JAKARTA, AFU.ID – Anggaran latihan dasar kemiliteran (latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih menjadi sorotan setelah lima peserta meninggal selama program berlangsung. Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin menyebut biaya latsarmil mencapai sekitar Rp30 juta per peserta, atau sekitar dua pertiga dari total anggaran pelatihan sebesar Rp45 juta per orang.
Menurut TB Hasanuddin, pelatihan selama 45 hari tersebut terdiri dari 30 hari latihan militer dan 15 hari pembelajaran substansi koperasi. Dari total biaya sekitar Rp45 juta per peserta, Rp30 juta dialokasikan untuk kegiatan latsarmil, sementara Rp15 juta digunakan untuk pembekalan manajerial.
Dengan jumlah peserta gelombang pertama mencapai 35.476 orang, total biaya untuk komponen latihan militer diperkirakan dapat melampaui Rp1 triliun jika dihitung secara merata. TB Hasanuddin menilai alokasi anggaran tersebut perlu dievaluasi karena porsi terbesar justru digunakan untuk latihan militer, bukan untuk penguatan kemampuan pengelolaan koperasi.
“Sekitar Rp30 juta digunakan untuk pelaksanaan latihan militer, sedangkan Rp15 juta untuk pembelajaran substansi koperasi,” ujar TB Hasanuddin dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).
Sorotan terhadap anggaran ini muncul setelah lima peserta dilaporkan meninggal dunia di sejumlah satuan pendidikan dalam rentang waktu 17 hingga 26 Juni 2026. Menyikapi hal tersebut, Kementerian Pertahanan kemudian mengubah pendekatan kegiatan dari latihan dasar kemiliteran menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menyatakan bahwa materi taktis dan teknis militer akan dikurangi dalam program tersebut. Selain itu, kegiatan menembak tidak lagi menjadi bagian dari pelatihan bagi calon manajer koperasi.
TB Hasanuddin menegaskan bahwa pelatihan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih seharusnya difokuskan pada kemampuan yang relevan dengan tugas pengelolaan koperasi, seperti tata kelola keuangan, manajemen usaha, pemasaran, serta pemberdayaan masyarakat.
Ia juga menilai bahwa pengurangan atau penghapusan porsi latihan militer dapat membuat program lebih efisien tanpa menghilangkan aspek pembentukan disiplin dan tanggung jawab bagi para calon pengelola koperasi. (RHU)