejatinya saling membutuhkan. Oleh karena itu, kolaborasi ini harus terus kita perkuat," ujar Gubernur Andra dalam keterangannya di Tangerang Rabu.
Gubernur Banten Andra Soni didampingi Bupati Tangerang Maesyal Rasyid dan Wali Kota Tangerang Sachrudin menemui Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam penanganan banjir serta pengelolaan sampah.
Dalam diskusi tersebut, para kepala daerah sepakat untuk berkolaborasi menyelesaikan persoalan lintas batas. Salah satu strategi penanganan banjir yang disepakati adalah pembangunan sejumlah tandon bersama untuk menampung debit air hujan.
"Melalui tandon-tandon itu, air bakunya nanti bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat," tambahnya.
Sementara penanganan sampah, wilayah Tangerang Raya berkomitmen melakukan pengelolaan sampah secara mandiri dalam program PSEL. "Nantinya sampah organik akan diolah menjadi produk bernilai ekonomis yang melibatkan masyarakat setempat," katanya
Bupati Tangerang Maesyal Rasyid mengatakan pihaknya akan melakukan optimalisasi aset lahan milik Pemprov DKI Jakarta yang berada di Kecamatan Legok untuk kawasan permukiman, pertanian, dan tandon pengendali banjir.
Sebab, dari total lahan yang ada, baru 1,4 hektare yang digunakan untuk Lembaga Pemasyarakatan dan sisanya akan dimanfaatkan sesuai peruntukan yakni 38 hektare untuk pertanian dan tandon serta 47 hektare untuk permukiman. (ANT/RAI)