AFU.ID, JAKARTA - Efisiensi air sawah menjadi strategi bagi sektor pertanian Indonesia dalam menghadapi ancaman musim kemarau yang tidak menentu.
Melansir website Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) pada Senin, 30 Maret 2026, penerapan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) yang menghemat penggunaan irigasi hingga 20% menjadi solusi.
Metode pengairan berselang tersebut memungkinkan petani mengatur pemberian air secara terukur, tanpa mengurangi produktivitas tanaman padi di lapangan.
Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa pengelolaan air adalah faktor penentu keberlanjutan produksi pangan nasional hingga kini.
“Pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam keberhasilan produksi pertanian,” ungkap Mentan Amran di Jakarta.
“Ketersediaan air yang terencana dan efisien sangat menentukan dalam menekan risiko kekeringan serta menjaga produktivitas,” sambungnya.
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BSIP) Kementan RI, Fadjry Djufry menyatakan bahwa metode AWD merupakan inovasi adaptif untuk menjawab tantangan nyata di sawah.
Yang mana, Pemerintah RI telah mulai mengadaptasi teknologi hasil pengembangan International Rice Research Institute (IRRI) tersebut sejak tahun 2013 lalu.
“Teknologi AWD merupakan solusi adaptif dalam menghadapi keterbatasan air,” tutur Fadjry Djufry.
“Dengan pengaturan air yang terukur, petani dapat menjaga kondisi tanaman tetap optimal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggenangan terus-menerus, sehingga lebih siap menghadapi risiko kekeringan,” tambahnya.
Penerapan efisiensi air sawah berjalan dengan memantau kelembapan tanah menggunakan pipa paralon sederhana yang berfungsi layaknya alat ukur tekanan cairan.
Petani akan memberikan air kembali hanya ketika muka air tanah turun hingga 15 sentimeter di bawah permukaan lahan produksi.
“Teknologi ini dapat menghemat penggunaan air irigasi 17 sampai 20 persen,” ujar Fadjry Djufry.
Selain menghemat sumber daya, metode AWD dapat memperbaiki struktur perakaran tanaman sehingga lebih kuat menghadapi cekaman kekeringan.
Implementasi teknik tersebut juga berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca, menjadikannya bagian penting dari strategi pertanian cerdas iklim.
Harapannya, optimalisasi efisiensi air sawah mampu memperluas cakupan layanan irigasi ke lahan pertanian lainnya yang sebelumnya sering mengalami kekurangan pasokan.